Pasien dengan kriteria berikut tidak dianjurkan untuk berpuasa dan harus tetap mempertahankan asupan nutrisi normal:
Hipoglikemia berat dalam 3 bulan sebelum Ramadan: Menunjukkan kontrol glikemik yang tidak stabil dan peningkatan risiko hipoglikemia berulang selama puasa.
Hipoglikemia berulang atau hypoglycemia unawareness: Pasien tidak dapat merasakan gejala awal hipoglikemia (tremor, keringatan, palpitasi), sehingga akan tertunda dalam mengenali dan mengatasi kondisi berbahaya ini. Ini adalah kontraindikasi mutlak untuk puasa.
HbA1c > 8%: Menunjukkan kontrol glikemik buruk dalam 3 bulan terakhir, yang berarti risiko hiperglikemia berat selama puasa sangat tinggi.
Riwayat ketoasidosis dalam 3 bulan terakhir: Menunjukkan insulin yang tidak adekuat dan risiko KAD akan sangat tinggi jika puasa.
Riwayat koma hiperglikemia hiperosmolar dalam 3 bulan terakhir: Kondisi darurat yang berhubungan dengan hiperglikemia berat ekstrem.
Sakit berat (demam, diare, muntah): Infeksi meningkatkan kebutuhan insulin dan risiko dehidrasi, kombinasi yang berbahaya selama puasa.
Kehamilan atau menyusui: Kebutuhan nutrisi dan insulin berfluktuasi, sulit diprediksi, dan puasa dapat membahayakan ibu dan janin/bayi.
Dialisis kronis: Gangguan ginjal ekstrem mengubah metabolisme insulin dan nutrisi secara dramatis.
Konseling harus mencakup:
Tipe dan mekanisme kerja insulin: Pasien dan keluarga harus memahami dengan jelas berapa lama insulin mulai bekerja, kapan puncak kerjanya, dan berapa lama durasinya. Pengetahuan ini esensial untuk menyesuaikan waktu pemberian insulin dengan pola makan puasa.
Monitoring glukosa darah: Pasien harus terlatih menggunakan glukometer dan memahami target glukosa yang aman selama puasa.
Nutrisi dan pemilihan makanan: Apa yang dimakan saat sahur dan berbuka sangat mempengaruhi fluktuasi glukosa darah.
Aktivitas fisik: Puasa Ramadan sering disertai aktivitas tambahan (tarawih, aktivitas sosial), yang mempengaruhi kebutuhan insulin.
Manajemen sakit: Bagaimana menangani jika pasien sakit atau infeksi muncul selama puasa.
Tata laksana hipoglikemia: Pasien dan keluarga harus tahu apa yang harus dilakukan jika glukosa darah turun dengan gejala-gejala hipoglikemia.
Selama puasa Ramadan dengan regimen ini:
Kurangi total dosis harian insulin menjadi 70-85% dari total dosis harian normal, atau
Kurangi dosis basal menjadi 60-70% dari dosis basal normal
Contoh: Jika seorang pasien biasanya menerima insulin basal 15 IU per hari, selama puasa dapat dikurangi menjadi 9-10 IU per hari (60-70% dari 15 IU).
Gunakan insulin analog kerja cepat (seperti insulin aspart atau lispro) saat makan. Insulin ini bekerja dalam 10-15 menit dan cocok untuk menyesuaikan dengan pola makan puasa. Jika tidak tersedia, alternatifnya adalah insulin kerja menengah atau pendek, meskipun kurang ideal.
Hitung karbohidrat pada setiap makan (sahur dan iftar) untuk menentukan dosis insulin bolus yang tepat. Semakin akurat perhitungan karbohidrat, semakin akurat dosis insulin yang diberikan.
Regimen ini lebih sederhana dan sering digunakan di negara-negara berkembang:
Berikan satu dosis (insulin kerja pendek + menengah) saat iftar dengan dosis yang setara dengan pagi biasanya
Berikan dosis kecil insulin kerja pendek saat sahur, biasanya 0,1-0,2 IU/kg berat badan
Regimen Tiga Dosis (lebih terstruktur)
Berikan dua dosis insulin kerja pendek, satu saat iftar dan satu saat sahur, dengan dosis yang disesuaikan dengan jumlah karbohidrat pada masing-masing makan
Berikan satu dosis insulin kerja menengah sebelum tidur untuk menutupi kebutuhan insulin basal selama malam hingga sahur
Lakukan pemeriksaan glukosa darah secara teratur pada waktu-waktu kritis:
Sebelum iftar: Ini adalah waktu terakhir pasien puasa. Jika glukosa sudah rendah di sini, risiko hipoglikemia akan tinggi setelah makan.
3 jam setelah iftar: Insulin yang diberikan saat iftar telah bekerja maksimal. Pemeriksaan ini mendeteksi apakah dosis insulin sesuai atau perlu disesuaikan.
Sebelum sahur: Ini menunjukkan apakah kontrol glukosa baik sepanjang malam sebelumnya.
2 jam setelah sahur: Memastikan insulin yang diberikan saat sahur bekerja dengan baik dan tidak menyebabkan hipoglikemia.
Hipoglikemia:
Glukosa darah < 70 mg/dL, atau
Adanya gejala hipoglikemia (tremor, keringatan, jantung berdebar, kebingungan, pandangan kabur)
Hiperglikemia berat:
Glukosa darah > 300 mg/dL, atau
Glukosa darah > 250 mg/dL dengan keton urin positif
Untuk memahami pengelolaan puasa pada diabetes tipe-1, ingat tiga hal utama:
Identifikasi pasien yang tidak boleh puasa dengan mengecek kriteria risiko tinggi
Sesuaikan insulin dan nutrisi berdasarkan regimen insulin yang digunakan dan pola makan puasa
Monitor ketat dengan pemeriksaan glukosa pada waktu-waktu kritial dan hentikan puasa jika ada tanda hipoglikemia atau hiperglikemia berat dengan keton positif