Prolaps Tali Pusat

Prolaps tali pusat adalah salah satu kegawatdaruratan obstetri yang paling ditakuti, mengancam nyawa janin secara langsung! Kondisi ini membutuhkan respons cepat dan tepat dari dokter untuk mencegah komplikasi serius. Jangan sampai keliru langkah di UKMPPD, yuk pahami seluk-beluk prolaps tali pusat mulai dari definisi hingga tatalaksananya yang krusial!

Definisi

Prolaps tali pusat adalah kondisi di mana tali pusat berada di depan bagian terendah janin atau di sampingnya, setelah ketuban pecah.

Hal ini menyebabkan tali pusat rentan terhadap kompresi antara bagian terendah janin dan dinding panggul ibu, mengganggu aliran darah ke janin dan menyebabkan hipoksia.

Klasifikasi

Prolaps tali pusat dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis utama:

  • Prolaps tali pusat nyata (Overt Prolapse): Tali pusat terlihat atau teraba di vagina atau di luar introitus vagina setelah ketuban pecah. Ini adalah bentuk yang paling mudah didiagnosis.
  • Prolaps tali pusat tersembunyi (Occult Prolapse): Tali pusat terkompresi di samping bagian terendah janin, tetapi tidak terlihat atau teraba di vagina. Diagnosis sering ditegakkan berdasarkan pola denyut jantung janin yang abnormal.

Etiologi & Faktor Risiko

Kondisi ini terjadi ketika ada ruang antara bagian terendah janin dan panggul ibu saat ketuban pecah, memungkinkan tali pusat turun mendahului janin.

Faktor risiko meliputi:

  • Malpresentasi janin: Presentasi bokong, lintang, atau oblik.
  • Prematuritas: Janin yang lebih kecil memiliki ruang lebih besar untuk tali pusat.
  • Polihidramnion: Jumlah cairan ketuban yang berlebihan dapat menyebabkan aliran cairan yang deras saat pecah ketuban.
  • Kehamilan ganda: Terutama saat persalinan bayi kedua.
  • Bagian terendah janin belum masuk panggul (unengaged presenting part): Terutama pada multipara.
  • Prosedur medis: Amniotomi artifisial, versi luar, pemasangan elektroda scalp janin, pemasangan kateter intrauterin.
  • Plasenta previa atau plasenta letak rendah.
  • Tali pusat panjang.

Patofisiologi

Ketika tali pusat prolaps, ia dapat terkompresi antara bagian terendah janin dan panggul ibu atau dinding vagina.

Kompresi ini menyebabkan oklusi parsial atau total pembuluh darah tali pusat (arteri dan vena), yang mengakibatkan:

  • Penurunan aliran darah ke janin.
  • Penurunan pasokan oksigen dan nutrisi.
  • Penumpukan produk limbah.

Akibatnya, janin mengalami hipoksia dan asidosis, yang jika berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen atau kematian janin.

Manifestasi Klinis

Gejala utama seringkali adalah perubahan mendadak pada pola denyut jantung janin (DJJ).

  • Bradikardia janin: Penurunan DJJ secara tiba-tiba dan menetap (

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

  • Pemeriksaan fisik:
    • Inspeksi visual: Jika tali pusat terlihat di introitus vagina.
    • Pemeriksaan vagina: Teraba tali pusat yang berdenyut (atau tidak berdenyut, mengindikasikan kematian janin) di depan atau di samping bagian terendah janin.
  • Pemantauan denyut jantung janin (DJJ):
    • Bradikardia janin persisten atau deselerasi variabel yang berat dan berulang setelah ketuban pecah sangat mencurigakan.

Penting: Setiap kali ketuban pecah (spontan atau artifisial), lakukan pemeriksaan vagina untuk menyingkirkan prolaps tali pusat.

Tatalaksana

Prolaps tali pusat adalah kegawatdaruratan obstetri yang membutuhkan intervensi segera untuk menyelamatkan janin.

Tujuan utama: Mengurangi kompresi tali pusat dan melahirkan janin secepat mungkin.

Langkah-langkah tatalaksana:

  1. Panggil bantuan segera: Libatkan tim obstetri, anestesi, dan neonatologi.
  2. Kurangi kompresi tali pusat:
    • Dorong bagian terendah janin ke atas melalui pemeriksaan vagina (dengan tangan pemeriksa tetap di dalam vagina) untuk mengangkatnya dari tali pusat.
    • Posisi ibu: Trendelenburg, posisi lutut-dada (knee-chest position), atau modifikasi Sims untuk mengurangi tekanan pada tali pusat.
    • Isi kandung kemih ibu dengan 500-700 mL salin normal (melalui kateter Foley) untuk mengangkat bagian terendah janin (jika dorongan manual tidak efektif atau tidak memungkinkan selama transfer).
  3. Pertahankan aliran darah tali pusat:
    • Jangan mencoba mendorong tali pusat kembali ke dalam uterus.
    • Jika tali pusat terlihat di luar vagina, lindungi dari dingin dan manipulasi berlebihan dengan membungkusnya dalam kasa steril yang dibasahi salin hangat.
  4. Oksigenasi ibu: Berikan oksigen 100% melalui masker non-rebreather.
  5. Tokolitik: Pertimbangkan pemberian tokolitik (misalnya, Terbutalin subkutan) untuk mengurangi kontraksi uterus jika ada, memberikan waktu untuk persiapan operasi.
  6. Persiapan persalinan darurat:
    • Seksio sesarea adalah metode persalinan pilihan dalam sebagian besar kasus prolaps tali pusat karena memberikan kelahiran tercepat dan mengurangi risiko hipoksia janin.
    • Persalinan pervaginam hanya dipertimbangkan jika persalinan diperkirakan sangat cepat dan janin sudah engaged di panggul dengan dilatasi serviks lengkap.
  7. Informasi dan Edukasi: Jelaskan kondisi dan rencana tindakan kepada pasien dan keluarga.

Komplikasi

Sebagian besar komplikasi terkait dengan hipoksia janin akibat kompresi tali pusat.

  • Asfiksia perinatal: Kekurangan oksigen saat lahir.
  • Kerusakan neurologis permanen: Cerebral palsy, keterlambatan perkembangan.
  • Kematian janin.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds