Perikarditis Akut

Nyeri dada itu banyak penyebabnya, tapi pernahkah kamu terpikir kalau lapisan jantung bisa meradang? Perikarditis akut adalah salah satu penyebab nyeri dada yang sering bikin bingung. Yuk, kita kupas tuntas mulai dari gejala khas sampai penanganannya, biar kamu makin jago bedain dengan kondisi lain dan siap hadapi soal UKMPPD!

Definisi

Perikarditis akut adalah sindrom klinis yang disebabkan oleh inflamasi pada perikardium, yaitu kantung fibrosa yang mengelilingi jantung. Kondisi ini umumnya bersifat transien dan seringkali idiopatik.

Etiologi & Faktor Risiko

Sebagian besar kasus perikarditis akut bersifat idiopatik, namun banyak penyebab lain yang perlu dipertimbangkan:

  • Infeksi:
    • Virus (paling sering): Coxsackie B, Echovirus, Adenovirus, Influenza, HIV.
    • Bakteri: Staphylococcus, Streptococcus (terutama setelah operasi jantung), Tuberkulosis (sering di negara berkembang).
    • Jamur: Histoplasma, Coccidioides (jarang).
  • Penyakit Autoimun/Inflamasi: Lupus Eritematosus Sistemik (LES), Artritis Reumatoid, Skleroderma, Sindrom Sjögren, Vaskulitis.
  • Sindrom Pasca-Cedera Jantung:
    • Sindrom Dressler: Perikarditis pasca-infark miokard (biasanya 2-10 minggu setelah IMA).
    • Pasca-operasi jantung, pasca-trauma tumpul/tajam pada dada.
  • Penyakit Metabolik: Uremia (perikarditis uremik), hipotiroidisme.
  • Keganasan: Metastasis ke perikardium (paru, payudara, limfoma, leukemia).
  • Radiasi: Terapi radiasi pada dada.
  • Obat-obatan: Prokainamid, Hidralazin, Isoniazid, Fenitoin.

Patofisiologi

Inflamasi perikardium menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, akumulasi cairan (efusi perikardium), dan deposisi fibrin pada lapisan perikardium. Gesekan antara lapisan perikardium yang meradang inilah yang menimbulkan nyeri dada khas dan friction rub.

Pada kasus yang parah, efusi perikardium dapat menekan jantung dan menyebabkan tamponade jantung. Jika inflamasi berlanjut kronis, dapat terjadi fibrosis dan penebalan perikardium yang berujung pada perikarditis konstriktiva.

Manifestasi Klinis

Gejala klasik perikarditis akut meliputi:

  • Nyeri Dada (khas):
    • Mulai mendadak, tajam, pleuritik (meningkat saat inspirasi dalam atau batuk).
    • Terlokalisasi di substernal atau prekordial kiri, dapat menjalar ke leher, bahu, atau punggung.
    • Membaik saat duduk condong ke depan atau membungkuk.
    • Memburuk saat berbaring telentang atau inspirasi dalam.
    • Dapat menyerupai nyeri infark miokard akut.
  • Demam ringan, malaise, mialgia.
  • Dispnea: Akibat nyeri saat bernapas atau, pada kasus berat, karena efusi perikardium/tamponade.
  • Batuk kering.

Pada pemeriksaan fisik:

  • Pericardial Friction Rub (gesekan perikardial): Suara khas, kasar, bergeser, terdengar paling jelas pada posisi duduk condong ke depan saat ekspirasi. Ini adalah tanda patognomonik, namun tidak selalu ada dan seringkali intermiten.
  • Tanda-tanda efusi perikardium atau tamponade jantung (jika ada): takikardia, hipotensi, distensi vena jugularis, suara jantung melemah.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis perikarditis akut ditegakkan berdasarkan minimal dua dari empat kriteria berikut:

  1. Nyeri dada khas (pleuritik, membaik saat duduk condong ke depan, memburuk saat berbaring).
  2. Adanya pericardial friction rub.
  3. Perubahan EKG yang khas (elevasi ST difus, depresi PR).
  4. Adanya efusi perikardium (baru atau memburuk) pada ekokardiografi.

Pemeriksaan Penunjang

  • Elektrokardiografi (EKG):
    • Stadium I (hari 1-beberapa hari): Elevasi segmen ST yang difus dan konkav di hampir semua sadapan (kecuali aVR dan V1), diikuti oleh depresi segmen PR (terutama di sadapan II, aVF, V4-V6) yang sangat spesifik.
    • Stadium II (hari 1-minggu 2): Normalisasi segmen ST dan PR, gelombang T mendatar.
    • Stadium III (minggu 2-3): Inversi gelombang T difus (tanpa Q wave patologis).
    • Stadium IV (minggu 3 ke atas): Normalisasi EKG atau inversi gelombang T persisten.
  • Laboratorium:
    • Peningkatan CRP (C-Reactive Protein) dan LED (Laju Endap Darah), menunjukkan inflamasi.
    • Leukositosis (tidak spesifik).
    • Peningkatan Troponin dapat terjadi jika ada miokarditis bersamaan (mioperikarditis).
  • Ekokardiografi:
    • Mengevaluasi adanya efusi perikardium, ukurannya, dan tanda-tanda tamponade jantung.
    • Membantu menyingkirkan diagnosis banding lain.
  • Rontgen Toraks:
    • Biasanya normal.
    • Dapat menunjukkan pembesaran siluet jantung (water bottle heart) jika efusi perikardium sangat besar (>200-300 ml).
  • MRI Jantung: Berguna untuk evaluasi inflamasi perikardium, penebalan, atau konstriksi, terutama pada kasus kompleks atau kronis.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan perikarditis akut dari kondisi lain yang menyebabkan nyeri dada, terutama yang mengancam jiwa:

KondisiNyeri DadaEKG KhasPemeriksaan Lain
Perikarditis AkutPleuritik, membaik duduk condong, memburuk berbaringElevasi ST difus konkav, depresi PRFriction rub, efusi perikardium (Eko)
Infark Miokard Akut (IMA)Berat, substernal, menjalar, tidak membaik dengan posisiElevasi ST konveks terlokalisir, Q wave patologisTroponin ↑↑, enzim jantung ↑↑
Emboli ParuPleuritik, dispnea akutS1Q3T3, takikardia, gelombang T inversi di V1-V3 (tidak selalu)D-dimer ↑, CT-Angiografi Paru
Diseksi AortaSangat tajam, robek, menjalar ke punggungSering normal atau non-spesifikCT-Angiografi Toraks
Pleuritis/PneumoniaPleuritik, batuk, demamNormalRontgen toraks (infiltrat, efusi pleura)
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)Nyeri ulu hati/substernal, rasa terbakarNormalEndoskopi, respons terhadap PPI

Tatalaksana

Tujuan tatalaksana adalah meredakan nyeri dan inflamasi, serta mencegah komplikasi dan rekurensi.

Tatalaksana Non-Farmakologis:

  • Istirahat: Hindari aktivitas fisik berat hingga gejala mereda dan CRP normal.
  • Identifikasi dan obati penyebab yang mendasari (misalnya, infeksi, uremia).

Tatalaksana Farmakologis:

  • Lini Pertama: Kombinasi NSAID dosis tinggi dan Kolkhisin.
    • NSAID (Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs):
      • Ibuprofen: 600 mg setiap 8 jam selama 1-2 minggu, lalu tapering.
      • Aspirin: 500-1000 mg setiap 8 jam (terutama pada pasien dengan riwayat IMA), lalu tapering.
      • Diberikan bersama PPI (Proton Pump Inhibitor) untuk proteksi lambung.
    • Kolkhisin:
      • Dosis: 0,5 mg 1-2 kali sehari (sesuai berat badan) selama 3 bulan atau lebih.
      • Sangat efektif dalam mengurangi rekurensi perikarditis.
      • Kontraindikasi: Penyakit ginjal/hati berat.
  • Kortikosteroid:
    • Tidak direkomendasikan sebagai lini pertama karena meningkatkan risiko rekurensi.
    • Digunakan pada kasus spesifik:
      • Perikarditis autoimun.
      • Perikarditis uremik.
      • Perikarditis yang refrakter terhadap NSAID dan kolkhisin.
      • Kontraindikasi terhadap NSAID/kolkhisin.
    • Dosis: Prednison 0,25-0,5 mg/kgBB/hari, lalu tapering perlahan.
  • Tatalaksana Etiologi:
    • Antibiotik untuk perikarditis bakteri.
    • Drainase perikardium (perikardiosentesis) untuk efusi perikardium yang signifikan atau tamponade jantung.

Komplikasi

  • Efusi Perikardium: Akumulasi cairan di kantung perikardium.
  • Tamponade Jantung: Komplikasi serius di mana efusi perikardium menekan jantung, mengganggu pengisian ventrikel, dan menyebabkan syok kardiogenik.
  • Perikarditis Rekuren: Gejala perikarditis kembali setelah periode bebas gejala.
  • Perikarditis Konstriktiva: Komplikasi kronis di mana perikardium menjadi tebal, fibrotik, dan kaku, menghambat pengisian jantung.

Prognosis

Prognosis perikarditis akut umumnya baik, dengan sebagian besar pasien sembuh total. Namun, pada beberapa kasus, dapat terjadi rekurensi atau komplikasi serius seperti tamponade jantung atau perikarditis konstriktiva, terutama jika etiologi yang mendasari tidak ditangani atau jika ada faktor risiko tertentu (misalnya, penggunaan kortikosteroid sebagai terapi awal).

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds