Obstruksi nasal atau hidung tersumbat adalah keluhan umum yang sering ditemui dalam praktik klinis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi ringan hingga kelainan struktural yang memerlukan intervensi. Dua penyebab utama yang sering menjadi fokus pembahasan adalah polip nasi dan deviasi septum. Memahami perbedaan dan penanganan keduanya sangat krusial bagi mahasiswa kedokteran, terutama untuk persiapan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
Polip nasi adalah massa lunak, non-kanker, berwarna pucat atau keabu-abuan, yang berasal dari mukosa hidung atau sinus paranasal. Polip terbentuk akibat edema kronis dan inflamasi mukosa.
Etiologi polip nasi bersifat multifaktorial, seringkali berkaitan dengan peradangan kronis pada saluran napas atas. Faktor risiko meliputi:
Inflamasi kronis menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular dan akumulasi cairan interseluler di lamina propria mukosa hidung/sinus. Edema ini menyebabkan mukosa prolaps dan membentuk massa polipoid.
Gejala utama polip nasi adalah obstruksi nasal dan gangguan penciuman.
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Secara umum, polip nasi dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi:
Tujuan tatalaksana adalah mengurangi ukuran polip, meredakan gejala, dan mencegah kekambuhan.
Deviasi septum adalah kelainan bentuk atau posisi septum nasi yang menyebabkan penyempitan salah satu atau kedua rongga hidung. Septum nasi adalah dinding tulang rawan dan tulang yang membagi rongga hidung menjadi dua bagian.
Penyebab deviasi septum dapat bervariasi:
Gejala deviasi septum terutama berkaitan dengan obstruksi aliran udara.
Diagnosis deviasi septum ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Tatalaksana tergantung pada tingkat keparahan gejala dan dampaknya terhadap kualitas hidup pasien.
Membedakan polip nasi dan deviasi septum sangat penting dalam UKMPPD karena penanganan dan prognosisnya berbeda. Berikut adalah perbandingan kunci:
| Fitur | Polip Nasi | Deviasi Septum |
| Definisi | Massa lunak, non-kanker, dari mukosa hidung/sinus akibat inflamasi kronis. | Kelainan bentuk septum nasi (tulang rawan/tulang) yang menyebabkan penyempitan. |
| Etiologi Utama | Inflamasi kronis (rinosinusitis, alergi, asma). | Trauma, perkembangan tidak merata. |
| Tampilan Rinoskopi | Massa pucat/keabu-abuan, licin, translusen, tidak nyeri saat disentuh probe. | Septum bengkok, menonjol, mungkin ada spur/crest, mukosa normal. |
| Lokasi Umum | Meatus media, etmoid (bilateral), atau antrokoanal (unilateral). | Dinding medial rongga hidung, bisa anterior atau posterior. |
| Gangguan Penciuman | Sangat umum (hiposmia/anosmia). | Jarang, kecuali obstruksi sangat berat. |
| Tatalaksana Utama | Kortikosteroid (topikal/sistemik), FESS. | Septoplasti. |
| Kekambuhan | Tinggi, terutama jika penyebab inflamasi tidak terkontrol. | Jarang kambuh setelah bedah yang berhasil. |
Poin UKMPPD yang perlu diingat:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi