Perdarahan Saluran Cerna pada Anak

Epidemiologi, etiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan perdarahan saluran cerna pada populasi pediatrik.

Pemahaman tentang beratnya kondisi ini penting untuk manajemen pasien:

Mortalitas PSCA pada anak mencapai 4,8%, jauh lebih tinggi dibandingkan PSCB yang hanya 0,6%. Perbedaan ini mencerminkan potensi kehilangan darah yang lebih cepat dan risiko aspiras dalam PSCA. Data dari Yogyakarta menunjukkan distribusi hampir sama antara PSCA (49%) dan PSCB (51%) dari total kasus perdarahan gastrointestinal pada anak berusia kurang dari 18 tahun.

Pada kelompok usia paling muda, beberapa penyebab spesifik mendominasi:

Tertelan darah ibu: Selama proses persalinan, bayi dapat menelan darah dari ibu. Ini bukan perdarahan bayi sejati, tetapi penting untuk dibedakan dari perdarahan GI asli. Defisiensi vitamin K: Bayi baru lahir berisiko tinggi karena usus steril mereka belum mengkolonisasi bakteri yang memproduksi vitamin K. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan newborn hemorrhagic disease. Stres gastritis: Respons terhadap stres fisiologis dalam periode awal kehidupan. Kelainan bawaan: Duplikasi intestinal dan malrotasi dapat menyebabkan perdarahan pada bayi. Koagulopati: Gangguan pembekuan darah kongenital atau didapat. Alergi protein susu sapi: Dapat menyebabkan kolitis pada bayi yang sensitif, menghasilkan perdarahan saluran cerna.

Pada kelompok usia ini, spektrum etiologi memperluas tetapi satu kondisi mendominasi:

Intususepsi: Menempati 80% dari semua kasus perdarahan pada kelompok usia ini. Intususepsi terjadi ketika satu segmen usus menginvaginasi ke segmen yang berdekatan, menyebabkan obstruksi dan iskemia. Presentasi klasik meliputi nyeri kolik, tinja seperti "currant jelly" (darah tercampur tinja), dan massa abdomen yang dapat diraba. Mallory-Weiss tear: Robekan mukosa esofagus distal yang terjadi setelah muntah atau batuk yang kuat. Benda asing tajam: Anak usia ini rentan terhadap ingesti benda asing yang dapat menyebabkan perdarahan. Esofagitis refluks: Peradangan esofagus karena refluks asam lambung. Ulkus peptikum: Lesi pada mukosa lambung atau duodenum. Varises esofagus: Terjadi pada anak dengan hipertensi portal (misalnya dari penyakit hati kronis).

Pada anak-anak yang lebih besar, spektrum etiologi mirip dengan dewasa muda:

Varises esofagus: Hasil dari hipertensi portal, sering kali sekunder terhadap penyakit hati kronis. Perdarahan dari varises dapat sangat masif dan memerlukan intervensi emergency. Ulkus peptikum: Dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori atau penggunaan NSAID. Dieulafoy lesion: Malformasi vaskular kongenital yang dapat menyebabkan perdarahan gastrointestinal intermiten. Hemobilia: Perdarahan dari saluran empedu, sering terjadi setelah trauma atau prosedur. Crohn disease: Penyakit inflamasi usus yang dapat bermanifestasi dengan perdarahan gastrointestinal. Telangiektasia: Dilatasi pembuluh darah kecil, yang dapat asosiatif dengan sindrom genetik tertentu.

Hematemesis adalah muntah darah yang dapat tampil dalam dua bentuk:

Darah segar (bright red blood): Menunjukkan perdarahan aktif, umumnya dari esofagus atau kardia lambung "Coffee ground": Darah yang telah berinteraksi dengan asam lambung, menunjukkan perdarahan yang lebih lambat atau yang telah berhenti

Informasi yang dikumpulkan harus mencakup:

Usia pasien: Seperti dibahas sebelumnya, usia sangat memandu diferensial diagnosis Durasi dan karakteristik perdarahan: Berapa lama berlangsung? Apakah terus-menerus atau intermiten? Volume perdarahan: Estimasi jumlah darah yang hilang membantu menilai beratnya kondisi Faktor pemicu: Ada riwayat trauma, infeksi baru-baru ini, atau stres? Obat dan makanan: Penggunaan NSAID, aspirin, atau makanan tertentu dapat memprovokasi perdarahan Gejala gastrointestinal lain: Diare, sembelit, nyeri perut, distensi abdomen Riwayat koagulasi atau penyakit hati: Riwayat keluarga atau personal dengan gangguan pembekuan darah atau penyakit hati kronis

Beberapa tes laboratorium sangat penting:

Hitung Darah Lengkap (CBC): Menentukan hemoglobin basal dan jumlah trombosit. Hemoglobin yang rendah mengkonfirmasi perdarahan, dan jumlah trombosit yang sangat rendah (< 30.000/µL) memerlukan transfusi. Tes koagulasi: PT, aPTT, dan fibrinogen untuk menilai fungsi koagulasi Tes fungsi hati: ALT, AST, bilirubin untuk mendeteksi penyakit hati underlying yang dapat menyebabkan varises portal BUN dan creatinine: Menilai fungsi ginjal; elevasi BUN dapat menunjukkan perdarahan aktif dengan penyerapan protein Amilase dan lipase: Untuk menyingkirkan pankreatitis sebagai penyebab Tes Apt-Downey pada neonatus: Membedakan darah bayi sejati dari darah ibu yang tertelan (darah ibu akan berubah warna karena asam lambung) Fecal Occult Blood (FOB): Mendeteksi darah dalam feses yang tidak terlihat secara visual

Modalitas imaging dipilih berdasarkan stabilitas klinis dan hasil endoskopi:

Foto abdomen 2 posisi: Evaluasi awal untuk menyingkirkan obstruksi, perforasi, atau gambaran intususepsi (round mass dengan karakteristik "target sign" atau "doughnut sign") Ultrasonografi abdomen dengan doppler: Teknik pilihan pertama untuk mendeteksi intususepsi, asites, splenomegali, dan menilai aliran portal menggunakan doppler CT angiografi: Jika endoskopi atas tidak berhasil mengidentifikasi sumber, CT angiografi dapat membantu menemukan lesi yang lebih distal Scan radionuklida: Ketika perdarahan sangat cepat dan sumbernya tidak dapat diidentifikasi dengan metode lain, scan radionuklida dapat melokalisir situs perdarahan dengan melacak darah yang diinjeksi dengan label radioaktif

Selama endoskopi, lesi dinilai menggunakan klasifikasi Forrest, yang membantu memprediksi risiko perdarahan berulang dan membimbing keputusan terapi:

Forrest Ia: Fountain bleeding (perdarahan aktif seperti air mancur) Forrest Ib: Oozing bleeding (perdarahan menetes) Forrest IIa: Visible vessel (pembuluh darah yang terlihat tanpa darah aktif) Forrest IIb: Adherent clot (bekuan darah yang melekat pada lesi) Forrest III: Flat spot atau clean base (tidak ada tanda perdarahan aktif)

Transfusi darah merah: Indikasi transfusi bergantung pada level hemoglobin dan stabilitas klinis. Secara umum:

Transfusi diberikan jika hemoglobin ≤ 7 g/dL atau jika pasien menunjukkan tanda-tanda hipoperfusi meskipun dengan hemoglobin yang lebih tinggi Transfusi PRBCs (packed red blood cells) adalah pilihan untuk menghindari kelebihan beban volume

Koreksi Koagulopati

Transfusi Fresh Frozen Plasma (FFP): Jika ada bukti koagulopati (PT, aPTT yang memanjang), berikan FFP untuk mengoreksi faktor koagulasi yang defisien Transfusi trombosit: Jika jumlah trombosit < 30.000/µL, lakukan transfusi trombosit untuk mencegah perdarahan spontan

Agen vasoaktif untuk varises portal: Pada pasien dengan perdarahan dari varises esofagus, agen vasoaktif membantu mengurangi aliran darah portal dan tekanan:

Octreotide (analog somatostatin): Bolus awal 1 µg/kg IV diikuti dengan infus berkelanjutan 1-4 µg/kg/jam Agen ini harus dimulai sebelum endoskopi dan dilanjutkan selama beberapa hari untuk mengurangi risiko perdarahan berulang

Penatalaksanaan perdarahan saluran cerna pada anak memerlukan kolaborasi erat antara berbagai spesialisasi medis:

Dokter anak/pediatrician: Mengelola stabilisasi awal, resusitasi, dan monitoring umum Gastroenterolog: Melakukan endoskopi diagnostik dan terapeutik Radiolog intervensi: Memberikan opsi imaging lanjut dan prosedur intervensi radiologis jika endoskopi gagal Dokter bedah: Siap melakukan operasi jika manajemen medis dan endoskopi tidak berhasil

Pilihan terapi (medis vs. endoskopi vs. intervensi radiologis vs. bedah) bergantung pada:

Stabilitas hemodinamik pasien Lokasi perdarahan Penyebab perdarahan yang mendasarinya Respons awal terhadap manajemen konservatif

Referensi

  1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Perdarahan Saluran Cerna — KEMKES RI 2023
Customer Support umeds