Pitiriasis Versikolor (PV), atau yang lebih dikenal masyarakat awam sebagai Panu, adalah infeksi jamur superfisial kronis pada stratum korneum epidermis yang disebabkan oleh jamur genus Malassezia.
Kondisi ini ditandai dengan bercak makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi yang berskuama halus, seringkali asimtomatik atau disertai gatal ringan.
Penyebab utama PV adalah jamur Malassezia spp., terutama Malassezia globosa, Malassezia furfur, dan Malassezia sympodialis. Jamur ini merupakan flora normal kulit, namun dalam kondisi tertentu dapat menjadi patogen.
Faktor-faktor yang memicu perubahan dari saprofit menjadi patogen antara lain:
Malassezia spp. yang merupakan flora normal kulit akan berproliferasi secara berlebihan di stratum korneum ketika kondisi lingkungan mendukung (misalnya, kelembaban dan suhu tinggi, kulit berminyak).
Jamur ini memproduksi asam dikarboksilat, seperti asam azelaat, yang memiliki efek sitotoksik terhadap melanosit, menghambat tirosinase, dan mengganggu produksi melanin. Inilah yang menyebabkan munculnya makula hipopigmentasi.
Pada kasus hiperpigmentasi, terjadi peningkatan ukuran melanosom dan peningkatan melanin di dalam keratinosit, mungkin sebagai respons inflamasi ringan atau karena efek jamur yang belum sepenuhnya dipahami.
Skuama halus terjadi akibat gangguan proses deskuamasi normal stratum korneum oleh jamur.
Lesi berupa makula dengan berbagai ukuran, berbatas tegas atau tidak tegas, dan seringkali bergabung membentuk bercak yang lebih besar (koalesen).
Warna lesi bervariasi, bisa hipopigmentasi (putih), hiperpigmentasi (cokelat muda hingga gelap), atau eritematosa (merah muda). Inilah mengapa disebut "versikolor" (bermacam warna).
Permukaan lesi ditutupi skuama halus seperti sisik, yang akan lebih jelas terlihat jika digores (finger nail sign atau Zilversmith's sign).
Lokasi predileksi meliputi area yang kaya kelenjar sebasea:
Gejala umumnya asimtomatik atau disertai gatal ringan, terutama saat berkeringat.
Diagnosis PV ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas.
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk konfirmasi:
Penting untuk membedakan PV dari kondisi kulit lain yang memiliki gambaran serupa, terutama pada lesi hipopigmentasi.
| Kondisi | Gambaran Khas Pitiriasis Versikolor | Gambaran Khas Diagnosis Banding |
| Vitiligo | Makula hipo/hiperpigmentasi, skuama halus. | Makula depigmentasi total (putih susu), berbatas tegas, tanpa skuama, tidak ada fluoresensi Lampu Wood. |
| Tinea Korporis | Makula hipo/hiperpigmentasi, skuama halus. | Lesi anular (cincin) dengan tepi aktif (eritema, skuama, vesikel), sentral cenderung sembuh, gatal dominan. KOH: hifa panjang bersepta. |
| Pitiriasis Alba | Makula hipopigmentasi, skuama halus. | Makula hipopigmentasi ringan, batas tidak tegas, sering pada wajah anak-anak, riwayat dermatitis atopik. Tidak ada fluoresensi Lampu Wood. |
| Dermatitis Seboroik | Makula hiperpigmentasi/eritematosa, skuama. | Eritema dan skuama kekuningan berminyak, predileksi area seboroik (kulit kepala, alis, lipatan nasolabial, dada). Gatal bisa lebih dominan. |
| Lues II (Sifilis Sekunder) | Makula hiperpigmentasi/eritematosa. | Ruam makulopapular difus, sering melibatkan telapak tangan dan kaki, tanpa gatal. Disertai gejala sistemik. |
Tujuan tatalaksana adalah eradikasi jamur dan mencegah kekambuhan.
1. Topikal: Digunakan untuk kasus ringan hingga sedang, atau sebagai terapi pemeliharaan.
2. Sistemik: Diindikasikan untuk kasus yang luas, rekuren, atau resisten terhadap terapi topikal.
Penting: Hipopigmentasi dapat menetap selama beberapa minggu hingga bulan setelah eradikasi jamur, karena perlu waktu bagi melanosit untuk memproduksi pigmen kembali. Pasien perlu diedukasi mengenai hal ini.
Edukasi pasien sangat penting untuk mencegah kekambuhan dan memastikan kepatuhan pengobatan.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi