Polycythemia Vera (PV) & Myelodysplastic Syndromes (MDS)

Polycythemia Vera (PV) dan Myelodysplastic Syndromes (MDS) adalah dua kondisi penting dalam hematologi yang sering keluar di UKMPPD, meski memiliki patofisiologi dan manifestasi klinis yang berbeda. Keduanya merupakan kelainan klonal sel punca hematopoietik yang memengaruhi produksi sel darah, namun dengan hasil yang kontras: PV dengan produksi berlebih, MDS dengan produksi inefektif. Yuk, kuasai perbedaan kunci dan penatalaksanaannya!

Definisi

Polycythemia Vera (PV) adalah neoplasma mieloproliferatif (NMP) kronis yang ditandai oleh produksi berlebihan sel darah merah (eritrosit), leukosit, dan trombosit, terutama eritrosit, akibat proliferasi klonal sel punca hematopoietik. Kondisi ini menyebabkan peningkatan massa sel darah merah dan viskositas darah.

Myelodysplastic Syndromes (MDS) adalah sekelompok kelainan klonal sel punca hematopoietik yang ditandai oleh hematopoiesis inefektif, displasia pada satu atau lebih lini sel mieloid, dan risiko tinggi progresi menjadi leukemia mieloid akut (LMA).

Etiologi & Patofisiologi

  • Polycythemia Vera (PV):
    • Penyebab utama adalah mutasi somatik akuisita pada gen JAK2. Sekitar 95% pasien PV memiliki mutasi JAK2 V617F, dan sisanya memiliki mutasi pada ekson 12 JAK2.
    • Mutasi ini menyebabkan aktivasi konstitutif jalur JAK-STAT, membuat sel-sel hematopoietik hipersensitif terhadap faktor pertumbuhan (misalnya eritropoietin), sehingga terjadi proliferasi seluler yang tidak terkontrol, terutama eritroid, independen dari kadar eritropoietin.
  • Myelodysplastic Syndromes (MDS):
    • MDS adalah kelainan klonal sel punca hematopoietik yang sering dikaitkan dengan kelainan sitogenetik kompleks (misalnya, del(5q), monosomi 7, trisomi 8).
    • Patofisiologinya melibatkan proliferasi sel punca yang abnormal, apoptosis yang meningkat pada sel-sel hematopoietik di sumsum tulang, dan kegagalan maturasi, yang mengakibatkan hematopoiesis inefektif dan sitopenia di darah tepi meskipun sumsum tulang seringkali hiperseluler.
    • Lingkungan mikro sumsum tulang juga berperan dalam patogenesisnya.

Manifestasi Klinis

  • Polycythemia Vera (PV):
    • Gejala terkait hiperviskositas: Sakit kepala, pusing, tinitus, gangguan penglihatan, kelemahan, paresthesia.
    • Gejala terkait pembesaran organ: Splenomegali (paling sering), hepatomegali.
    • Gejala spesifik: Pruritus aquagenic (gatal setelah kontak dengan air), eritromelalgia (nyeri terbakar dan kemerahan pada ekstremitas), gout (peningkatan produksi asam urat).
    • Komplikasi: Trombosis (arteri atau vena, termasuk stroke, infark miokard, trombosis vena dalam, trombosis vena porta), perdarahan (akibat disfungsi trombosit).
  • Myelodysplastic Syndromes (MDS):
    • Gejala umumnya terkait dengan sitopenia:
      • Anemia (pucat, kelelahan, dispnea, palpitasi) adalah yang paling umum.
      • Trombositopenia (perdarahan, petechiae, ekimosis).
      • Neutropenia (infeksi berulang, demam).
    • Seringkali asimtomatik pada tahap awal dan terdiagnosis secara kebetulan saat pemeriksaan darah rutin.
    • Splenomegali atau hepatomegali jarang terjadi.

Penegakan Diagnosis & Pemeriksaan Penunjang

  • Polycythemia Vera (PV) - Kriteria Diagnosis WHO 2016/2022:
    • Kriteria Mayor:
      1. Hemoglobin >16.5 g/dL (pria) atau >16.0 g/dL (wanita), ATAU Hematokrit >49% (pria) atau >48% (wanita), ATAU Peningkatan massa sel darah merah.
      2. Biopsi sumsum tulang menunjukkan hiperselularitas untuk usia, proliferasi triliniage (eritroid, granulositik, megakaryositik) dengan megakaryosit pleomorfik matur.
      3. Adanya mutasi JAK2 V617F atau mutasi JAK2 ekson 12.
    • Kriteria Minor:
      • Kadar eritropoietin serum subnormal.
    • Diagnosis ditegakkan jika memenuhi 3 kriteria mayor ATAU 2 kriteria mayor pertama + kriteria minor.
    • Pemeriksaan penunjang lainnya: Hitung darah lengkap (peningkatan Hb, Hct, leukosit, trombosit), LDH meningkat, asam urat meningkat.
  • Myelodysplastic Syndromes (MDS) - Kriteria Diagnosis WHO:
    • Sitopenia persisten pada satu atau lebih lini sel di darah tepi.
    • Displasia pada ≥1 lini sel mieloid (eritroid, granulositik, megakaryositik) pada sumsum tulang atau darah tepi (≥10% sel dari lini tersebut menunjukkan displasia).
    • Jumlah blas di sumsum tulang <20% dan di darah tepi <1%.
    • Adanya kelainan sitogenetik klonal yang khas untuk MDS (misalnya, del(5q), monosomi 7) dapat mengkonfirmasi diagnosis meskipun displasia minimal.
    • Eksklusi penyebab lain sitopenia dan displasia (misalnya, defisiensi vitamin B12/folat, toksisitas obat, infeksi).
    • Pemeriksaan penunjang: Hitung darah lengkap (sitopenia, makro-ovalosit, pseudo-Pelger-Huët anomaly), biopsi sumsum tulang (selularitas bervariasi, displasia, peningkatan blas <20%), sitogenetika, FISH, analisis molekuler.

Klasifikasi MDS (WHO 2016/2022)

Klasifikasi MDS berdasarkan morfologi, jumlah blas, dan kelainan sitogenetik. Ini penting untuk prognosis dan tatalaksana:

  • MDS dengan Displasia Lini Tunggal (MDS-SLD): Displasia pada satu lini sel, blas

Tatalaksana

  • Polycythemia Vera (PV):
    • Tujuan: Mencegah komplikasi trombotik, mengendalikan gejala, mengurangi risiko transformasi.
    • Flebotomi: Terapi lini pertama untuk mengurangi massa sel darah merah (target Hct
  • Myelodysplastic Syndromes (MDS):
    • Tatalaksana disesuaikan dengan risiko pasien (berdasarkan IPSS-R atau IPSS) dan gejala.
    • Terapi Suportif:
      • Transfusi darah (eritrosit, trombosit) untuk mengatasi anemia dan perdarahan.
      • Agen perangsang eritropoiesis (ESA) seperti eritropoietin, untuk anemia pada risiko rendah dengan kadar EPO endogen rendah.
      • Faktor pertumbuhan granulosit (G-CSF) untuk neutropenia berat dengan infeksi berulang.
      • Terapi kelasi besi jika ada kelebihan besi akibat transfusi berulang.
    • Terapi Modifikasi Penyakit:
      • Lenalidomide: Sangat efektif untuk MDS dengan del(5q) terisolasi.
      • Agen hipometilasi (HMA): Azacitidine, Decitabine. Untuk pasien risiko menengah-2 atau tinggi, dapat memperpanjang harapan hidup dan menunda progresi ke LMA.
      • Kemoterapi intensif: Mirip dengan LMA, dipertimbangkan jika terjadi transformasi ke LMA atau pada MDS risiko sangat tinggi.
      • Transplantasi Sel Punca Hematopoietik Allogenik (HSCT): Satu-satunya terapi kuratif, dipertimbangkan untuk pasien muda dengan MDS risiko tinggi yang memenuhi syarat.

Komplikasi & Prognosis

  • Polycythemia Vera (PV):
    • Komplikasi utama: Trombosis (penyebab utama morbiditas dan mortalitas), perdarahan.
    • Transformasi: Dapat berkembang menjadi mielofibrosis pasca-PV (post-PV MF) atau leukemia mieloid akut (LMA), meskipun jarang.
    • Prognosis: Dengan tatalaksana yang tepat, harapan hidup pasien PV umumnya baik, mendekati populasi umum.
  • Myelodysplastic Syndromes (MDS):
    • Komplikasi utama: Infeksi (akibat neutropenia), perdarahan (akibat trombositopenia), kelebihan besi (akibat transfusi berulang).
    • Transformasi: Risiko progresi menjadi leukemia mieloid akut (LMA) adalah komplikasi yang paling ditakuti dan penyebab kematian utama.
    • Prognosis: Sangat bervariasi, dinilai menggunakan sistem skor prognostik seperti IPSS-R (International Prognostic Scoring System-Revised), yang mempertimbangkan jumlah blas, sitogenetika, dan sitopenia. Pasien risiko rendah dapat hidup bertahun-tahun, sementara risiko tinggi memiliki harapan hidup yang lebih pendek.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds