Penilaian Penglihatan pada Anak dan Pemeriksaan Klinis Mata

Pemeriksaan visus pada anak memerlukan pendekatan yang sistematis dan sabar.

Pemeriksaan Mata pada Anak Usia Sekolah

Pemeriksaan visus pada anak memerlukan pendekatan yang sistematis dan sabar, karena respons mereka mungkin belum stabil seperti orang dewasa.

Persiapan dan Teknik Dasar:

Tempatkan kartu Snellen, kartu E, atau kartu Allen pada jarak 5-6 meter dari anak, sejajar dengan level mata mereka. Pemeriksaan dilakukan secara monokuler (satu mata pada satu waktu), dimulai dari mata kanan. Instruksikan anak untuk menutup mata kiri dengan telapak tangan mereka—jangan gunakan penutup keras seperti lempeng kaca, karena hal ini dapat menyebabkan tekanan pada mata yang tidak perlu.

Kriteria Penting untuk Mencatat Hasil:

Ada satu aturan krusial yang sering membingungkan: kesalahan (misidentifikasi huruf atau gambar) tidak boleh mencapai setengah atau lebih dari jumlah simbol pada baris. Dengan kata lain, jika anak dapat membaca mayoritas simbol pada baris tersebut (lebih dari setengahnya benar), baris itu dihitung sebagai visus mereka. Jika kesalahan mencapai atau melebihi setengah jumlah simbol pada baris, turunkan ke baris sebelumnya dan catat hasil tersebut.

Analisa Hasil Visus pada Anak

Memahami bagaimana menginterpretasi dan mencatat hasil visus adalah keterampilan esensial dalam pemeriksaan mata.

Definisi Visus dan Pencatatan Standar:

Visus pada anak adalah baris huruf terkecil yang dapat disebutkan dengan benar secara konsisten. Jika ada satu atau lebih kesalahan pada baris tertentu, gunakan notasi "f" (singkat dari "faltive" yang berarti ada kesalahan) diikuti dengan jumlah kesalahan. Contohnya, jika anak membaca baris 6/18 dengan satu kesalahan, catat sebagai "6/18 f1".

Gradient Penurunan Visus untuk Kasus Lebih Berat:

Ketika anak tidak dapat melihat bahkan huruf terbesar pada kartu (6/60), Anda harus melanjutkan dengan tes alternatif:

  • Hitung jari (Finger Counting): Tunjukkan sejumlah jari pada jarak yang berbeda-beda untuk menilai visus dalam rentang 1/60 hingga 6/60. Catat sebagai "FC [jarak dalam meter]".
  • Gerakan tangan (Hand Movement): Jika anak tidak dapat menghitung jari bahkan pada jarak 1 meter, gerakkan tangan Anda dan minta anak mengatakan ke mana gerakan tersebut menuju. Ini menunjukkan visus sekitar 1/300.
  • Persepsi Cahaya (Light Perception): Jika anak hanya dapat melihat cahaya, catat sebagai "LP dengan proyeksi baik" (artinya, anak dapat menunjukkan arah sumber cahaya) atau "LP tanpa proyeksi" (anak hanya tahu ada cahaya, tapi tidak tahu arahnya).
  • Ketiadaan Persepsi Cahaya (No Light Perception): Jika anak tidak merasakan cahaya sama sekali pada mata tersebut, catat sebagai "NLP"—ini menunjukkan kebutaan total pada mata itu.

Poin Penting yang Sering Terlewatkan:

Jangan lompati langkah-langkah ini. Mencatat visus dengan benar adalah fondasi untuk memahami derajat gangguan penglihatan anak dan memandu keputusan klinis lebih lanjut.

Pemeriksaan Refraksi Subjektif (Visus pada Orang Dewasa)

Pada orang dewasa, prosedur pemeriksaan visus sangat mirip dengan anak, namun dengan beberapa penyesuaian minor karena kooperasi yang biasanya lebih baik.

Prosedur Standar:

Posisikan kartu Snellen pada jarak 5-6 meter. Periksa satu mata pada satu waktu, minta pasien menutup mata yang tidak diperiksa dengan telapak tangan. Mulai dari huruf terbesar dan minta pasien membaca baris demi baris hingga ke huruf terkecil yang masih dapat mereka baca dengan jelas.

Ingat kriteria kesalahan: jika pasien membuat kesalahan pada setengah atau lebih dari huruf pada baris tertentu, visus mereka adalah baris sebelumnya. Jika pasien tidak dapat melihat huruf terbesar, ikuti gradasi yang sama seperti pada anak: hitung jari ⇒ gerakan tangan ⇒ persepsi cahaya.

