Tanyakan fitur-fitur kunci berikut:
Warna dan konsistensi tinja (membedakan melena vs hematokezia)
Gejala terkait: nyeri perut, tenesmus, diare, konstipasi
Penggunaan obat: antikoagulan, antiplatelet, NSAID (meningkatkan risiko)
Gejala sistemik: demam, berat badan turun, artralgia (sugestif untuk IBD atau keganasan)
Riwayat keluarga: kanker kolorektal, sindrom Lynch (meningkatkan risiko keganasan)
Riwayat medis: penyakit hati, penyakit jantung, gangguan koagulasi
Pemeriksaan Fisik
Stabilitas hemodinamik: tekanan darah, detak jantung, perfusi perifer
Tanda hipovolemia: takikardia, hipotensi ortostatik (perbedaan sistolik ≥20 mmHg atau diastolik ≥10 mmHg dari berbaring ke berdiri)
Pemeriksaan perut: nyeri, distensi, massa
Pemeriksaan rektal: hemoroid, fissura, masa, darah pada sarung tangan
Pemeriksaan Laboratorium
Hitung darah lengkap: hemoglobin awal (mungkin normal jika perdarahan baru), indeks sel darah merah untuk mendeteksi anemia kronik
Kimia serum: ureum, kreatinin (fungsi ginjal), elektrolit
Tes koagulasi: waktu protrombin/INR, waktu tromboplastin parsial jika pada antikoagulan atau riwayat penyakit hati
Fungsi hati: untuk menyingkirkan portal hipertensi sebagai penyebab varises
Monitoring berkelanjutan: periksa hemoglobin setiap 2-12 jam bergantung pada stabilitas, transfusi jika Hb
Kolonoskopi adalah standar emas untuk diagnosis dan terapi PSCB (Rekomendasi Kelas Ia). Prosedur ini menawarkan keuntungan signifikan:
Identifikasi lokasi pasti sumber perdarahan
Biopsi jika diperlukan (misalnya untuk kolitis atau neoplasia)
Intervensi terapeutik langsung: injeksi epinefrin, termokoagulasi, klip, atau ligasi
EGD diperlukan dalam skenario tertentu:
Perdarahan masif dengan instabilitas hemodinamik yang mengisyaratkan kemungkinan perdarahan atas
Melena sebagai gejala utama
Kolonoskopi negatif tetapi perdarahan berlanjut (evaluasi sumber lesi atas yang terlewatkan)
Kontraindikasi VCE:
Obstruksi usus parsial atau lengkap (risiko impaksi kapsul)
Kehamilan
Ketidakmampuan menelan
Pacemaker atau implantable cardioverter-defibrillator (perhatian FDA terkait interferensi magnet, meskipun teknologi terbaru lebih aman)
Metode enteroskopi tersedia:
Push enteroscopy: instrumen 200-250 cm dapat mencapai 25-80 cm jejunum distal
Enteroskopi intraoperatif: untuk kasus yang jarang
Balloon enteroscopy (single atau double balloon): memungkinkan akses lebih dalam ke usus halus
Spiral enteroscopy: teknik baru untuk penetrasi maximal