Penyakit Mata Kering (Dry Eye Disease)

Mata terasa perih, gatal, atau seperti ada pasir? Itu bisa jadi gejala Penyakit Mata Kering (Dry Eye Disease/DED), kondisi multifaktorial yang sangat umum ditemui dan esensial untuk dikuasai di UKMPPD. DED bukan sekadar ketidaknyamanan, tapi juga bisa memengaruhi kualitas hidup dan penglihatan. Yuk, pelajari seluk-beluk definisi, klasifikasi, patofisiologi, hingga tatalaksananya agar kamu siap menghadapi kasus ini di klinik!

Definisi

Penyakit Mata Kering (Dry Eye Disease/DED) adalah kondisi multifaktorial pada permukaan okular yang ditandai dengan hilangnya homeostasis film air mata, disertai gejala okular.

Kondisi ini melibatkan instabilitas dan hiperosmolaritas film air mata, inflamasi dan kerusakan permukaan okular, serta kelainan neurosensori.

Klasifikasi

DED secara umum diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, meskipun seringkali terjadi tumpang tindih (mixed DED):

KategoriDeskripsiContoh Etiologi
1. Aqueous Deficient Dry Eye (ADDE)Produksi komponen air (aqueous) dari kelenjar lakrimal tidak adekuat.
  • Sindrom Sjögren: Autoimun, menyerang kelenjar eksokrin.
  • Non-Sindrom Sjögren: Penyakit kelenjar lakrimal (mis. infiltrasi, obstruksi), defisiensi Vitamin A (Xeroftalmia), obat-obatan (antihistamin, antidepresan, diuretik), usia tua.
2. Evaporative Dry Eye (EDE)Kualitas film air mata buruk akibat evaporasi berlebihan, meskipun produksi aqueous normal.
  • Disungsi Kelenjar Meibom (MGD): Penyebab paling umum.
  • Kelainan kelopak mata: Blefaritis, lagoftalmus, ektropion, entropion.
  • Penggunaan lensa kontak.
  • Faktor lingkungan: Angin, AC, kelembapan rendah.
  • Penggunaan komputer/gadget berlebihan.

Etiologi & Faktor Risiko

Berbagai faktor dapat berkontribusi pada perkembangan DED, meliputi:

  • Usia: Prevalensi meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Jenis Kelamin: Lebih sering pada wanita, terutama pascamenopause.
  • Obat-obatan: Antihistamin, dekongestan, antidepresan, diuretik, beta-blocker, isotretinoin, kontrasepsi oral.
  • Penyakit Sistemik: Sindrom Sjögren, rheumatoid arthritis, lupus eritematosus sistemik, tiroid, diabetes.
  • Penyakit Mata: Blefaritis, disfungsi kelenjar Meibom (MGD), alergi okular, penggunaan lensa kontak, operasi refraktif (LASIK).
  • Faktor Lingkungan: Iklim kering, berangin, paparan asap rokok, penggunaan AC/heater, polusi udara.
  • Gaya Hidup: Penggunaan gadget/komputer berlebihan (mengurangi frekuensi berkedip), diet rendah omega-3, defisiensi Vitamin A (Xeroftalmia).

Patofisiologi

Mekanisme utama DED melibatkan lingkaran setan (vicious cycle):

  1. Instabilitas Film Air Mata: Kualitas atau kuantitas air mata yang tidak adekuat menyebabkan film air mata cepat pecah.
  2. Hiperosmolaritas: Evaporasi air dari permukaan mata yang tidak terlindungi menyebabkan konsentrasi komponen air mata meningkat.
  3. Inflamasi Permukaan Okular: Hiperosmolaritas memicu pelepasan mediator inflamasi, menyebabkan kerusakan sel epitel kornea dan konjungtiva.
  4. Kerusakan Sel: Kerusakan sel goblet mengurangi produksi musin, memperburuk instabilitas film air mata.
  5. Disungsi Kelenjar Lakrimal/Meibom: Inflamasi kronis dapat merusak kelenjar lakrimal (mengurangi produksi aqueous) atau kelenjar Meibom (mengurangi produksi lipid), memperparah kondisi.

Manifestasi Klinis

Gejala DED seringkali bervariasi dan dapat berfluktuasi:

  • Sensasi benda asing: Mata terasa berpasir atau mengganjal.
  • Mata perih, gatal, atau terbakar.
  • Mata merah.
  • Pandangan kabur sementara: Terutama setelah berkedip atau saat membaca.
  • Fotofobia (sensitivitas terhadap cahaya).
  • Mata berair (epifora): Reaksi refleks terhadap iritasi permukaan okular yang kering.
  • Kelelahan mata.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:

  • Injeksi konjungtiva ringan.
  • Kuantitas air mata pada meniskus tear film yang berkurang.
  • Sekret berbusa pada tepi kelopak mata (pada MGD).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis DED ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang:

  • Anamnesis: Tanyakan gejala khas DED, faktor risiko (obat, penyakit sistemik, lingkungan), riwayat operasi mata. Gunakan kuesioner seperti Ocular Surface Disease Index (OSDI) untuk menilai keparahan.
  • Pemeriksaan Fisik: Evaluasi kelopak mata (blefaritis, MGD, posisi kelopak), konjungtiva, dan kornea.
  • Pemeriksaan Slit-Lamp: Menilai kualitas dan kuantitas film air mata.

Pemeriksaan Penunjang

Beberapa tes diagnostik spesifik untuk DED:

  • Tear Break-up Time (TBUT): Mengukur stabilitas film air mata. Setelah pewarnaan fluorescein, pasien diminta tidak berkedip. Waktu dari kedipan terakhir hingga munculnya area kering pertama kali diukur. Normal >10 detik, DED

Tatalaksana

Tujuan tatalaksana adalah memutus lingkaran setan inflamasi dan mengembalikan homeostasis film air mata. Pendekatan bertahap (stepped approach) sering digunakan.

Non-Farmakologis:

  • Edukasi Pasien: Menghindari faktor pemicu (angin, AC, asap rokok), sering berkedip saat menggunakan komputer, istirahat mata.
  • Modifikasi Lingkungan: Menggunakan humidifier, menghindari paparan langsung kipas/AC.
  • Kompres Hangat & Pijat Kelopak Mata: Untuk kasus MGD, membantu melarutkan sumbatan pada kelenjar Meibom.
  • Diet: Asupan asam lemak omega-3 (ikan, suplemen) dapat membantu mengurangi inflamasi.

Farmakologis:

  • Air Mata Buatan (Artificial Tears): Terapi lini pertama. Tersedia dalam berbagai formulasi (viskositas rendah/tinggi, bebas pengawet). Digunakan sesering mungkin sesuai kebutuhan.
  • Salep Mata: Digunakan terutama malam hari untuk retensi lebih lama.
  • Obat Anti-inflamasi:
    • Kortikosteroid Topikal Dosis Rendah: Digunakan jangka pendek untuk meredakan inflamasi akut.
    • Siklosporin A Topikal: Imunomodulator, digunakan jangka panjang untuk menekan inflamasi kronis dan meningkatkan produksi air mata alami.
    • Lifitegrast: Inhibitor LFA-1, mengurangi inflamasi pada permukaan okular.
  • Tetrasiklin Oral: Untuk MGD, memiliki efek anti-inflamasi dan mengubah komposisi lipid meibum.
  • Punctal Plugs: Sumbatan kecil yang ditempatkan di punctum lakrimal untuk menghambat drainase air mata, menjaga air mata lebih lama di permukaan mata.
  • Lensa Kontak Terapetik (Scleral Lenses): Menciptakan reservoir air mata di atas kornea.

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, DED dapat menyebabkan:

  • Kerusakan permukaan kornea (keratopati punctata).
  • Erosi kornea berulang.
  • Ulkus kornea steril atau infeksius.
  • Penurunan tajam penglihatan permanen (jarang, pada kasus berat).
  • Peningkatan risiko infeksi okular.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting dalam manajemen DED:

  • Kepatuhan Terapi: Menjelaskan pentingnya penggunaan air mata buatan secara teratur dan obat-obatan lain sesuai anjuran.
  • Modifikasi Gaya Hidup: Menghindari faktor pemicu, menjaga hidrasi tubuh, dan sering berkedip saat bekerja di depan layar.
  • Nutrisi: Menyarankan diet kaya omega-3 dan asupan vitamin A yang cukup, terutama pada pasien dengan risiko defisiensi.
  • Kontrol Rutin: Penting untuk memantau respons terapi dan mencegah komplikasi.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds