Diabetes tipe-1 pada anak sering kali muncul dengan gejala yang tiba-tiba dalam rentang 2-6 minggu. Orangtua biasanya membawa anak ke dokter karena gejala yang mencolok:
Poliuria (buang air kecil sering): anak menjadi sering berkemih, bahkan pada anak yang sudah toilet trained mungkin tiba-tiba mengalami enuresis (mengompol) lagi
Polidipsia (minum berlebihan): anak menjadi sangat haus dan minum air dalam jumlah banyak
Penurunan berat badan cepat: meskipun anak makan normal atau bahkan makan lebih banyak (polifagia), berat badannya turun signifikan dalam beberapa minggu
Kelemahan umum dan iritabilitas: anak terlihat lemas dan mudah marah
Diagnosis diabetes tipe-1 ditegakkan ketika gejala klasik disertai dengan hiperglikemia:
Glukosa puasa ≥ 126 mg/dL (≥ 7 mmol/L), atau
Glukosa sembarang ≥ 200 mg/dL (≥ 11,1 mmol/L) dengan gejala, atau
HbA1c ≥ 6,5% (48 mmol/mol)
Dalam sistem ini, insulin dibagi menjadi dua komponen:
Insulin basal: insulin long-acting (seperti insulin glargine atau detemir) yang diberikan 1-2 kali sehari untuk memenuhi kebutuhan insulin saat puasa dan istirahat
Insulin bolus (prandial): insulin short-acting atau rapid-acting (seperti insulin aspart atau lispro) yang diberikan sebelum makan untuk menutupi karbohidrat yang dikonsumsi
Pompa insulin adalah alat kecil seperti pager yang terus-menerus memberikan insulin melalui selang (infusion set) yang ditanam di bawah kulit. Pompa ini:
Memberikan insulin basal secara kontinyu
Memungkinkan anak/orangtua untuk memberikan bolus insulin pada saat makan dengan lebih fleksibel
Cocok untuk anak yang aktif atau yang memerlukan kontrol glukosa yang sangat ketat
Dosis insulin tidak tetap sepanjang waktu. Dosis perlu disesuaikan berdasarkan pola glukosa darah anak:
Jika pola glukosa menunjukkan gula darah tinggi sebelum makan (preprandial), biasanya dosis insulin basal perlu ditingkatkan
Jika gula darah tinggi setelah makan (postprandial), dosis insulin bolus perlu ditingkatkan atau perhitungan karbohidrat perlu diperbaiki
Asupan makanan yang berbeda-beda memerlukan penyesuaian bolus insulin
Aktivitas fisik yang meningkat dapat mengurangi kebutuhan insulin, sehingga dosis perlu dikurangi untuk mencegah hipoglikemia
Teknik penyuntikan yang benar:
Rotasi situs penyuntikan: insulin dapat disuntikkan di abdomen, paha, lengan, atau bokong. Situs penyuntikan harus dirotasi untuk menghindari lipohipertrofi (penebalan jaringan lemak) yang dapat mengganggu penyerapan insulin
Setiap situs yang baru dipilih harus berjarak minimal 1 cm dari suntikan sebelumnya
Menggunakan jarum yang sama berkali-kali atau menggunakan jarum yang tumpul dapat menyebabkan nyeri dan penyerapan insulin yang tidak konsisten
Penyimpanan insulin:
Insulin yang belum dibuka harus disimpan pada suhu 2-8 °C (lemari es)
Insulin yang sedang digunakan dapat disimpan pada suhu ruangan (di bawah 30 °C) selama maksimal 28 hari
Hindari menyimpan insulin di dekat lampu panas atau di bawah sinar matahari langsung
Jangan gunakan kembali jarum atau pena insulin karena risiko infeksi dan kerusakkan jarum
Monitoring glukosa darah mandiri adalah kunci untuk mendeteksi pola glukosa dan menyesuaikan terapi insulin. Pada anak dengan DM1, pemeriksaan glukosa darah perlu dilakukan minimal 4-6 kali sehari:
Sebelum sarapan (puasa)
Sebelum makan siang
Sebelum makan malam
Sebelum tidur (bedtime)
Kadang-kadang: 2-3 jam setelah makan (postprandial) atau tengah malam
Target kadar glukosa pada anak dengan DM1 adalah 70-180 mg/dL (3,9-10 mmol/L), tetapi target dapat disesuaikan tergantung:
Usia anak: anak yang sangat kecil (< 6 tahun) mungkin memiliki target yang sedikit lebih tinggi (80-200 mg/dL) untuk mengurangi risiko hipoglikemia berat
Kondisi klinis: anak dengan gejala autonomic failure atau yang kesulitan mengenali hipoglikemia mungkin memiliki target yang lebih tinggi
Durasi DM: pada anak baru diagnosis, target awal mungkin lebih tinggi untuk menghindari hipoglikemia saat masih dalam tahap adaptasi
KAD didiagnosis ketika semua kriteria berikut terpenuhi:
Glukosa ≥ 200 mg/dL (≥ 11,1 mmol/L)
Asidosis metabolik (pH < 7,35 atau HCO3- < 18 mEq/L)
Ketonemia atau ketonuria positif
Gejala klinis KAD meliputi:
Napas cepat dan dalam (Kussmaul respiration)
Napas berbau seperti aseton (fruity odor)
Mual, muntah
Nyeri perut
Kelemahan progresif, penurunan kesadaran hingga koma
Penatalaksanaan KAD memiliki urutan yang sangat penting:
Rehidrasi (Langkah Pertama)
Anak dengan KAD selalu mengalami dehidrasi akibat poliuria dan kehilangan asupan oral
Rehidrasi dilakukan dengan infus kristaloid isotonis (NaCl 0,9%)
Volume rehidrasi disesuaikan dengan derajat dehidrasi (biasanya 1,5-2 jam pertama)
Insulin hanya diberikan setelah rehidrasi sudah dimulai, bukan sebelumnya
Insulin (Mulai 1-2 jam setelah rehidrasi)
Dosis insulin regular 0,1 unit/kgBB/jam intravena atau 0,15 unit/kgBB bolus IV kemudian 0,1 unit/kgBB/jam
Tujuan adalah menurunkan glukosa secara perlahan-lahan, bukan menurunkan dengan cepat
Jika glukosa turun terlalu cepat, risiko edema serebral meningkat
Suplementasi Kalium
Meskipun glukosa tinggi, kalium serum seringkali rendah pada anak dengan KAD
Kalium perlu disuplementasi dalam infus untuk mencegah aritmia jantung
Kalium hanya ditambahkan setelah urin sudah keluar (pastikan ginjal masih berfungsi)
Bikarbonat (Hindari kecuali indikasi khusus)
Bikarbonat tidak rutin diberikan pada KAD ringan hingga sedang
Bikarbonat hanya diberikan jika pH < 7,0 dan ada tanda-tanda gangguan hemodinamik atau kesadaran menurun drastis
Pemberian bikarbonat dapat memperburuk hypokalemia dan meningkatkan risiko edema serebral
Gejala dapat dibagi menjadi dua fase:
Fase awal (Sympathetic): tremor, keringat dingin, detak jantung cepat, kegelisahan, rasa lapar, kesemutan di mulut
Fase lanjut (Neuroglycopenic): kesulitan konsentrasi, perilaku aneh, bingung, kehilangan kesadaran, kejang
Tatalaksana hipoglikemia tergantung pada tingkat kesadaran anak:
Hipoglikemia ringan (anak sadar dan dapat menelan): berikan glukosa oral cepat
Contoh: 15 gram karbohidrat sederhana seperti 3-4 tablet glukosa, 1 gelas jus jeruk, atau 3-4 permen
Tunggu 15 menit, kemudian periksa glukosa ulang
Jika masih < 70 mg/dL, ulangi pemberian glukosa
Setelah glukosa mencapai > 100 mg/dL, berikan makanan yang mengandung protein dan lemak (contoh: sandwich) untuk mencegah hipoglikemia berulang
Hipoglikemia berat (anak tidak sadar atau tidak dapat menelan): berikan glukosa intravena
Dosis: glukosa 0,5 g/kgBB (maksimal 25 gram) IV bolus cepat, dapat diulang setiap 10-15 menit
Alternatif: adrenalin (epinephrine) 0,01 mg/kgBB IM jika akses IV tidak tersedia
Kesimpulan Kunci
Diagnosis DM1 pada anak harus dilakukan dengan cepat berdasarkan gejala klasik dan hiperglikemia untuk mencegah KAD
Insulin adalah terapi utama dan wajib untuk semua anak dengan DM1, dengan regimen basal-bolus atau pompa sesuai kebutuhan
Monitoring glukosa mandiri 4-6 kali sehari membantu keluarga memahami pola glukosa dan menyesuaikan dosis insulin
KAD adalah komplikasi akut yang mengancam jiwa, ditangani dengan rehidrasi dulu, baru insulin, ditambah suplementasi kalium
Hipoglikemia ditangani cepat dengan glukosa oral atau IV tergantung tingkat kesadaran anak