Pencatatan Hasil:

Notasi visus standar adalah format 6/x (atau 20/x dalam sistem Amerika), di mana 6 adalah jarak pemeriksaan dalam meter dan x adalah jarak di mana huruf tersebut seharusnya terlihat jelas pada mata normal. Contohnya, 6/12 berarti pasien harus berada pada jarak 6 meter untuk membaca huruf yang seharusnya terlihat jelas pada jarak 12 meter.

Pemeriksaan Lapang Pandang dengan Donders' Confrontation Test

Lapang pandang adalah seluruh area yang dapat dilihat oleh mata ketika mata memfiksasi (menatap) satu titik. Pemeriksaan Donders' Confrontation Test adalah tes screening sederhana untuk mendeteksi defek lapang pandang yang mungkin menunjukkan penyakit retina atau neurologis.

Teknik Pemeriksaan:

Mulai dengan meredupkan ruangan. Posisikan diri Anda sejajar dengan pasien dan tempatkan tangan Anda pada bidang imajiner di antara lutut kira-kira, sejajar dengan level mata pasien. Instruksikan pasien untuk menatap langsung ke depan atau fokus pada satu titik tetap (biasanya mata pemeriksa yang berlawanan).

Gerakkan jari atau tangan Anda secara perlahan-lahan melalui empat kuadran utama:

  • Kuadran temporal atas (nasal ke temporal, ke atas)
  • Kuadran temporal bawah (nasal ke temporal, ke bawah)
  • Kuadran nasal atas (temporal ke nasal, ke atas)
  • Kuadran nasal bawah (temporal ke nasal, ke bawah)

Tanyakan pasien kapan mereka pertama kali melihat jari atau tangan Anda. Catat apakah ada area di mana pasien tidak dapat melihat tangan Anda.

Tipe-Tipe Defek Lapang Pandang yang Penting untuk Dikenali:

Beberapa pola defek menunjukkan lokasi lesi yang spesifik:

  • Defek horizontal: Menunjukkan kerusakan area superior atau inferior retina (sering pada penyakit makula atau retina)
  • Hemianopsia bitemporal: Kehilangan lapang pandang pada kedua sisi temporal—ini adalah tanda klasik tekanan pada kiasma optikum (misalnya dari tumor hipofisis)
  • Hemianopsia homonim: Kehilangan setengah lapang pandang yang sama pada kedua mata (misalnya kehilangan di sebelah kanan pada kedua mata)—menunjukkan lesi pada jalur optic postchiasmal
  • Defek kuadranti: Kehilangan seperempat dari lapang pandang, sering terjadi pada lesi lobus temporal atau parietal

Catatan Penting:

Confrontation test adalah tes rough yang bergantung pada ketajaman visual pemeriksa dan perhatian pasien. Jika Anda mencurigai defek lapang pandang, perlu dilakukan pemeriksaan perimetri otomatis yang lebih presisi untuk konfirmasi.

Pemeriksaan Amsler Grid (Lapang Pandang Sentral)

Amsler Grid adalah tes khusus untuk menilai lapang pandang sentral (area sekitar 10 derajat dari fiksasi), yang sangat sensitif untuk mendeteksi penyakit makula.

Penjelasan dan Persiapan Pasien:

Sebelum memulai, jelaskan kepada pasien bahwa tes ini dirancang untuk mendeteksi distorsi kecil atau bagian yang hilang di garis-garis kotak. Minta pasien memegang grid pada jarak kurang lebih 36 cm dari mata mereka (jarak membaca normal). Instruksikan untuk menutup mata yang tidak diperiksa.

Prosedur Pemeriksaan:

Pasien harus memfiksasi pandangan pada titik pusat grid (titik kecil di tengah). Saat mempertahankan fiksasi, tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah garis-garis pada grid terlihat lurus atau melengkung/bengkok?
  • Apakah ada area di mana garis menghilang atau ada bintik hitam?
  • Apakah semua garis sama terangnya, atau ada area yang lebih gelap atau terang?

Dokumentasi Temuan:

Jika pasien melaporkan distorsi atau kehilangan, minta pasien menggambar area yang terkena pada kertas graph atau notepad grid kosong. Dokumentasi harus mencakup tanggal pemeriksaan dan identitas pasien. Ini sangat penting karena Anda akan membandingkan hasil dari waktu ke waktu untuk memantau perkembangan penyakit.

Interpretasi Abnormal:

Temuan abnormal pada Amsler Grid—distorsi garis (metamopsia) atau hilangnya garis—menunjukkan penyakit makula, yang paling sering terlihat pada:

  • Retinopati diabetik (pembengkakan makula diabetik)
  • Hipertensi (edema makula dari hipertensi)
  • Degenerasi makula (AMD Age-related Macular Degeneration)
  • Penyakit makula lainnya

Jika Anda menemukan abnormalitas pada Amsler Grid, rujuk pasien untuk pemeriksaan fundus dan OCT (Optical Coherence Tomography) untuk detail lebih lanjut.

Pemeriksaan Slit Lamp (Segmen Anterior)

Slit lamp adalah mikroskop khusus yang dirancang untuk memvisualisasikan struktur anterior mata dengan perbesaran tinggi. Ini adalah salah satu alat paling penting dalam oftalmologi.

Posisioning dan Persiapan:

Pasien duduk dengan dagu pada chinrest dan dahi pada forehead band. Pastikan posisi stabil. Nyalakan cahaya kuning pada intensitas rendah terlebih dahulu, kemudian tingkatkan intensitas sesuai kebutuhan untuk visualisasi optimal.

Struktur yang Diperiksa dan Apa yang Dicari:

Slit lamp memungkinkan pemeriksaan sistematis dari depan ke belakang segmen anterior:

  • Palpebra (kelopak mata): Nilai warna, adanya lesi, edema, atau tanda peradangan
  • Cilia (bulu mata): Periksa arah normal, adanya trichiasis (bulu mata yang tumbuh ke arah salah), atau madarosis (kehilangan bulu mata)
  • Konjungtiva: Nilai warna (kemerahan?), sekresi (bernanah, jernih, atau lendir?), papil (kemerahan bertitik-titik yang menunjukkan peradangan), folikel (benjolan kecil yang menunjukkan respons virus atau alergi), atau injeksi (dilatasi pembuluh darah)
  • Kornea: Ukuran, transparansi, lesi apa pun, neovaskularisasi (pembuluh darah baru), atau skar. Untuk mendeteksi defek kornea, teteskan fluorescein pada mata dan periksa dengan cahaya biru kobalt—area dengan lesi akan berubah hijau terang
  • Sklera: Nilai warna (apakah ada ikterus?) dan konsistensi
  • Bilik depan: Adanya darah (hifema) atau flare (turbiditas yang menunjukkan peradangan)
  • Iris: Struktur kriptae, adanya massa atau lesi
  • Pupil: Ukuran dan respons refleks cahaya
  • Lensa: Bentuk, posisi (apakah terdapat subluksasi?), dan kekeruhan (katarak)
  • Vitreus: Kejernihan—adanya kekeruhan atau sel-sel peradangan?

Tes Khusus dengan Fluorescein:

Ketika Anda mencurigai lesi kornea, prosedurnya adalah: (1) teteskan fluorescein; (2) periksa dengan cahaya biru; (3) area defek akan menyerap fluorescein dan berubah hijau.

Untuk Seidel test (mendeteksi fistula kornea atau ruptur), jangan bilas fluorescein setelah tetesnya. Amati dengan cermat—jika ada fistula, Anda akan melihat aliran warna hijau yang keluar dari area tersebut.

Refleks Cahaya: Langsung, Tidak Langsung, dan Swinging Flashlight Test

Pemeriksaan refleks pupil mengevaluasi fungsi aferen (sensori) dan eferen (motorik) jalur penglihatan. Ini adalah bagian penting dari pemeriksaan neurologis mata.

Persiapan:

Redupkan ruangan untuk membuat pupil lebih responsif terhadap perubahan cahaya. Minta pasien menatap ke arah target jauh (idealnya di level mata mereka) untuk menjaga pupil pada ukuran baseline yang konsisten.

Refleks Cahaya Langsung:

Gunakan penlight (senter kecil). Sinari mata kanan pasien dan amati kontraksi pupil pada mata yang sama (ini disebut refleks langsung). Ulangi prosedur pada mata kiri. Catat respons sebagai:

  • 4+: Respons normal—pupil berkontraksi cepat dan kuat
  • 3+: Respons agak berkurang
  • 2+: Respons minimal
  • 1+: Respons hampir tidak ada
  • 0: Tidak ada respons sama sekali

Refleks Cahaya Tidak Langsung (Konsensual):

Sinari mata kanan dan amati kontraksi pupil pada mata kiri (mata yang tidak disinari). Ini menguji koneksi antara jalur aferen di mata kanan dan nukleus okulomotor di tengah otak. Ulangi pada mata kiri.

Swinging Flashlight Test (Tes Pindah-pindah):

Tes ini sangat penting untuk mendeteksi RAPD (Relative Afferent Pupillary Defect)—sebuah tanda bahwa ada lesi pada jalur aferen (sensorik) dari satu mata.

Prosedurnya: Ayunkan cahaya penlight dengan cepat antara mata kanan dan kiri, menahan cahaya selama 2-3 detik pada setiap mata. Amati pupil mata yang sedang disinari (bukan mata lainnya). Pada mata normal, pupil harus tetap berkontraksi saat cahaya berpindah dari mata lain ke mata ini.

Namun, jika ada RAPD, pupil akan melebar saat cahaya diarahkan ke mata yang terkena. Ini terjadi karena mata yang terkena tidak dapat mengirim sinyal aferen yang cukup kuat ke otak, sehingga otak berpikir cahaya sudah dihilangkan (padahal sebenarnya tidak). Ini adalah tanda penting dari lesi pada saraf optik atau retina.

Interpretasi Abnormalitas:

Abnormalitas pada refleks pupil menunjukkan lesi pada jalur penglihatan:

  • Kerusakan saraf optik atau retina ⇒ RAPD pada mata yang terkena
  • Kerusakan saraf okulomotor (CN III) ⇒ pupil fixed (tidak bergerak) dan midriasis (melebar) pada sisi yang terkena
  • Kerusakan simpatik ⇒ pupil miosis (kecil) dan ptosis pada sisi yang terkena (Horner syndrome)

Pemeriksaan Tekanan Intraokular (IOP)

Tekanan intraokular adalah tekanan cairan di dalam mata. Peningkatan IOP yang berkelanjutan adalah tanda utama glaukoma. Ada beberapa metode untuk mengukur IOP, dari paling sederhana hingga paling akurat.

Metode 1: Palpasi (Tactile Tension)

Ini adalah metode paling sederhana dan tidak memerlukan alat, tapi paling subjektif.

Teknik:

Letakkan kedua jari telunjuk Anda pada palpebra superior pasien (di atas area tulang keras). Gunakan jari tangan yang lain untuk menekan bola mata secara lembut melalui palpebra. Rasakan resistensi terhadap tekanan Anda dan bandingkan dengan mata normal (atau dengan mata lainnya pada pasien yang sama jika mata satunya normal).

Pencatatan:

  • Tn (Tension normal): Tekanan terasa sama dengan baseline normal
  • Tn+: Tekanan lebih tinggi dari normal (keras)
  • Tn++: Tekanan jauh lebih tinggi (sangat keras)
  • Tn-: Tekanan lebih rendah dari normal (lunak)

Metode ini hanya estimasi kasar dan tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan definitif untuk glaukoma.

Metode 2: Tonometer Schiotz

Tonometer Schiotz adalah alat mekanis yang mengukur kedalaman indentasi kornea ketika beban standar ditempatkan padanya. Ini lebih objektif daripada palpasi.

Prosedur:

  • Anestesi: Teteskan anestesi lokal (tetrakain 0.5%) pada kornea
  • Persiapan: Instruksikan pasien untuk menatap langsung ke atas, posisikan mata mereka di bawah tonometer
  • Pengukuran: Letakkan tonometer pada kornea dengan beban 5,5 gram. Baca posisi jarum pada skala
  • Pengulangan: Ulangi pengukuran 2-3 kali
  • Konversi: Gunakan tabel Friedenwald untuk mengkonversi angka skala menjadi nilai mmHg

Kelebihan dan Kekurangan:

  • Kelebihan: Murah, portable, tidak memerlukan power
  • Kekurangan: Hasil dapat terpengaruh oleh rigiditas sklera pasien, memerlukan anestesi, subjektif dalam pembacaan

Metode 3: Tonometer Goldmann (Aplanasi)

Ini adalah standar emas untuk pengukuran IOP dan paling akurat.

Prosedur:

  • Persiapan prisma: Bersihkan prisma tonometer dengan hati-hati sebelum digunakan
  • Anestesi: Teteskan anestesi lokal pada kornea
  • Fluorescein: Teteskan fluorescein pada kornea (atau gunakan strip fluorescein yang dibasahi)
  • Posisi: Minta pasien menatap lurus ke depan, posisikan slit lamp dengan tonometer pada axis vertical
  • Penyesuaian fokus: Gerakkan slit lamp ke depan-belakang hingga Anda melihat dua setengah lingkaran fluorescein yang menekan pada prisma. Fokus hingga tampilan optimal
  • Pengukuran: Sesuaikan dial tekanan pada slit lamp hingga kedua setengah lingkaran bersentuhan di garis horizontal tengah
  • Pencatatan: Nilai pada dial pada saat bersentuhan adalah IOP dalam mmHg

Metode 4: Tonometer Non-Kontak

Ini adalah metode tanpa sentuhan yang paling nyaman untuk pasien, menggunakan puff udara untuk mengindentasi kornea.

Prosedur:

  • Penjelasan: Jelaskan kepada pasien bahwa mereka akan merasakan hembusan udara singkat
  • Posisi: Posisikan kepala pasien dengan stabil dalam headrest tonometer
  • Alignment: Atur ketinggian dan posisi sehingga pasien melihat target cahaya internal
  • Instruksi: Minta pasien tidak berkedip dan mempertahankan mata tetap buka
  • Pengukuran: Perangkat akan mengeluarkan hembusan udara dan secara otomatis mengukur serta menampilkan nilai IOP digital

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds