Terapi Antiretroviral (ARV) bertujuan untuk menekan replikasi virus HIV sehingga jumlah virus (viral load) menjadi tidak terdeteksi, meningkatkan jumlah sel CD4, dan memperbaiki kualitas hidup pasien. ARV diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa obat, yang dikenal sebagai regimen ARV, untuk mencegah resistensi obat dan mencapai efektivitas maksimal.
Pemilihan regimen ARV didasarkan pada beberapa faktor, termasuk riwayat pengobatan sebelumnya, kondisi klinis pasien, hasil pemeriksaan laboratorium, potensi interaksi obat, serta ketersediaan obat.
Pemilihan regimen ARV didasari oleh beberapa prinsip penting:
Regimen lini pertama adalah pilihan utama untuk pasien yang baru didiagnosis HIV dan belum pernah mendapatkan terapi ARV sebelumnya. Pilihan ini didasarkan pada efektivitas, profil efek samping, dan kemudahan penggunaan.
| Komponen NRTI | Komponen Non-NRTI / INSTI | Keterangan |
| Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF) + Lamivudine (3TC) atau Emtricitabine (FTC) | Dolutegravir (DTG) | Regimen pilihan utama (preferred regimen) saat ini di banyak panduan, termasuk Indonesia. Memiliki efektivitas tinggi, profil efek samping baik, dan resistensi rendah. Sering tersedia dalam bentuk FDC (TLD). |
| Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF) + Lamivudine (3TC) atau Emtricitabine (FTC) | Efavirenz (EFV) | Regimen alternatif yang masih banyak digunakan, terutama jika DTG tidak tersedia atau ada kontraindikasi. Perlu diperhatikan efek samping neuropsikiatri (mimpi buruk, pusing) dan potensi teratogenik pada trimester pertama kehamilan (kontroversi). |
| Zidovudine (AZT) + Lamivudine (3TC) | Efavirenz (EFV) | Regimen alternatif, digunakan jika TDF tidak dapat ditoleransi (misal: gangguan ginjal) atau kontraindikasi. AZT dapat menyebabkan anemia dan supresi sumsum tulang. |
| Zidovudine (AZT) + Lamivudine (3TC) | Nevirapine (NVP) | Regimen alternatif, NVP memerlukan titrasi dosis awal untuk mengurangi risiko hepatotoksisitas dan ruam kulit. Tidak direkomendasikan untuk pasien dengan CD4 tinggi (wanita >250 sel/mm3, pria >400 sel/mm3) karena risiko hepatotoksisitas. |
Regimen lini kedua diberikan kepada pasien yang mengalami kegagalan terapi lini pertama. Kegagalan terapi didefinisikan secara klinis, imunologis, atau virologis. Umumnya, regimen lini kedua melibatkan penggantian kelas obat atau penggunaan PI yang di-boost.
| Komponen NRTI | Komponen PI (Boosted) | Keterangan |
| Dua NRTI baru (misal: Zidovudine (AZT) + Lamivudine (3TC) jika lini 1 menggunakan TDF; atau Tenofovir (TDF) + Lamivudine (3TC) jika lini 1 menggunakan AZT) | Lopinavir/ritonavir (LPV/r) | Regimen pilihan utama lini kedua. LPV/r adalah PI yang di-boost oleh ritonavir untuk meningkatkan bioavailabilitasnya. Efektif dalam menekan virus bahkan pada kasus resistensi NNRTI. |
| Dua NRTI baru | Atazanavir/ritonavir (ATV/r) | Regimen alternatif lini kedua. ATV/r juga merupakan PI yang di-boost. Memiliki profil efek samping yang baik, namun dapat menyebabkan hiperbilirubinemia tidak langsung (ikterus tanpa gangguan fungsi hepar). |
| Dua NRTI baru | Darunavir/ritonavir (DRV/r) | Digunakan pada kasus kegagalan lini kedua atau jika terdapat resistensi luas terhadap PI lain. Memiliki barrier to resistance yang tinggi. |
Beberapa kondisi memerlukan penyesuaian regimen ARV:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi