Pendengaran pada Anak dan Bayi

Materi pembelajaran Pendengaran pada Anak dan Bayi untuk mahasiswa kedokteran gigi.

Pengantar

Pemeriksaan pendengaran pada anak merupakan aspek penting dalam deteksi dini dan manajemen gangguan pendengaran. Berbeda dengan pemeriksaan pada orang dewasa, pemeriksaan pada anak memerlukan pendekatan khusus yang disesuaikan dengan usia dan tingkat kooperatif anak. Dokter perlu memahami berbagai metode pemeriksaan mulai dari observasi perilaku hingga pengukuran objektif menggunakan teknologi canggih.

Perkembangan Auditorik pada Bayi dan Anak

Sebelum mempelajari metode pemeriksaan, penting untuk memahami perkembangan pendengaran normal pada bayi dan anak, karena ini menjadi dasar untuk mengidentifikasi keterlambatan atau kelainan.

Perkembangan Pranatal dan Awal Kehidupan

Sistem pendengaran janin mulai berkembang sejak dini dalam kehamilan. Koklea mencapai fungsi dewasa pada usia kehamilan sekitar 20 minggu, meskipun pemprosesan cortical masih terus berkembang setelah lahir. Pada tahap ini, janin sudah dapat merespons stimulus sonik dengan refleks fisiologis seperti refleks Moro (gerakan terkejut) dan refleks auropalpebral (kedipan mata menutup).

Setelah lahir, bayi normal mulai menunjukkan respons auditorik yang berkembang secara bertahap dalam rentang usia 2-12 bulan, termasuk respons vokal seperti menangis, mengeluarkan suara spontan, dan babbling (ocehan berulang-ulang).

Tahapan Perkembangan Bicara

Perkembangan bahasa pada anak melewati beberapa tahapan yang dapat diamati:

  • Babbling tanpa arti (usia 2-4 bulan): Anak mengeluarkan suara vokal spontan
  • Kombinasi vokal-konsonan (usia 4-6 bulan): Anak mulai menggabungkan bunyi vokal dan konsonan
  • True babbling (usia 6-8 bulan): Ocehan menjadi lebih terstruktur dengan pengulangan suku kata
  • Ekolalia (usia 8-10 bulan): Anak mulai meniru suara yang didengarnya
  • Kata bermakna pertama (usia 12-18 bulan): Anak mengucapkan kata yang memiliki makna, seperti "mama" atau "dada"

Keterlambatan dalam perkembangan bicara dan bahasa dapat menjadi indikasi awal gangguan pendengaran. Oleh karena itu, monitoring perkembangan auditorik dan bicara sejak dini sangat penting untuk deteksi dini gangguan pendengaran.

Penyebab Gangguan Pendengaran pada Bayi dan Anak

Gangguan pendengaran pada anak dapat terjadi pada berbagai tahap perkembangan. Memahami faktor risiko membantu dalam identifikasi dan manajemen awal.

Faktor Prenatal

Infeksi maternal TORCH merupakan penyebab prenatal yang paling penting dan dapat diingat dengan singkatan:

  • Toksoplasma
  • Other (sifilis)
  • Rubela
  • Cytomegalovirus (CMV)
  • Herpes simplex

Selain itu, faktor-faktor prenatal lain yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran mencakup:

  • Faktor genetik: Mutasi gen yang mengatur perkembangan koklea dan struktur pendengaran
  • Nutrisi defisit: Kekurangan iodium dapat mengganggu perkembangan sistem saraf pendengaran
  • Pajanan obat ototoksik: Misalnya aminoglikosida yang ibu menerima selama kehamilan
  • Kelainan anatomi kongenital: Atresia liang telinga (saluran telinga luar tidak terbentuk) atau aplasia koklea (koklea tidak terbentuk)

Faktor Perinatal

Faktor-faktor saat persalinan dan periode neonatal awal dapat menyebabkan tuli sensorineural bilateral yang berat:

  • Prematuritas dan berat lahir rendah (
  • Hiperbilirubinemia (kadar bilirubin serum tinggi yang dapat merusak inti batang otak)
  • Asfiksia (kekurangan oksigen saat persalinan)
  • Infeksi neonatal (sepsis, infeksi bakteri atau virus dalam periode neonatal awal)

Faktor Postnatal

Setelah lahir, beberapa kondisi dapat mengakibatkan gangguan pendengaran:

  • Infeksi: Rubela, campak, atau meningitis bakteri dapat merusak saraf pendengaran (tuli sensorineural)
  • Trauma temporal: Fraktur tulang temporal dari cedera kepala dapat mengganggu struktur dan fungsi pendengaran
  • Otitis media kronis: Inflamasi kronis telinga tengah dapat menyebabkan gangguan pendengaran konduktif atau sensorineural

Metode Pemeriksaan Pendengaran pada Anak

Terdapat berbagai metode untuk menilai pendengaran anak, dari pengamatan perilaku sederhana hingga tes objektif yang canggih. Pemilihan metode tergantung pada usia anak, tingkat kooperatif, dan informasi yang ingin diperoleh.

Behavioral Observation Audiometry (BOA)

BOA adalah metode pengamatan respons anak terhadap stimulus bunyi, yang merupakan fondasi pemeriksaan pendengaran pada bayi dan anak kecil (usia 0-3 tahun).

BOA dapat dibagi menjadi dua tipe:

Behavioral Reflex Audiometry: Metode ini mengamati respons refleks anak terhadap stimulus bunyi, yaitu respons yang terjadi secara otomatis tanpa pembelajaran. Contohnya:

  • Refleks auropalpebral: Kedipan mata menutup saat mendengar bunyi keras
  • Refleks Moro: Gerakan terkejut (lengan membentang) saat mendengar bunyi keras tiba-tiba

Behavioral Response Audiometry: Metode ini mengamati respons aktif yang dipelajari, seperti:

  • Lokalisasi kepala: Anak menolehkan kepala mencari sumber suara
  • Perubahan aktivitas bermain saat mendengar suara
  • Ekspresi wajah yang menunjukkan anak mendengar

Keuntungan BOA adalah sederhana, tidak invasif, dan dapat dilakukan di klinik umum, namun keakuratan tergantung pada pengalaman pemeriksa dan kooperatif anak.

Play Audiometry

Play audiometry adalah metode pemeriksaan yang menggabungkan pengujian pendengaran dengan permainan interaktif, sehingga anak tetap terlibat dan termotivasi selama pemeriksaan.

Metode ini dapat dilakukan pada anak usia 3-4 tahun ke atas, terutama jika anak cukup kooperatif. Prinsipnya adalah:

  • Anak diinstruksikan untuk melakukan tindakan tertentu (misalnya memasukkan balok ke kotak) saat mendengar nada murni
  • Stimulus berupa nada murni pada berbagai frekuensi disajikan melalui headphone atau speaker
  • Respons anak digunakan untuk menentukan ambang dengar pada setiap frekuensi

Play audiometry memberikan hasil yang lebih objektif daripada BOA karena anak memberikan respons yang terukur dan konsisten.

Timpanometri

Timpanometri adalah tes objektif yang mengukur kepatuhan (compliance) membran timpani dan tekanan telinga tengah. Tes ini penting untuk membedakan gangguan pendengaran konduktif (telinga tengah) dari sensorineural (koklea/saraf).

Prinsip Kerja

Probe yang dimasukkan ke liang telinga memancarkan tone probe (biasanya 226 Hz) dan mengukur berapa banyak bunyi yang dipantulkan kembali. Bila membran timpani patuh (normal), lebih sedikit bunyi yang dipantulkan. Bila stiff atau ada cairan, lebih banyak bunyi yang dipantulkan.

Interpretasi Hasil

Hasil timpanometri diklasifikasikan menjadi beberapa tipe:

  • Tipe A: Kepatuhan normal dengan puncak pada tekanan normal (0 daPa). Ini adalah hasil normal yang menunjukkan telinga tengah berfungsi baik.
  • Tipe B: Kepatuhan sangat rendah dengan puncak yang datar. Ini menunjukkan cairan di telinga tengah (efusi telinga tengah) atau membran timpani yang rusak/tidak dapat bergerak.
  • Tipe C: Puncak bergeser ke tekanan negatif (lebih negatif dari 100 daPa). Ini menunjukkan disfungsi tuba Eustachius yang tidak dapat menyamakan tekanan telinga tengah dengan luar, biasanya dijumpai pada rinitis alergi atau adenoiditis.

Timpanometri sangat cepat, objektif, dan tidak memerlukan respons aktif anak, sehingga sangat berguna pada bayi dan anak yang tidak kooperatif.

Audiometri Nada Murni

Audiometri nada murni adalah standar emas untuk pengukuran ambang dengar pada anak yang cukup besar dan kooperatif. Tes ini mengukur kemampuan anak mendengar nada pada berbagai frekuensi.

Frekuensi yang Diuji

  • Hantar udara (air conduction): Frekuensi 125 Hz hingga 8000 Hz
  • Hantar tulang (bone conduction): Frekuensi 500 Hz hingga 4000 Hz

Hantar tulang digunakan untuk membedakan apakah gangguan pendengaran berasal dari telinga luar/tengah (konduktif) atau koklea/saraf (sensorineural).

Interpretasi

Hasil audiometri nada murni diplotkan pada audiogram, di mana:

  • Sumbu horizontal menunjukkan frekuensi (Hz)
  • Sumbu vertikal menunjukkan intensitas (dB)
  • Perbedaan antara ambang hantar udara dan hantar tulang menunjukkan adanya komponen gangguan konduktif

Tes ini memerlukan anak berusia minimal 4-5 tahun dengan kooperatif yang baik.

Emisi Otoakustik (OAE)

Emisi otoakustik (OAE) adalah bunyi yang dipancarkan oleh koklea dalam merespons stimulus akustik. Kehadiran OAE menunjukkan koklea berfungsi normal, sementara absennya menunjukkan gangguan koklea.

Keuntungan OAE

  • Objektif: Tidak memerlukan respons aktif anak
  • Cepat: Pemeriksaan hanya memerlukan beberapa menit
  • Sangat berguna untuk skrining bayi dan anak
  • Dapat dilakukan bahkan pada bayi yang sedang tidur

Jenis-Jenis OAE

Spontaneous OAE (SPOAE): OAE yang terjadi secara spontan tanpa stimulasi eksternal. Jenis ini jarang digunakan dalam praktik klinik karena tidak konsisten.

Evoked OAE: OAE yang dihasilkan sebagai respons terhadap stimulus. Terdapat dua jenis utama:

  • Transient Evoked OAE (TEOAE): Diinduksi dengan stimulus bunyi click. Memberikan respons pada berbagai frekuensi sekaligus. Umum digunakan dalam program skrining pendengaran bayi baru lahir.
  • Distortion Product OAE (DPOAE): Diinduksi dengan dua tone frekuensi berbeda yang disajikan bersamaan. Memberikan respons pada frekuensi spesifik. Lebih stabil dan lebih sedikit terpengaruh oleh noise latar dibanding TEOAE.

Interpretasi

  • OAE (+) atau Present: Koklea normal, kemungkinan pendengaran normal atau gangguan hanya pada saraf pendengaran (retrocochlear)
  • OAE (-) atau Absent: Gangguan koklea (sensorineural hearing loss), memerlukan pemeriksaan lanjutan

Brainstem Auditory Evoked Response (BERA)

BERA adalah rekaman aktivitas listrik batang otak yang diinduksi oleh stimulus sonik, memberikan informasi tentang konduksi saraf pendengaran dari koklea hingga batang otak.

Prinsip Kerja

Electrode ditempatkan di scalp untuk merekam aktivitas listrik. Stimulus (click atau tone) disajikan melalui earphone, dan response direkam dan dianalisis komputer.

Interpretasi Dasar

BERA menghasilkan 5 gelombang (I hingga V) yang masing-masing berasal dari struktur berbeda:

  • Gelombang I: Saraf pendengaran (nerve VIII)
  • Gelombang II: Inti koklea ventral
  • Gelombang III: Inti koklea dorsal
  • Gelombang IV-V: Lemniskus medial dan kolikulus inferior

Parameter analisis meliputi:

  • Morfologi gelombang: Bentuk dan amplitudo gelombang seharusnya jelas dan terdefenisi
  • Masa laten absolut: Waktu antara stimulus dan munculnya setiap gelombang (normal: I=1.5 ms, V=5.5 ms). Laten yang memanjang menunjukkan gangguan konduksi saraf
  • Interpeak latency: Waktu antara dua gelombang (I-III, III-V, I-V). Nilai yang memanjang menunjukkan gangguan di antara struktur tersebut
  • Interaural latency: Perbedaan laten antara telinga kanan dan kiri. Perbedaan >0.3 ms dapat menunjukkan patologi unilateral

Keuntungan BERA

  • Objektif dan tidak memerlukan respons aktif anak
  • Dapat dilakukan bahkan pada anak dalam sedasi atau tidur
  • Dapat mendeteksi gangguan tidak hanya pada pendengaran, tetapi juga pada batang otak
  • Berguna untuk menentukan etiologi gangguan pendengaran

BERA dengan Toneburst

BERA dengan toneburst merupakan modifikasi BERA standar yang menggunakan stimulus tone pada frekuensi spesifik (500 Hz, 1000 Hz, 2000 Hz, 4000 Hz) daripada click yang berisi multiple frekuensi.

Manfaat

  • Memungkinkan penentuan ambang dengar pada frekuensi spesifik, sehingga dapat memprediksi bentuk audiogram
  • Lebih informatif untuk perencanaan intervensi (misalnya pemilihan alat bantu dengar yang sesuai frekuensi)
  • Berguna pada anak yang tidak dapat menjalani audiometri nada murni

Automated Auditory Brainstem Response (AABR)

AABR adalah versi otomatis dari BERA yang menggunakan algoritma untuk mengidentifikasi kehadiran gelombang V secara otomatis, tanpa memerlukan interpretasi visual oleh audiolog. Hasil adalah pass (normal) atau refer (perlu pemeriksaan lanjutan).

Karakteristik Klinik

  • Stimulus: Click pada intensitas tertentu (biasanya 35 dB)
  • Sensitivitas: 99.96% (kemampuan mendeteksi gangguan pendengaran)
  • Spesifisitas: 98.7% (kemampuan mendeteksi normal)
  • Waktu pemeriksaan: Cepat, hanya beberapa menit

Penggunaan Klinis

AABR telah menjadi standar emas untuk skrining pendengaran bayi baru lahir di banyak negara. Program skrining universal newborn hearing screening (UNHS) menggunakan AABR karena:

  • Objektif dan tidak memerlukan respons aktif
  • Dapat dilakukan saat bayi tidur
  • Hasil akurat dengan false positive rate rendah

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds