Psoriasis

Psoriasis bukan sekadar ruam kulit biasa, lho! Ini adalah penyakit autoimun kronis yang seringkali bikin mahasiswa kedokteran pusing saat UKMPPD karena manifestasinya yang beragam dan tatalaksananya yang kompleks. Yuk, kita kupas tuntas mulai dari patofisiologi, klasifikasi, hingga strategi penanganan terkini agar kamu makin pede menghadapi soal-soal sulit!

Definisi

Psoriasis adalah penyakit inflamasi kulit kronis, residif, dan imun-mediated yang ditandai oleh plak eritematosa berbatas tegas dengan skuama tebal berwarna keperakan.

Kondisi ini disebabkan oleh disregulasi sistem imun yang mengakibatkan hiperproliferasi keratinosit dan inflamasi pada kulit.

Etiologi & Patogenesis

Etiologi psoriasis bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi antara faktor genetik, imunologi, dan lingkungan.

  • Faktor Genetik: Terdapat predisposisi genetik yang kuat, dengan beberapa gen yang terkait, terutama alel HLA-Cw6.
  • Faktor Imunologi: Psoriasis adalah penyakit autoimun yang dimediasi oleh sel T. Sel T aktivasi (terutama Th1 dan Th17) melepaskan sitokin pro-inflamasi (misalnya TNF-α, IL-17, IL-23) yang memicu proliferasi keratinosit dan inflamasi.
  • Faktor Lingkungan/Pemicu:
    • Trauma kulit (Fenomena Koebner): Lesi psoriasis dapat muncul pada area kulit yang mengalami trauma.
    • Infeksi: Terutama infeksi Streptococcus (sering memicu psoriasis gutata).
    • Obat-obatan: Beta-blocker, lithium, antimalaria, NSAID, kortikosteroid sistemik (saat penarikan).
    • Stres psikologis.
    • Merokok dan alkohol.
    • Obesitas.

Klasifikasi

Psoriasis dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi lesi dan distribusinya:

  • Psoriasis Vulgaris (Plaque Psoriasis): Bentuk paling umum (sekitar 80-90%). Ditandai plak eritematosa berbatas tegas, tertutup skuama keperakan tebal, terutama pada area ekstensor (siku, lutut, sakrum, kulit kepala).
  • Psoriasis Gutata: Lesi papul atau plak kecil (<1 cm) berbentuk tetesan air, sering muncul setelah infeksi streptokokus pada saluran napas atas.
  • Psoriasis Inversa (Flexural Psoriasis): Lesi muncul pada lipatan kulit (aksila, lipat paha, inframammae), sering tanpa skuama karena kelembaban.
  • Psoriasis Pustulosa: Ditandai pustul steril pada kulit eritematosa. Dapat terlokalisasi (misalnya pada telapak tangan dan kaki, Psoriasis Pustulosa Palmoplantar) atau menyebar luas (Psoriasis Pustulosa Generalisata/Von Zumbusch) yang merupakan kondisi serius dan sering disertai demam, malaise, leukositosis.
  • Psoriasis Eritrodermik: Bentuk paling parah, melibatkan >90% permukaan tubuh dengan eritema difus dan skuama. Berisiko tinggi komplikasi sistemik (hipotermia, dehidrasi, gagal jantung).
  • Artritis Psoriatik: Psoriasis kulit disertai inflamasi sendi, dapat mengenai sendi perifer, sendi spinal, atau sendi distal jari.

Manifestasi Klinis

  • Lesi Kulit:

    Plak eritematosa, berbatas tegas, dengan skuama tebal berwarna keperakan. Predileksi di area ekstensor (siku, lutut, sakrum, kulit kepala). Skuama dapat dikerok (tanda lilin) dan meninggalkan bintik perdarahan (tanda Auspitz).

  • Fenomena Koebner: Munculnya lesi psoriasis pada area kulit yang mengalami trauma (garukan, luka).
  • Perubahan Kuku: Sering ditemukan pada psoriasis. Manifestasinya meliputi pitting (lekukan-lekukan kecil), oil drop sign (area kekuningan di bawah lempeng kuku), onikolisis (lepasnya kuku dari dasar kuku), dan subungual hiperkeratosis.
  • Gatal (Pruritus): Bervariasi, dari ringan hingga berat.
  • Gejala Sistemik: Dapat menyertai psoriasis pustulosa generalisata atau eritrodermik (demam, malaise, menggigil).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis psoriasis sebagian besar didasarkan pada gambaran klinis yang khas dan riwayat penyakit.

  • Anamnesis: Riwayat lesi kulit kronis, residif, riwayat keluarga, faktor pemicu.
  • Pemeriksaan Fisik: Identifikasi lesi khas psoriasis (plak eritematosa berskuama keperakan, tanda Auspitz, fenomena Koebner, perubahan kuku).
  • Pemeriksaan Penunjang (bila diperlukan):
    • Biopsi Kulit: Konfirmasi diagnosis, terutama pada kasus atipikal. Gambaran histopatologi khas: akantosis (penebalan epidermis), parakeratosis (retensi nukleus di stratum korneum), pemanjangan rete ridges, infiltrat inflamasi di dermis papilaris, dan mikroabses Munro (kumpulan neutrofil di stratum korneum).
    • Pemeriksaan Laboratorium: Tidak spesifik untuk psoriasis, namun dapat membantu menyingkirkan diagnosis banding atau menilai komplikasi (misalnya pemeriksaan ANA untuk lupus, kultur tenggorok untuk streptokokus).

Diagnosis Banding

Psoriasis memiliki beberapa diagnosis banding, terutama pada presentasi atipikal. Berikut perbandingan beberapa kondisi:

KondisiPsoriasisDermatitis SeboroikTinea KorporisLichen Planus
Lokasi PredileksiEkstensor (siku, lutut, kulit kepala), sakrumLipatan, kulit kepala, wajah (area sebasea)Badan, ekstremitasFleksor pergelangan tangan, pergelangan kaki, mukosa
Morfologi LesiPlak eritematosa, skuama keperakan tebal, berbatas tegasPlak eritematosa kekuningan, skuama berminyak, batas tidak terlalu tegasPlak eritematosa anular, tepi aktif (inflamasi lebih jelas), central clearingPapul poligonal, ungu, pruritik, rata (flat-topped), striae Wickham
GatalBervariasi, sering adaSering adaSering adaSangat gatal
Tanda KhasAuspitz sign, Koebner phenomenon, pitting kukuTidak adaPemeriksaan KOH positif (hifa)Striae Wickham (pada lesi mukosa), Koebner phenomenon juga bisa

Tatalaksana

Tatalaksana psoriasis disesuaikan dengan luasnya lesi, tipe psoriasis, dan respons pasien terhadap terapi sebelumnya.

  • Tatalaksana Topikal (untuk lesi terlokalisasi atau ringan):
    • Kortikosteroid Topikal: Lini pertama. Potensi sedang hingga sangat kuat (misalnya klobetasol propionat, betametason dipropionat). Penggunaan jangka panjang berisiko atrofi kulit.
    • Analog Vitamin D (Calcipotriol/Kalsipotriol): Mengatur proliferasi dan diferensiasi keratinosit. Dapat dikombinasikan dengan kortikosteroid.
    • Retinoid Topikal (Tazarotene): Mengurangi hiperproliferasi keratinosit.
    • Tar Batubara (Coal Tar): Anti-inflamasi dan antiproliferatif.
    • Asam Salisilat: Keratolitik, membantu mengangkat skuama.
    • Emolien/Pelembap: Penting untuk menjaga hidrasi kulit dan mengurangi skuama.
  • Fototerapi (untuk psoriasis sedang hingga berat):
    • UVB (Narrowband UVB atau Broadband UVB): Menekan aktivitas sel T dan proliferasi keratinosit.
    • PUVA (Psoralen + UVA): Psoralen diminum oral atau dioleskan topikal, diikuti paparan UVA. Lebih efektif namun dengan risiko jangka panjang (kanker kulit, penuaan dini).
  • Tatalaksana Sistemik (untuk psoriasis sedang hingga berat, atau yang tidak responsif terhadap terapi lain):
    • Metotreksat: Imunosupresan, menghambat proliferasi sel. Efektif untuk psoriasis luas dan artritis psoriatik. Pantau fungsi hati dan ginjal.
    • Siklosporin: Imunosupresan kuat, cepat bereaksi. Digunakan untuk kasus berat. Risiko nefrotoksisitas dan hipertensi.
    • Asitretin: Retinoid oral. Efektif untuk psoriasis pustulosa dan eritrodermik. Teratogenik kuat.
    • Obat Biologik: Menargetkan jalur imun spesifik. Digunakan untuk psoriasis sedang-berat yang tidak responsif terhadap terapi standar atau pada kasus artritis psoriatik. Contoh:
      • Penghambat TNF-α: Adalimumab, Etanercept, Infliximab.
      • Penghambat IL-12/23: Ustekinumab.
      • Penghambat IL-17: Secukinumab, Ixekizumab.
      • Penghambat PDE4 (oral): Apremilast.

Komplikasi

Psoriasis tidak hanya memengaruhi kulit, tetapi juga terkait dengan komplikasi sistemik:

  • Artritis Psoriatik: Inflamasi sendi, dapat menyebabkan kerusakan sendi permanen.
  • Sindrom Metabolik: Risiko lebih tinggi untuk obesitas, hipertensi, dislipidemia, dan resistensi insulin.
  • Penyakit Kardiovaskular: Peningkatan risiko infark miokard, stroke, dan aterosklerosis.
  • Gangguan Psikologis: Depresi, kecemasan, penurunan kualitas hidup akibat stigma dan gejala.
  • Keganasan: Peningkatan risiko limfoma dan kanker kulit non-melanoma (terutama pada pasien yang menerima fototerapi atau imunosupresan).

Prognosis & Edukasi

Psoriasis adalah penyakit kronis yang bersifat residif dan remisi. Tidak ada penyembuhan total, namun gejalanya dapat dikelola dengan baik.

  • Edukasi Pasien:
    • Pentingnya kepatuhan terhadap terapi.
    • Identifikasi dan hindari faktor pemicu (stres, trauma, infeksi, obat-obatan tertentu).
    • Pentingnya menjaga kelembaban kulit dengan emolien.
    • Gaya hidup sehat (diet seimbang, olahraga teratur, berhenti merokok dan alkohol).
    • Dukungan psikologis untuk mengatasi dampak sosial dan emosional penyakit.
  • Pemantauan: Pasien perlu pemantauan rutin untuk menilai respons terapi, mendeteksi efek samping obat, dan skrining komplikasi sistemik.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds