Penanganan Komorbiditas

Penatalaksanaan angina, hipertensi, dan diabetes pada pasien gagal jantung.

Jika pasien tidak dapat menoleransi β-blocker (misalnya karena bradikardia berat atau kontraindikasi lain), beberapa pilihan tersedia:

Ivabradine: mengurangi detak jantung melalui mekanisme unik (inhibitor HCN channel) tanpa menurunkan tekanan darah atau kontraktilitas Nitrat oral atau transkutan: vasodilator yang mengurangi preload dan kebutuhan oksigen Amlodipin: calcium channel blocker dengan efek kardioprotektif relatif (berbeda dari verapamil dan diltiazem) Nicorandil: K-ATP channel opener dengan efek vasodilatasi

Langkah awal mengelola hipertensi pada gagal jantung adalah mengoptimalkan:

ACE-inhibitor atau ARB β-blocker Mineralocorticoid receptor antagonist (MRA) Diuretik

Jika kombinasi ini masih tidak mencapai target tekanan darah, dapat ditambahkan:

Hidralazin: vasodilator langsung yang bermanfaat pada gagal jantung Amlodipin: CCB pilihan untuk HFREF

Tiga jenis obat direkomendasikan karena mengurangi mortalitas dan rehospitalisasi pada pasien dengan gagal jantung dan diabetes:

ACE-inhibitor atau ARB: memberikan proteksi renal dan jantung β-blocker: mengurangi mortalitas kardiovaskular MRA (aldosteron antagonis): mengurangi remodeling jantung

Metformin adalah obat antidiabetes first-line yang relatif aman pada gagal jantung asalkan fungsi ginjal normal. Pertimbangan penting:

Aman jika laju filtrasi glomerulus (GFR) normal Hindari pada pasien dengan gagal jantung akut yang tidak stabil Hindari pada gangguan ginjal berat (risiko asidosis laktat)

Inhibitor sodium-glucose cotransporter 2 (SGLT2) menunjukkan manfaat signifikan pada pasien gagal jantung dengan diabetes. Obat ini telah terbukti mengurangi:

Frekuensi rawat inap Mortalitas kardiovaskular

Meskipun terjadi penurunan GFR ringan hingga sedang, lanjutkan ACE-inhibitor, ARB, dan MRA karena manfaat jangka panjangnya. Hanya hentikan atau kurangi dosis jika terjadi:

Penurunan GFR yang signifikan dan progresif Peningkatan kreatinin serum yang tidak terkontrol Hiperkalemia berat

Obat-obatan berikut dapat merusak fungsi ginjal dan harus dihindari pada pasien gagal jantung:

NSAID: mengurangi aliran darah ginjal Antibiotik nefrotoksik: seperti aminoglikosida Digoksin: dapat terakumulasi jika fungsi ginjal menurun Diuretik tiazid: dapat memperburuk elektrolit dan fungsi ginjal pada gagal jantung kronik

Tipe 1 (Kardiorenal Akut)

Terjadi ketika gagal jantung akut menyebabkan cedera ginjal akut (AKI) Biasanya berhubungan dengan dekomp ensasi akut dan hipoperfusi ginjal Onset cepat dengan peningkatan kreatinin yang jelas

Tipe 2 (Kardiorenal Kronik)

Terjadi pada gagal jantung kronik yang menyebabkan penyakit ginjal kronik progresif Onset lambat akibat aktivasi neurohormon kronik dan hipoperfusi persisten Lebih umum dan memiliki prognosis lebih panjang

Pendekatan terapi harus komprehensif:

Optimalisasi diuretik: sesuaikan dosis untuk mengeluarkan kelebihan cairan tanpa mengurangi perfusi ginjal terlalu banyak Vasodilator: ACE-I/ARB dan nitrat untuk mengurangi beban jantung Inotropik: pada kasus berat, inotropik (seperti dobutamin) dapat meningkatkan perfusi ginjal Ultrafiltrasi: pada pasien yang tahan terhadap diuretik, ultrafiltrasi mekanis dapat mengeluarkan cairan secara langsung

Mengelola komorbiditas pada gagal jantung memerlukan pemahaman mendalam tentang efek farmakologis obat terhadap fungsi jantung. Prinsip utamanya adalah:

Pilih obat yang memberikan manfaat simtomatis dan meningkatkan prognosis Hindari obat dengan efek inotropik negatif pada HFREF Pertimbangkan status fungsi ginjal sebelum memulai obat Jangan takut untuk lanjutkan ACE-I/ARB dan MRA meskipun GFR menurun ringan, asalkan stabil

Referensi

  1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Gagal Jantung — KEMKES RI
Customer Support umeds