Uremia yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi berbahaya:
Hipertensi tidak terkontrol yang meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung
Edema paru akut (penumpukan cairan di paru-paru) yang dapat mengancam pernapasan
Gangguan elektrolit (terutama hiperkalemia) yang dapat menyebabkan aritmia jantung
Perdarahan gastrointestinal
Ensefalopati uremik (gangguan kesadaran akibat toksin uremik)
Kelainan Struktur Ginjal dan Saluran Kemih
Displasia atau hipoplasia ginjal (ginjal tidak berkembang sempurna)
Refluks vesikoureter (urin mengalir kembali ke ureter dan ginjal)
Kelainan kongenital traktus urinarius lainnya (obstruksi, duplikasi, dysplasia)
Kelainan kandung kemih, baik neurogenik (akibat kelainan saraf, seperti spina bifida) maupun non-neurogenik
Kondisi Medis Spesifik
Riwayat sindrom hemolitik uremik (HUS), yaitu penyakit yang menyebabkan kerusakan akut pada ginjal
Riwayat glomerulopati sebelumnya (penyakit glomerulus yang sudah pernah dialami)
Tumor atau trauma pada saraf tulang belakang yang dapat mempengaruhi fungsi kandung kemih dan aliran urin
Faktor Metabolik dan Gaya Hidup
Obesitas atau berat badan berlebih meningkatkan tekanan pada ginjal dan meningkatkan risiko hipertensi serta diabetes
Kebiasaan minum kurang optimal
Ibu hamil harus menghindari paparan beberapa obat yang bersifat nefrotoksik:
ACE-inhibitor dan ARB (obat untuk hipertensi) dapat mengganggu perkembangan ginjal janin
NSAID (obat anti-inflamasi seperti ibuprofen) dapat mengurangi aliran darah ke ginjal
Aminoglikosida (antibiotik jenis tertentu) bersifat nefrotoksik
Ibu hamil juga harus:
Mengendalikan berat badan, menjaga kadar lipid (dislipidemia), dan nutrisi yang seimbang
Mencegah infeksi teratogenik yang dapat merusak janin seperti rubella, toxoplasmosis, dan CMV (sitomegalovirus)
Mengkonsumsi suplemen asam folat untuk mencegah kelainan neural tube
Menghindari rokok dan alkohol baik selama kehamilan maupun menyusui
Setelah Kelahiran (Masa Pascanatal)
Nutrisi optimal bayi: memberikan ASI eksklusif (tanpa makanan atau minuman lain) selama 6 bulan pertama
Hindari diet dengan protein berlebihan pada bayi, karena protein yang tinggi dapat membebani ginjal
Kontrol pertumbuhan berat badan: obesitas pada masa kanak-kanak menjadi faktor risiko hipertensi dan penyakit ginjal di kemudian hari
Promosi gaya hidup sehat: mendorong aktivitas fisik yang cukup dan pola makan sehat, termasuk diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang kaya akan sayur, buah, dan rendah natrium
Anak-anak berisiko tinggi memerlukan skrining berkala dengan:
Rasio albumin/kreatinin urin (ACR): mengukur jumlah albumin (protein) dalam urin yang menunjukkan kerusakan glomerulus
Estimated glomerular filtration rate (eGFR): diukur menggunakan rumus CKD-EPI yang telah disesuaikan untuk usia anak
Pedoman rujukan bergantung pada hasil eGFR dan ACR:
Kondisi
eGFR ≥60 mL/menit/1,73 m² DAN ACR
Manajemen Nutrisi
Diet rendah protein dan fosfat: membatasi beban limbah metabolik pada ginjal
Kontrol asupan natrium untuk membantu kontrol tekanan darah
Monitoring ketat kalori dan nutrisi mikro
Kontrol Anemia dan Metabolisme Mineral-Tulang
Anemia: sering terjadi pada PGK akibat penurunan eritropoietin; ditatalaksana dengan terapi pengganti eritropoietin atau transfusi darah jika diperlukan
Vitamin D: normalisasi kadar vitamin D penting untuk mencegah hiperparatiroidisme sekunder
Kontrol gangguan mineral-tulang (CKD-MBD): melalui pengawasan kadar kalsium, fosfat, hormon paratiroid, dan penggunaan binder fosfat
Koreksi asidosis metabolik: dengan bikarbonat jika diperlukan, karena asidosis dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal
Beberapa tindakan klinis khusus diperlukan pada periode neonatal dan awal kehidupan untuk mencegah perkembangan PGK:
Pencegahan berat lahir rendah dan prematur melalui penjagaan kesehatan ibu hamil yang optimal
Pemantauan albuminuria dan tekanan darah secara berkala sejak dini
Hindari obat nefrotoksik: ACE-inhibitor, ARB, NSAID, dan aminoglikosida harus digunakan dengan hati-hati dan hindari jika memungkinan pada bayi dengan risiko tinggi
Hati-hati penggunaan kontras radiologi: kontras yang mengandung iodine dapat bersifat nefrotoksik, terutama pada bayi dengan volume intravaskular rendah
Koreksi dini hipovolemia (kekurangan volume cairan): berikan terapi cairan yang agresif dan tepat untuk mempertahankan perfusi ginjal yang adekuat
Penatalaksanaan dini kondisi-kondisi akut seperti sepsis, infeksi saluran kemih, glomerulopati akut, hiperkalemia, poliuria, dan bikarbonaturia dapat mencegah kerusakan ginjal akut yang berkembang menjadi PGK
Pencegahan PGK dimulai dengan mengidentifikasi anak-anak berisiko tinggi, kemudian dilanjutkan dengan:
Pencegahan primer sejak masa antenatal hingga masa awal kehidupan untuk mengurangi faktor risiko
Pencegahan sekunder melalui skrining berkala dan rujukan tepat waktu pada anak dengan tanda-tanda PGK awal
Pencegahan tersier untuk mengurangi komplikasi pada PGK yang sudah berkembang