Penyakit Paru Obstruktif adalah kelompok penyakit yang ditandai oleh adanya hambatan aliran udara (airflow obstruction) yang persisten atau intermiten, terutama saat ekspirasi. Hambatan ini dapat bersifat reversibel parsial atau sepenuhnya, tergantung pada etiologi dan patofisiologinya.
Karakteristik utama yang membedakan penyakit ini dari penyakit paru restriktif adalah adanya penurunan rasio volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1) terhadap kapasitas vital paksa (FVC), yaitu FEV1/FVC < 0.70 (atau di bawah batas bawah normal/LLN).
Spirometri adalah pemeriksaan kunci untuk mendiagnosis dan menilai tingkat keparahan obstruksi. Berikut adalah parameter penting yang perlu diperhatikan:
| Kriteria | Asma | PPOK (Bronkitis Kronis) | PPOK (Emfisema) | Bronkiektasis |
|---|---|---|---|---|
| Definisi/Karakteristik Utama | Inflamasi saluran napas kronis dengan hiperresponsivitas, menyebabkan obstruksi reversibel. | Batuk kronis produktif minimal 3 bulan dalam 2 tahun berturut-turut, tanpa sebab lain. | Destruksi ireversibel dinding alveoli dan pelebaran ruang udara distal bronkiolus terminal. | Dilatasi ireversibel dan destruksi dinding bronkus ukuran sedang, sering disertai infeksi kronis. |
| Onset/Usia Umum | Anak-anak atau dewasa muda. | Dewasa, biasanya >40 tahun. | Dewasa, biasanya >50-60 tahun. | Anak-anak (kongenital/infeksi awal) atau dewasa (sekunder). |
| Reversibilitas Obstruksi | Umumnya reversibel (parsial/penuh) dengan bronkodilator. | Umumnya tidak reversibel penuh. | Umumnya tidak reversibel penuh. | Umumnya tidak reversibel penuh. |
| Faktor Risiko Utama | Riwayat atopi (eksim, rinitis alergi), genetik, alergen, infeksi virus. | Merokok (utama), paparan polusi udara/iritan. | Merokok (utama), defisiensi alfa-1 antitripsin (jarang). | Infeksi berat (pertusis, TB, pneumonia), fibrosis kistik, defisiensi imun, disfungsi silia. |
| Gejala Khas | Mengi, sesak napas, batuk, dada terasa berat. Gejala episodik, bervariasi diurnal, memburuk malam/pagi hari. | Batuk kronis produktif dengan sputum mukopurulen, sering disertai sesak napas. | Sesak napas progresif (dispnea d'effort), penurunan berat badan, 'pink puffer'. | Batuk kronis produktif dengan sputum purulen berbau, hemoptisis, infeksi saluran napas berulang. |
| Pemeriksaan Fisik Khas | Mengi ekspirasi, ekspirasi memanjang, takikardia. | Ronki basah, mengi, sianosis ('blue bloater'). | Dada hipersonor, suara napas melemah, barrel chest, penggunaan otot bantu napas. | Ronki basah kasar persisten, jari tabuh (kronis), mengi. |
| Gambaran Radiologi (Foto Toraks) | Umumnya normal, hiperinflasi saat serangan. | Corakan bronkovaskular meningkat, kardiomegali, hiperinflasi. | Hiperinflasi, diafragma mendatar, bula, vaskularisasi paru berkurang. | Penebalan dinding bronkus (tram-track sign), dilatasi bronkus (signet ring sign), kista. |
| Spirometri | FEV1/FVC < 0.70, FEV1 meningkat ≥ 12% dan ≥ 200 mL post-bronkodilator. | FEV1/FVC < 0.70, respons bronkodilator minimal. | FEV1/FVC < 0.70, respons bronkodilator minimal. | FEV1/FVC < 0.70, respons bronkodilator minimal. |
| Tatalaksana Kunci | SABA (pelega), ICS (pengontrol), LABA, LTRA. | Bronkodilator (SABA/LAMA/LABA), kortikosteroid inhalasi (pada eksaserbasi/berat), rehabilitasi paru, oksigen. | Bronkodilator (SABA/LAMA/LABA), rehabilitasi paru, oksigen. | Antibiotik (sering), bronkodilator, fisioterapi dada, mukolitik. |

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi