Peritonitis

Peritonitis adalah kondisi serius yang seringkali menjadi penyebab kegawatdaruratan bedah di rongga perut. Ini bukan sekadar nyeri perut biasa, melainkan peradangan membran peritoneum yang bisa mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Memahami etiologi, manifestasi klinis, hingga tatalaksananya adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa pasien. Yuk, selami lebih dalam konsep penting ini!

Definisi

Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum, yaitu membran serosa yang melapisi rongga abdomen dan organ-organ di dalamnya. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera.

Etiologi

Peritonitis dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya:

  • Peritonitis Primer (Spontaneous Bacterial Peritonitis/SBP): Terjadi tanpa adanya sumber infeksi intra-abdomen yang jelas. Paling sering ditemukan pada pasien dengan asites akibat sirosis hati, gagal jantung kongestif, atau gagal ginjal. Bakteri mencapai peritoneum melalui jalur hematogen, limfogen, atau translokasi dari lumen usus.
  • Peritonitis Sekunder: Merupakan jenis yang paling umum, disebabkan oleh kontaminasi rongga peritoneum dari sumber intra-abdomen.
    • Perforasi organ berongga: Apendisitis perforasi, ulkus peptikum perforasi, divertikulitis perforasi, perforasi usus (trauma, iskemia, obstruksi).
    • Inflamasi organ: Pankreatitis akut, kolesistitis akut.
    • Trauma abdomen: Luka tusuk atau tembak yang menembus organ intra-abdomen.
    • Komplikasi pasca-operasi: Anastomotic leak, infeksi luka operasi.
  • Peritonitis Tersier: Peritonitis yang persisten atau rekuren setelah penanganan awal peritonitis sekunder yang adekuat, seringkali disebabkan oleh organisme yang resisten atau imunosupresi.

Patofisiologi

Ketika peritoneum terpapar iritan (bakteri, enzim, asam lambung, empedu, urin), terjadi respons inflamasi lokal dan sistemik. Mekanismenya meliputi:

  • Inflamasi Lokal: Pelepasan mediator inflamasi (histamin, bradikinin, prostaglandin) menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular, vasodilatasi, dan akumulasi cairan kaya protein (eksudat) di rongga peritoneum, membentuk third space fluid loss.
  • Respons Tubuh: Omentum dan usus berusaha melokalisasi infeksi dengan membentuk adhesi. Namun, jika infeksi meluas, respons ini tidak cukup.
  • Gangguan Motilitas Usus: Paralytic ileus sering terjadi akibat inflamasi dan mediator kimia, menyebabkan distensi abdomen, mual, dan muntah.
  • Bakteremia dan Sepsis: Bakteri dari rongga peritoneum dapat masuk ke aliran darah, memicu respons inflamasi sistemik (SIRS) yang dapat berkembang menjadi sepsis, syok septik, dan disfungsi multiorgan (MODS).
  • Dehidrasi dan Ketidakseimbangan Elektrolit: Akumulasi cairan di rongga peritoneum dan muntah menyebabkan dehidrasi serta gangguan elektrolit.

Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda bervariasi tergantung etiologi dan tingkat keparahan, namun umumnya meliputi:

  • Nyeri Abdomen Akut: Biasanya nyeri hebat, persisten, dan difus. Nyeri memberat saat bergerak atau batuk.
  • Demam: Umum terjadi, menunjukkan respons inflamasi atau infeksi.
  • Mual dan Muntah: Sering menyertai nyeri, diperparah oleh ileus.
  • Distensi Abdomen: Akibat ileus dan akumulasi cairan/gas.
  • Tanda-tanda Peritonitis pada Pemeriksaan Fisik:
    • Defans Muskular (Rigiditas): Kekakuan dinding perut yang involunter, merupakan tanda klasik.
    • Nyeri Tekan (Tenderness): Nyeri saat palpasi abdomen.
    • Nyeri Lepas (Rebound Tenderness): Nyeri yang memburuk saat tekanan tangan dilepaskan secara tiba-tiba dari abdomen.
    • Bising Usus Menurun atau Hilang: Akibat ileus paralitik.
    • Perkusi: Pekak pada area asites, timpani pada distensi gas.
    • Tanda-tanda Syok: Takikardia, hipotensi, oliguria (pada kasus lanjut).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis peritonitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis: Riwayat nyeri perut, mual, muntah, demam, riwayat penyakit sebelumnya (misalnya sirosis, ulkus peptikum), riwayat trauma atau operasi.
  • Pemeriksaan Fisik: Fokus pada abdomen untuk mencari tanda-tanda peritonitis (defans muskular, nyeri tekan, nyeri lepas, bising usus). Evaluasi status hemodinamik pasien.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang membantu mengkonfirmasi diagnosis, mengidentifikasi etiologi, dan menilai komplikasi.

  • Pemeriksaan Laboratorium:
    • Darah Lengkap: Leukositosis dengan shift to the left.
    • Elektrolit dan Fungsi Ginjal: Untuk menilai dehidrasi dan gangguan elektrolit.
    • Fungsi Hati: Penting pada SBP.
    • Amilase/Lipase: Untuk menyingkirkan pankreatitis.
    • Kultur Darah dan Cairan Asites/Peritoneum: Untuk identifikasi patogen dan uji sensitivitas antibiotik.
    • Urinalisis: Menyingkirkan infeksi saluran kemih.
  • Pencitraan:
    • Foto Polos Abdomen (Erect dan Supine): Dapat menunjukkan udara bebas di bawah diafragma (pneumoperitoneum) pada perforasi organ berongga, ileus paralitik, atau obstruksi usus.
    • USG Abdomen: Dapat mengidentifikasi cairan bebas, abses, apendisitis, kolesistitis, atau pankreatitis.
    • CT Scan Abdomen dengan Kontras: Merupakan modalitas terbaik untuk mengidentifikasi etiologi peritonitis (perforasi, abses, inflamasi organ), menilai luasnya peradangan, dan mendeteksi komplikasi.
    • Parasentesis Diagnostik: Pada SBP, aspirasi cairan asites untuk analisis (jumlah leukosit >250 sel/mm3 dengan >50% PMN, kultur positif) sangat diagnostik.

Diagnosis Banding

Peritonitis harus dibedakan dari kondisi lain yang menyebabkan nyeri abdomen akut:

  • Kolesistitis akut
  • Pankreatitis akut
  • Apendisitis akut (belum perforasi)
  • Obstruksi usus
  • Kolik renal atau bilier
  • Infark miokard inferior
  • Pneumonia lobus bawah
  • Ketoasidosis diabetikum
  • Gastroenteritis akut

Tatalaksana

Tatalaksana peritonitis merupakan kegawatdaruratan yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan seringkali intervensi bedah.

  • Resusitasi Awal dan Stabilisasi:
    • Airway, Breathing, Circulation (ABC): Pastikan jalan napas paten, berikan oksigen.
    • Pemberian Cairan Intravena: Koreksi dehidrasi dan syok (kristaloid).
    • Analgesik: Manajemen nyeri yang adekuat.
    • Pemasangan Kateter Urin: Memantau output urin.
    • Pemasangan Nasogastric Tube (NGT): Dekompresi lambung dan mencegah muntah.
  • Terapi Antibiotik Empiris Spektrum Luas:
    • Harus dimulai sesegera mungkin setelah kultur diambil.
    • Mencakup bakteri Gram-positif, Gram-negatif, dan anaerob.
    • Contoh kombinasi: Sefalosporin generasi ketiga/keempat + Metronidazol; atau Piperasilin-Tazobaktam; atau Karbapenem. Penyesuaian berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas.
  • Tatalaksana Spesifik (Tergantung Etiologi):
    • Peritonitis Primer (SBP): Terapi antibiotik IV (misalnya Cefotaxime) adalah lini utama. Profilaksis sekunder mungkin diperlukan.
    • Peritonitis Sekunder: Membutuhkan intervensi bedah segera untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi sumber kontaminasi (misalnya penutupan perforasi, apendektomi, reseksi usus) serta irigasi rongga peritoneum.

Komplikasi

Komplikasi peritonitis dapat sangat serius dan mengancam jiwa:

  • Sepsis dan syok septik
  • Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
  • Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
  • Acute Kidney Injury (AKI)
  • Abses intra-abdomen
  • Ileus paralitik berkepanjangan
  • Fistula enterokutan
  • Adhesi intra-abdomen (menyebabkan obstruksi usus di kemudian hari)
  • Kematian

Prognosis

Prognosis peritonitis sangat tergantung pada beberapa faktor:

  • Etiologi dan tingkat keparahan infeksi.
  • Waktu diagnosis dan intervensi (semakin cepat, semakin baik).
  • Status kesehatan pasien sebelum sakit (komorbiditas, usia).
  • Respons terhadap terapi.

Peritonitis, terutama yang sekunder, memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi jika tidak ditangani dengan agresif dan tepat waktu.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds