Data epidemiologi menunjukkan pola yang unik di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Barat:
Varises esofagus: menyebabkan 50-60% dari semua kasus PSCA
Gastritis erosif: bertanggung jawab atas 25-30% kasus
Ulkus peptikum: menyebabkan sisanya
Perbedaan ini penting karena setiap etiologi memiliki angka mortalitas yang berbeda:
Varises esofagus: mortalitas hingga 60%
Penyebab non-varises: mortalitas 9-12%
Mortalitas keseluruhan PSCA: sekitar 25%
Penyebab PSCA dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori:
Ulseratif: ulkus peptikum, gastritis erosif, duodenitis
Vaskular: varises esofagus, hipertensi portal, gastric varices
Traumatik: sindrom Mallory-Weiss, perforasi
Iatrogenik: pasca-tindakan endoskopi
Neoplastik: tumor lambung atau esofagus
Lainnya: fistula aorto-enterik, GAVE (gastric antral vascular ectasia)
Memahami faktor risiko membantu klinis mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi mengalami PSCA:
Usia: lebih dari 60 tahun meningkatkan risiko
Obat-obatan: NSAID, aspirin, klopidogrel
Gaya hidup: merokok dan konsumsi alkohol tinggi
Penyakit kronis:
Riwayat gastritis
Infeksi *Helicobacter pylori*
Penyakit hati kronik dan hipertensi portal
Gagal ginjal kronik
Kondisi vaskular: aneurisma aorta (risiko fistula aorto-enterik)
Faktor Agresif (merusak):
Asam lambung dan pepsin
Obat-obatan (NSAID, kortikosteroid)
Infeksi *H. pylori*
Radikal bebas
Faktor Defensif (melindungi):
Integritas mukosa
Prostaglandin
Bikarbonat
Sekresi mukus
Varises esofagus terbentuk akibat hipertensi portal (peningkatan tekanan pada vena portal lebih dari 12 mmHg). Perkembangan varises dipengaruhi oleh:
Tekanan vena portal (semakin tinggi, semakin besar risiko)
Ukuran varises (varises besar lebih berisiko pecah)
Karakteristik dinding varises (dinding tipis lebih mudah pecah)
Hematemesis adalah tanda paling langsung perdarahan saluran cerna atas. Hematemesis dapat berupa:
Darah segar (bright red blood), menunjukkan perdarahan aktif dan masif
Darah berwarna seperti ampas kopi, menunjukkan darah yang telah kontak dengan asam lambung (perdarahan lebih lambat atau telah berhenti)
Gejala dan Tanda Tambahan
Nyeri epigastrik: terutama pada ulkus peptikum
Disfagia: sulit menelan, terutama pada perdarahan esofagus
Gejala anemia: lemah, pusing, sesak napas
Penurunan berat badan: pada perdarahan kronis
Ikterus (kuning): jika ada disfungsi hati
Asites: pada pasien dengan varises esofagus dan sirosis lanjut
Anamnesis yang teliti harus mencakup:
Karakteristik perdarahan: waktu onset, frekuensi, estimasi volume (berapa banyak)
Riwayat obat-obatan: NSAID (ibuprofen, naproxen), antiplatelet (aspirin, clopidogrel), antikoagulan
Riwayat alkohol: konsumsi regular atau heavy drinking
Riwayat penyakit: sirosis, hepatitis, penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes
Transfusi sebelumnya: penting untuk cross-matching
Status Hemodinamik:
Tekanan darah dan nadi (takikardi >100 atau hipotensi menunjukkan perdarahan masif)
Status perfusi jaringan (kulit dingin, lembab)
Tanda Anemia:
Konjungtiva pucat
Palmar eritema (telapak tangan merah)
Stigmata Sirosis Hati (penting untuk mendeteksi varises esofagus):
Ikterus, spider angioma, ascites, caput medusae
Splenomegali (pembesaran limpa dari hipertensi portal)
Palmar eritema
Pemeriksaan Lokal:
Nyeri tekan epigastrik (sugestif ulkus)
Hepatomegali (pembesaran hati)
Pemeriksaan laboratorium awal memberikan informasi tentang derajat perdarahan dan fungsi organ:
Darah Lengkap:
Hemoglobin awal (perdarahan akut mungkin belum turun karena hemodilusi belum terjadi)
Hitung platelet (penting sebelum transfusi)
Hemoglobin Serial: Pemeriksaan ulang setiap 6-8 jam membantu menentukan derajat perdarahan berkelanjutan
Kimia Serum: Elektrolit, kreatin, ureum (untuk menilai fungsi ginjal)
Fungsi Hati: Bilirubin, AST, ALT, albumin (untuk mendeteksi disfungsi hati/sirosis)
Koagulasi: PT, aPTT, INR (untuk mengidentifikasi koagulopati yang perlu dikoreksi)
Diagnostik:
Aspirasi darah segar atau berwarna kopi: menunjukkan sumber perdarahan dari esofagus atau lambung
Aspirasi putih atau jernih: menunjukkan perdarahan tidak aktif
Terapetik:
Memungkinkan pemberian obat
Melakukan lavage dengan cairan Normal Saline atau air putih dingin (meskipun manfaat lavase masih kontroversial)
Waktu Endoskopi:
Untuk PSCA umumnya: dalam 24 jam
Untuk varises esofagus yang dicurigai: dalam 12 jam (karena risiko perdarahan ulang lebih tinggi)
Keuntungan Endoskopi:
Identifikasi pasti sumber perdarahan
Penilaian derajat perdarahan menggunakan Klasifikasi Forrest
Kesempatan terapi segera (injeksi, koagulasi, kliping)
Prognosis berdasarkan stigmata visual
Klasifikasi Forrest (menilai risiko perdarahan ulang):
Forrest Ia: perdarahan arteri memancar (spurting) risiko tinggi
Forrest Ib: perdarahan arteri mengalir deras (oozing) risiko tinggi
Forrest IIa: bekuan darah non-adheren risiko sedang
Forrest IIb: bekuan darah adheren risiko sedang
Forrest IIc: dasar berwarna merah atau hitam (flat spot) risiko rendah
Forrest III: dasar bersih tanpa bekuan risiko rendah
CT Angiografi Abdomen:
Mendeteksi perdarahan aktif ≥ 0,3-0,5 mL/menit dengan scanner multidetektor
Berguna jika endoskopi tidak dapat dilakukan
Dapat mengidentifikasi sumber perdarahan dan komlikasi
Radionuklida Scanning:
Mendeteksi perdarahan ≥ 0,1 mL/menit (lebih sensitif)
Kurang spesifik dalam lokalisasi
Proses memakan waktu, jarang digunakan saat ini
Angiografi Selektif (Digital Subtraction Angiography/DSA):
Standar emas untuk diagnosis dan terapi angiografik
Memerlukan perdarahan ≥ 0,5-1,0 mL/menit untuk visualisasi
Memungkinkan terapi intervensi radiologi (injeksi vasokonstriktor, embolisasi)
Segera lakukan penilaian status volume:
Takikardi, hipotensi, ekstremitas dingin menunjukkan perdarahan masif memerlukan resusitasi agresif
Tekanan nadi sempit menunjukkan kehilangan darah signifikan
Resusitasi Cairan
Akses vena: Pasang 2 jalur IV besar (18 gauge atau lebih besar) untuk resusitasi cepat
Cairan kristaloid: Larutan Normal Saline atau Ringer's Laktat sebagai lini pertama
Cairan koloid: Dapat dipertimbangkan jika kristaloid tidak mencukupi (meskipun manfaat koloid masih debat)
Target: Pemulihan tekanan darah sistole ≥90 mmHg dan urin output ≥0,5 mL/kg/jam
Oksigenasi
Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi O_2 ≥94%
Pertimbangkan intubasi endotrakeal jika:
Hematemesis berat dengan risiko aspirasi
Gangguan kesadaran (GCS
Pasang monitor untuk:
Tekanan darah dan nadi
Elektrokardiogram (EKG) untuk mendeteksi iskemia atau aritmia
Pulse oximetry
Kateter urin untuk monitoring urin output
Pasien dengan kondisi berikut harus dirawat di unit perawatan intensif (ICU):
Perdarahan aktif yang mengancam jiwa
Instabilitas hemodinamik yang persisten meskipun resusitasi cairan
Memerlukan intubasi endotrakeal
Kegagalan terapi endoskopik