Pemeriksaan pendengaran pada anak merupakan aspek penting dalam deteksi dini dan manajemen gangguan pendengaran. Berbeda dengan pemeriksaan pada orang dewasa, pemeriksaan pada anak memerlukan pendekatan khusus yang disesuaikan dengan usia dan tingkat kooperatif anak. Dokter perlu memahami berbagai metode pemeriksaan mulai dari observasi perilaku hingga pengukuran objektif menggunakan teknologi canggih.
Sistem pendengaran janin mulai berkembang sejak dini dalam kehamilan. Koklea mencapai fungsi dewasa pada usia kehamilan sekitar 20 minggu, meskipun pemprosesan cortical masih terus berkembang setelah lahir. Pada tahap ini, janin sudah dapat merespons stimulus sonik dengan refleks fisiologis seperti refleks Moro (gerakan terkejut) dan refleks auropalpebral (kedipan mata menutup).
Setelah lahir, bayi normal mulai menunjukkan respons auditorik yang berkembang secara bertahap dalam rentang usia 2-12 bulan, termasuk respons vokal seperti menangis, mengeluarkan suara spontan, dan babbling (ocehan berulang-ulang).
Perkembangan bahasa pada anak melewati beberapa tahapan yang dapat diamati:
Keterlambatan dalam perkembangan bicara dan bahasa dapat menjadi indikasi awal gangguan pendengaran. Oleh karena itu, monitoring perkembangan auditorik dan bicara sejak dini sangat penting untuk deteksi dini gangguan pendengaran.
Infeksi maternal TORCH merupakan penyebab prenatal yang paling penting dan dapat diingat dengan singkatan:
Selain itu, faktor-faktor prenatal lain yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran mencakup:
Faktor-faktor saat persalinan dan periode neonatal awal dapat menyebabkan tuli sensorineural bilateral yang berat:
Setelah lahir, beberapa kondisi dapat mengakibatkan gangguan pendengaran:
BOA adalah metode pengamatan respons anak terhadap stimulus bunyi, yang merupakan fondasi pemeriksaan pendengaran pada bayi dan anak kecil (usia 0-3 tahun).
BOA dapat dibagi menjadi dua tipe:
Behavioral Reflex Audiometry: Metode ini mengamati respons refleks anak terhadap stimulus bunyi, yaitu respons yang terjadi secara otomatis tanpa pembelajaran. Contohnya:
Behavioral Response Audiometry: Metode ini mengamati respons aktif yang dipelajari, seperti:
Keuntungan BOA adalah sederhana, tidak invasif, dan dapat dilakukan di klinik umum, namun keakuratan tergantung pada pengalaman pemeriksa dan kooperatif anak.
Play audiometry adalah metode pemeriksaan yang menggabungkan pengujian pendengaran dengan permainan interaktif, sehingga anak tetap terlibat dan termotivasi selama pemeriksaan.
Metode ini dapat dilakukan pada anak usia 3-4 tahun ke atas, terutama jika anak cukup kooperatif. Prinsipnya adalah:
Play audiometry memberikan hasil yang lebih objektif daripada BOA karena anak memberikan respons yang terukur dan konsisten.
Hasil timpanometri diklasifikasikan menjadi beberapa tipe:
Timpanometri sangat cepat, objektif, dan tidak memerlukan respons aktif anak, sehingga sangat berguna pada bayi dan anak yang tidak kooperatif.
Hasil audiometri nada murni diplotkan pada audiogram, di mana:
Tes ini memerlukan anak berusia minimal 4-5 tahun dengan kooperatif yang baik.
Spontaneous OAE (SPOAE): OAE yang terjadi secara spontan tanpa stimulasi eksternal. Jenis ini jarang digunakan dalam praktik klinik karena tidak konsisten.
Evoked OAE: OAE yang dihasilkan sebagai respons terhadap stimulus. Terdapat dua jenis utama:
BERA menghasilkan 5 gelombang (I hingga V) yang masing-masing berasal dari struktur berbeda:
Parameter analisis meliputi:
AABR telah menjadi standar emas untuk skrining pendengaran bayi baru lahir di banyak negara. Program skrining universal newborn hearing screening (UNHS) menggunakan AABR karena:
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi