Penyakit ini disebabkan oleh Virus Rabies, yang termasuk dalam genus Lyssavirus dan famili Rhabdoviridae. Virus ini adalah virus RNA berbentuk peluru.
Hewan penular utama rabies (HPR) meliputi:
Proses patofisiologi rabies dimulai setelah inokulasi virus:
Masa inkubasi rabies bervariasi, umumnya 3 minggu hingga 3 bulan, namun bisa lebih pendek (
Gejala klinis terbagi menjadi beberapa fase:
Penegakan diagnosis rabies memerlukan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi laboratorium.
Pencegahan pasca pajanan (PEP) adalah kunci untuk mencegah rabies setelah gigitan hewan penular. Tatalaksana harus segera dilakukan.
Indikasi PEP (Berdasarkan Kategori Pajanan, WHO/Kemenkes RI):
| Kategori | Jenis Pajanan | Tatalaksana |
|---|---|---|
| Kategori I | Jilatan pada kulit intak (tanpa luka lecet/terbuka) | Tidak perlu PEP |
| Kategori II | Gigitan atau cakaran tanpa luka terbuka, jilatan pada luka lecet/terbuka | Hanya VAR |
| Kategori III | Gigitan atau cakaran tunggal/multipel yang menembus kulit (berdarah), jilatan pada mukosa (mata, hidung, mulut), luka di area sensitif (kepala, leher, jari, genital) | VAR + SAR |
Catatan Penting: Jika hewan penular dapat diobservasi dan tetap sehat selama 10-14 hari, pemberian PEP (VAR dan/atau SAR) dapat dihentikan.
Pencegahan pra-pajanan (PrEP) direkomendasikan untuk kelompok berisiko tinggi:
Jadwal vaksinasi PrEP umumnya adalah hari 0, 7, dan 21 atau 28. Vaksinasi ini penting untuk memberikan kekebalan dasar dan mempermudah tatalaksana jika terjadi pajanan di kemudian hari.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi