Pemeriksaan Tajam Pendengaran pada Dewasa dan Anak

Materi pembelajaran Pemeriksaan Tajam Pendengaran pada Dewasa dan Anak untuk mahasiswa kedokteran.

Pengenalan

Penilaian pendengaran merupakan komponen penting dari pemeriksaan fisik yang sistematis. Tujuan utama dari tes-tes ini adalah untuk mengidentifikasi ada tidaknya gangguan pendengaran, menentukan jenis gangguan (konduktif vs sensorineural), dan melokalisasi lokasi patologi. Dalam praktik klinis, pemeriksaan ini harus dilakukan pada setiap pasien sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan menyeluruh.

Sebelum memulai tes pendengaran, penting untuk memahami bahwa ada dua jenis gangguan pendengaran utama:

  • Tuli konduktif: Gangguan transmisi suara melalui telinga luar dan tengah
  • Tuli sensorineural: Gangguan pada koklea atau saraf pendengaran

Tes Suara (Whisper Test)

Tes suara adalah pemeriksaan pendengaran paling sederhana dan sering digunakan di klinik. Tes ini mengevaluasi kemampuan pasien mendengar suara berbisik pada jarak tertentu.

Prosedur:

  • Pasien menghadap pemeriksa
  • Pasien menutup telinga kiri dan membuka telinga kanan
  • Pemeriksa berdiri sekitar 1 meter di depan pasien
  • Pemeriksa mengucapkan kata bersuku dua (misalnya "bola", "rumah", "jendela") tanpa gerakan bibir yang jelas agar pasien tidak membaca bibir
  • Pasien mengulangi kata yang didengar

Penyesuaian Intensitas: Jika pasien tidak mendengar bisikan normal, intensitas dapat ditingkatkan secara bertahap:

  • Bisikan biasa ⇒ Bisikan keras ⇒ Suara normal ⇒ Suara keras ⇒ Teriakan

Peningkatan intensitas ini memungkinkan penilaian semi-kuantitatif (tidak seakurat audiometri, tetapi cukup untuk deteksi klinis).

Interpretasi:

  • Pasien mendengar kata dengan jelas ⇒ Pendengaran normal untuk frekuensi tinggi
  • Pasien tidak dapat mendengar bisikan ⇒ Kemungkinan gangguan pendengaran

Tes Rinne (Rinne Test)

Tes Rinne membandingkan konduksi tulang (bone conduction) dengan konduksi udara (air conduction). Perbedaan antara keduanya membantu membedakan apakah gangguan pendengaran bersifat konduktif atau sensorineural.

Prinsip Dasar:

  • Pada orang normal, suara yang dihantarkan melalui udara lebih keras daripada suara yang dihantarkan melalui tulang
  • Jika terjadi gangguan konduktif, konduksi tulang relatif lebih baik karena masalah ada di jalur udara
  • Jika terjadi gangguan sensorineural, baik konduksi udara maupun tulang sama-sama menurun

Prosedur:

  • Garpu tala 512 Hz (atau 256 Hz) digetarkan untuk menghasilkan suara
  • Garpu tala diletakkan pada prosesus mastoid (tulang di belakang telinga) pasien
  • Pasien diminta mengangkat tangan ketika tidak lagi mendengar suara melalui tulang
  • Pada saat itu, pemeriksa segera memindahkan garpu tala ke depan telinga (konduksi udara)
  • Pasien diminta menunjukkan apakah masih mendengar suara

Interpretasi:

  • Rinne Positif: Pasien masih mendengar suara ketika garpu tala dipindahkan ke depan telinga ⇒ Konduksi udara lebih baik ⇒ Pendengaran normal atau tuli sensorineural
  • Rinne Negatif: Pasien tidak lagi mendengar suara setelah garpu tala dipindahkan ke depan telinga ⇒ Konduksi tulang lebih baik ⇒ Tuli konduktif

Tuli konduktif terjadi ketika suara tidak dapat ditransmisikan dengan baik melalui telinga tengah (misalnya otitis media, timpanostlerosis), sehingga konduksi melalui tulang menjadi jalur yang relatif lebih baik.

Tes Weber (Weber Test)

Tes Weber digunakan untuk mendeteksi asimetri pendengaran dan membantu mengidentifikasi jenis gangguan pendengaran. Dalam tes ini, garpu tala diletakkan di garis tengah tubuh, dan pasien menunjukkan sisi mana yang mendengar lebih baik.

Prosedur:

  • Garpu tala 512 Hz digetarkan
  • Garpu tala diletakkan pada garis tengah kening atau bagian tengah kepala pasien
  • Pasien diminta menunjukkan sisi mana yang mendengar suara lebih jelas (lateralisasi)

Interpretasi:

  • Tidak Ada Lateralisasi: Suara terdengar sama di kedua telinga ⇒ Pendengaran normal atau gangguan bilateral simetris
  • Lateralisasi ke Telinga Sehat: Suara terasa lebih keras di sisi telinga yang baik ⇒ Terjadi asimetri pendengaran ⇒ Menunjukkan tuli sensorineural pada sisi yang lain
  • Hal ini karena pada tuli sensorineural, telinga yang sakit memiliki fungsi koklea yang menurun
  • Lateralisasi ke Telinga Sakit: Suara terasa lebih keras di sisi telinga yang mengalami gangguan ⇒ Menunjukkan tuli konduktif pada sisi tersebut
  • Pada tuli konduktif, konduksi tulang menjadi dominan, dan getaran tulang ditransmisikan lebih baik ke telinga yang sakit

Tips Penting: Jangan bingung dengan interpretasi lateralisasi. Ingat bahwa pada tuli konduktif, masalah ada di jalur transmisi, jadi konduksi tulang menjadi lebih efisien untuk sisi yang terkena. Sebaliknya, pada tuli sensorineural, telinga yang sehat akan mendengar lebih baik.

Tes Swabach (Schwabach Test)

Tes Swabach adalah pemeriksaan yang membandingkan konduksi tulang pasien dengan konduksi tulang pemeriksa. Tes ini membantu mengidentifikasi gangguan pendengaran konduktif atau sensorineural pada satu telinga.

Prosedur:

  • Garpu tala 512 Hz digetarkan
  • Garpu tala diletakkan pada prosesus mastoid pasien
  • Pasien diminta menunjukkan kapan suara tidak lagi terdengar
  • Segera setelah itu, pemeriksa memindahkan garpu tala ke prosesus mastoid pemeriksa sendiri
  • Pemeriksa mendengarkan apakah masih ada suara; jika ya, tes dianggap abnormal

Interpretasi:

  • Swabach Normal: Pemeriksa juga tidak mendengar suara lagi pada saat yang bersamaan ⇒ Pendengaran normal atau gangguan bilateral simetris
  • Swabach Abnormal (Pemeriksa masih mendengar): Menunjukkan gangguan pendengaran pada pasien
  • Jika dikombinasikan dengan Rinne dan Weber, dapat membantu membedakan tuli konduktif vs sensorineural

Tes Swabach kurang sering digunakan dibandingkan Rinne dan Weber karena interpretasinya lebih kompleks dan memerlukan pendengaran pemeriksa yang normal.

Penilaian Tajam Pendengaran pada Anak

Pemeriksaan pendengaran pada anak berbeda dengan dewasa karena anak tidak dapat memberikan respon verbal yang akurat. Pemeriksa harus mengamati perilaku dan refleks anak untuk menilai pendengaran.

Persiapan Pemeriksaan Otoskopik pada Anak

Sebelum melakukan pemeriksaan telinga pada anak, penting untuk mempersiapkan anak agar merasa nyaman dan kooperatif.

Teknik:

  • Gunakan spekulum otoskop dengan ukuran sesuai untuk anak (lebih kecil dari dewasa)
  • Masukkan spekulum ke dalam kanal telinga sedalam ½–1 cm saja (jangan terlalu dalam untuk menghindari trauma)
  • Nilai kondisi permukaan kanal telinga eksternal (cari tanda radang, serumen, dll)
  • Nilai membran timpani (warna, kilau, gerakan)
  • Gunakan mainan atau benda menarik untuk menenangkan anak selama pemeriksaan agar tetap diam

Acoustic Blink Reflex pada Bayi < 12 Bulan

Pada bayi muda yang belum dapat memberikan respon verbal, tes refleks kedip akibat bunyi tajam adalah cara sederhana untuk menilai pendengaran.

Prosedur:

  • Buat suara tajam dan mendadak dengan cara:
  • Menjentik jari di dekat telinga bayi
  • Menggunakan bel mainan atau clicker
  • Suara dibuat pada jarak sekitar 30 cm dari telinga bayi
  • Amati kedipan refleks pada kedua mata bayi

Interpretasi:

  • Kedipan Hadir: Bayi merespons suara dengan kedipan mata ⇒ Pendengaran gross normal
  • Kedipan Tidak Hadir: Bayi tidak bereaksi ⇒ Kemungkinan gangguan pendengaran (diperlukan evaluasi lebih lanjut)

Catatan Penting: Tes ini hanya memberikan informasi umum tentang kemampuan pendengaran dan tidak mendeteksi gangguan pendengaran ringan atau gangguan frekuensi tertentu.

Tanda-Tanda Perkembangan Pendengaran Normal pada Anak

Anak-anak menunjukkan kemampuan mendengar melalui perubahan perilaku yang progresif sesuai usia. Mengenali tanda-tanda ini membantu mengidentifikasi defisit pendengaran sejak dini.

Milestone Pendengaran Anak:

Usia 0–2 Bulan:

  • Bayi menunjukkan respons kedip (startle reflex) ketika mendengar suara tajam atau tiba-tiba
  • Ini adalah respons refleks yang paling awal terhadap stimulus akustik

Usia 2–3 Bulan:

  • Bayi mulai menunjukkan perubahan gerakan tubuh atau ekspresi wajah terhadap suara
  • Misalnya, gerakan tubuh melambat, mata membesar, atau ekspresi berubah saat mendengar suara

Usia 3–4 Bulan:

  • Bayi mulai memutar mata dan kepala ke arah sumber suara (lokalisasi suara horizontal)
  • Ini menunjukkan kemampuan yang lebih kompleks untuk mendeteksi dan melokalisasi sumber bunyi

Usia 6–7 Bulan:

  • Bayi memutar kepala untuk mendengarkan percakapan dengan lebih aktif
  • Bayi mungkin juga menunjukkan preferensi untuk suara tertentu atau orang tertentu

Interpretasi Defisit: Jika anak tidak menunjukkan tanda-tanda ini pada usia yang diharapkan, hal ini mungkin mengindikasikan gangguan pendengaran atau perkembangan neurologis dan memerlukan evaluasi audiologi formal dengan alat seperti timpanometri atau otoacoustic emissions (OAE).

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds