Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah gangguan kejiwaan yang dapat berkembang pada beberapa individu setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis yang mengancam jiwa atau integritas fisik, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Peristiwa traumatis ini dapat berupa paparan langsung, menyaksikan secara langsung, mengetahui peristiwa yang terjadi pada keluarga dekat/teman, atau paparan berulang terhadap detail aversif dari peristiwa traumatis (misalnya petugas gawat darurat).
Penyebab utama PTSD adalah paparan terhadap peristiwa traumatis. Namun, tidak semua individu yang mengalami trauma akan mengembangkan PTSD. Beberapa faktor risiko meliputi:
Patofisiologi PTSD melibatkan perubahan neurobiologis kompleks pada otak. Area otak yang terlibat meliputi:
Selain itu, terdapat disregulasi pada aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA), yang menyebabkan respons stres abnormal, serta perubahan pada sistem neurotransmiter seperti norepinefrin, serotonin, dan GABA.
Menurut DSM-5, gejala PTSD dikelompokkan menjadi empat klaster utama. Gejala harus berlangsung lebih dari 1 bulan dan menyebabkan penderitaan klinis yang signifikan atau gangguan fungsi.
Diagnosis PTSD ditegakkan berdasarkan kriteria DSM-5. Pasien harus memenuhi:
Penting untuk membedakan PTSD dari kondisi lain yang memiliki gejala serupa:
| Kondisi | Perbedaan Kunci dari PTSD |
| Acute Stress Disorder (ASD) | Gejala serupa PTSD, namun durasi gejala 3 hari hingga 1 bulan setelah trauma. Jika lebih dari 1 bulan, diagnosis berubah menjadi PTSD. |
| Adjustment Disorder | Reaksi terhadap stresor (bukan selalu peristiwa traumatis yang mengancam jiwa), gejala tidak memenuhi kriteria PTSD, dan biasanya mereda dalam 6 bulan setelah stresor atau konsekuensinya berakhir. |
| Major Depressive Disorder (MDD) | Mungkin ada suasana hati negatif, anhedonia, gangguan tidur, namun tidak ada gejala intrusi atau penghindaran spesifik trauma. MDD bisa komorbid dengan PTSD. |
| Generalized Anxiety Disorder (GAD) | Kecemasan dan khawatir berlebihan yang persisten, tidak terbatas pada peristiwa traumatis atau isyarat terkait trauma. |
| Panic Disorder | Serangan panik mendadak dan berulang, seringkali tanpa pemicu yang jelas terkait trauma. |
Tatalaksana PTSD meliputi pendekatan psikoterapi dan farmakologis, seringkali kombinasi keduanya.
Jika tidak ditangani, PTSD dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk:
Prognosis PTSD bervariasi. Sekitar sepertiga individu dengan PTSD dapat pulih sepenuhnya. Intervensi dini dan tatalaksana yang tepat sangat meningkatkan kemungkinan pemulihan.
Faktor-faktor yang terkait dengan prognosis yang lebih baik meliputi dukungan sosial yang kuat, tidak adanya komorbiditas psikiatri lain, dan tidak adanya riwayat trauma masa kecil.
Edukasi pasien dan keluarga tentang PTSD sangat penting untuk mengurangi stigma dan mendorong kepatuhan terhadap pengobatan.
Pencegahan primer sulit dilakukan karena melibatkan paparan trauma. Namun, intervensi dini seperti debriefing psikologis (meskipun efektivitasnya masih diperdebatkan) atau terapi kognitif perilaku yang berfokus pada trauma setelah kejadian akut dapat membantu mencegah perkembangan PTSD pada individu berisiko tinggi.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi