Teknik pemeriksaan: Pasien berbaring tanpa bantal di atas tempat tidur. Pemeriksa meletakkan satu tangan di belakang kepala pasien dan dengan lembut mencoba memfleksikan dagu pasien ke arah dada (seperti gerakan mengangguk). Pemeriksa menilai ada tidaknya ketahanan (rigidity) atau nyeri saat melakukan gerakan ini. Gerakan rotasi kepala kanan-kiri juga dapat dilakukan untuk melengkapi penilaian.
Interpretasi: Jika pasien menunjukkan ketahanan atau nyeri signifikan saat fleksi, tes dianggap positif. Ini menunjukkan kemungkinan iritasi meningeal, meskipun tidak semua meningitis menyebabkan kaku kuduk yang nyata.
Teknik pemeriksaan: Pasien berbaring telentang dengan kedua kaki dalam posisi lurus. Pemeriksa secara bertahap mengangkat satu kaki pasien dengan fleksi pada sendi panggul, sambil mempertahankan tungkai bawah tetap lurus (lutut tidak ditekuk). Pemeriksa mencatat pada sudut berapa terjadi nyeri atau ketahanan, lalu mengulangi pada kaki yang sebelahnya.
Interpretasi: Tes positif ditandai dengan nyeri di belakang paha atau di sepanjang saraf ischiadicus sebelum mencapai sudut 70°. Tes ini sensitif terhadap iritasi meningeal, tetapi juga dapat menunjukkan masalah muskuloskeletal.
Teknik pemeriksaan: Pasien berbaring telentang. Pemeriksa memfleksikan kedua sendi panggul dan lutut pasien hingga membentuk sudut 90° (seperti posisi duduk). Setelah itu, pemeriksa mencoba secara perlahan mengekstensi (meluruskan) tungkai bawah pasien di lutut sambil mengamati resistensi atau nyeri. Pemeriksa mengulangi prosedur pada sisi yang lain.
Interpretasi: Tes positif menunjukkan ketahanan atau nyeri saat ekstensi tungkai bawah. Seperti tes Lasegue, ini juga menunjukkan kemungkinan iritasi meningeal.
Teknik pemeriksaan: Minta pasien menutup mata untuk menghilangkan bias visual. Tutup satu lubang hidung pasien sambil meminta pasien bernapas dari lubang hidung yang lain. Dekatkan objek berbau (seperti kopi, vanilla, atau alkohol) ke lubang hidung terbuka dan tanyakan apa bau yang dirasakan pasien. Ulangi prosedur pada lubang hidung yang sebelahnya.
Hal penting: Hindari menggunakan bahan yang menyebabkan iritasi (seperti amoniak) karena akan merangsang saraf trigeminal (N. V) daripada saraf olfaktorius.
Pemeriksaan Pupil:
Teknik pemeriksaan: Dalam ruangan dengan pencahayaan teredam, inspeksi kedua pupil pasien saat istirahat. Catat ukuran (diameter dalam millimeter), bentuk (normal bulat atau abnormal), dan kesimetrisan antara pupil kanan dan kiri.
Selanjutnya, lakukan pemeriksaan reaksi cahaya:
Normalnya, kedua reaksi ini harus cepat dan simetris.
Interpretasi temuan:
Funduskopi adalah pemeriksaan langsung dari bagian dalam mata (fundus) menggunakan instrumen khusus bernama oftalmoskop.
Persiapan:
Teknik pemeriksaan: Pemeriksa duduk di dekat pasien dengan oftalmoskop di tangan yang sejenis dengan mata yang diperiksa (tangan kanan untuk mata kanan pasien). Pemeriksa melihat melalui oftalmoskop sambil secara perlahan mendekatkan instrumen ke mata pasien hingga gambaran fundus terlihat jelas.
Struktur yang diamati:
Temuan normal:
Temuan abnormal yang penting:
Teknik pemeriksaan: Minta pasien untuk melakukan serangkaian gerakan wajah sambil Anda mengamati kesimetrisan:
Interpretasi: Amati apakah ada asimetri antara sisi kanan dan kiri wajah. Kelumpuhan saraf wajah akan menyebabkan:
Teknik pemeriksaan untuk otot Sternocleidomastoideus:
Pemeriksa berdiri di belakang pasien. Letakkan tangan Anda di salah satu sisi kepala pasien (misalnya sisi kanan) dan minta pasien untuk menolak kepala ke arah tangan Anda (menggerakkan kepala ke arah yang berlawanan). Rasakan kekuatan otot sternocleidomastoideus pada sisi itu. Ulangi pada sisi yang lain.
Normalnya, pasien harus mampu menahan tolakan dengan kuat. Kelemahan akan menunjukkan kelainan saraf XI.
Teknik pemeriksaan untuk otot Trapezius:
Minta pasien mengangkat kedua bahu ke arah telinga (shrugging). Pemeriksa dapat memberikan tahanan manual dengan menekan bahu pasien ke bawah. Bandingkan kekuatan antara kedua sisi.
Teknik pemeriksaan:
Minta pasien membuka mulut lebar. Amati bentuk lidah dan posisinya saat istirahat, catat apakah ada deviasi (miring ke satu sisi). Minta pasien untuk:
Hal penting untuk diperhatikan:
Kehilangan penciuman (anosmia) dapat disebabkan oleh berbagai kondisi:
Perubahan pupil dapat mengindikasikan berbagai kondisi patologis:
Pemeriksaan sistem saraf yang sistematis dan terstruktur memungkinkan identifikasi dini berbagai kondisi patologis. Penting untuk melakukan semua pemeriksaan dengan hati-hati dan membandingkan temuan antara sisi kanan dan kiri untuk mendeteksi asimetri yang signifikan secara klinis.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi