Pemeriksaan Sistem Saraf

Materi pembelajaran Pemeriksaan Sistem Saraf untuk mahasiswa kedokteran.

Pemeriksaan Rangsang Meningeal

Pemeriksaan rangsang meningeal dirancang untuk mendeteksi iritasi pada meningen (lapisan yang melapisi otak dan sumsum tulang belakang). Ketiga tes berikut saling melengkapi dan sering digunakan bersamaan ketika meningitis dicurigai.

Tes Kaku Kuduk (Nuchal Rigidity)

Teknik pemeriksaan: Pasien berbaring tanpa bantal di atas tempat tidur. Pemeriksa meletakkan satu tangan di belakang kepala pasien dan dengan lembut mencoba memfleksikan dagu pasien ke arah dada (seperti gerakan mengangguk). Pemeriksa menilai ada tidaknya ketahanan (rigidity) atau nyeri saat melakukan gerakan ini. Gerakan rotasi kepala kanan-kiri juga dapat dilakukan untuk melengkapi penilaian.

Interpretasi: Jika pasien menunjukkan ketahanan atau nyeri signifikan saat fleksi, tes dianggap positif. Ini menunjukkan kemungkinan iritasi meningeal, meskipun tidak semua meningitis menyebabkan kaku kuduk yang nyata.

Tes Lasegue

Teknik pemeriksaan: Pasien berbaring telentang dengan kedua kaki dalam posisi lurus. Pemeriksa secara bertahap mengangkat satu kaki pasien dengan fleksi pada sendi panggul, sambil mempertahankan tungkai bawah tetap lurus (lutut tidak ditekuk). Pemeriksa mencatat pada sudut berapa terjadi nyeri atau ketahanan, lalu mengulangi pada kaki yang sebelahnya.

Interpretasi: Tes positif ditandai dengan nyeri di belakang paha atau di sepanjang saraf ischiadicus sebelum mencapai sudut 70°. Tes ini sensitif terhadap iritasi meningeal, tetapi juga dapat menunjukkan masalah muskuloskeletal.

Tes Kernig

Teknik pemeriksaan: Pasien berbaring telentang. Pemeriksa memfleksikan kedua sendi panggul dan lutut pasien hingga membentuk sudut 90° (seperti posisi duduk). Setelah itu, pemeriksa mencoba secara perlahan mengekstensi (meluruskan) tungkai bawah pasien di lutut sambil mengamati resistensi atau nyeri. Pemeriksa mengulangi prosedur pada sisi yang lain.

Interpretasi: Tes positif menunjukkan ketahanan atau nyeri saat ekstensi tungkai bawah. Seperti tes Lasegue, ini juga menunjukkan kemungkinan iritasi meningeal.

Pemeriksaan Saraf Kranial

Saraf kranial adalah 12 pasang saraf yang keluar langsung dari otak. Pemeriksaan saraf kranial I sampai XII merupakan bagian esensial dari pemeriksaan neurologis. Berikut ini adalah pemeriksaan untuk saraf-saraf yang paling sering diuji.

Saraf I: Olfaktorius (Penciuman)

Teknik pemeriksaan: Minta pasien menutup mata untuk menghilangkan bias visual. Tutup satu lubang hidung pasien sambil meminta pasien bernapas dari lubang hidung yang lain. Dekatkan objek berbau (seperti kopi, vanilla, atau alkohol) ke lubang hidung terbuka dan tanyakan apa bau yang dirasakan pasien. Ulangi prosedur pada lubang hidung yang sebelahnya.

Hal penting: Hindari menggunakan bahan yang menyebabkan iritasi (seperti amoniak) karena akan merangsang saraf trigeminal (N. V) daripada saraf olfaktorius.

Saraf II: Optikus (Penglihatan dan Reaksi Pupil)

Pemeriksaan Pupil:

Teknik pemeriksaan: Dalam ruangan dengan pencahayaan teredam, inspeksi kedua pupil pasien saat istirahat. Catat ukuran (diameter dalam millimeter), bentuk (normal bulat atau abnormal), dan kesimetrisan antara pupil kanan dan kiri.

Selanjutnya, lakukan pemeriksaan reaksi cahaya:

  • Reaksi langsung: Arahkan cahaya penlight ke pupil satu mata dan amati pupil tersebut menyempit
  • Reaksi tidak langsung (konsensual): Cahaya ditujukan ke satu mata, amati apakah pupil mata sebelahnya juga menyempit

Normalnya, kedua reaksi ini harus cepat dan simetris.

Interpretasi temuan:

  • Anisokoria: Perbedaan ukuran pupil antara kedua mata. Ini dapat menandakan trauma, glaukoma, sindrom Horner, atau kelainan neurologis lain
  • Pupil yang tidak bereaksi cahaya: Dapat menunjukkan kerusakan saraf II atau III

Pemeriksaan Funduskopi

Funduskopi adalah pemeriksaan langsung dari bagian dalam mata (fundus) menggunakan instrumen khusus bernama oftalmoskop.

Persiapan:

  • Jika penglihatan pasien tidak jernih, berikan midriatikum (obat pendilatasi pupil) sebelum pemeriksaan
  • Reduksi pencahayaan ruangan untuk membantu dilatasi pupil
  • Tentukan setelan dioptri pada oftalmoskop yang sesuai dengan visus pemeriksa (biasanya berkisar dari 10 hingga +20)

Teknik pemeriksaan: Pemeriksa duduk di dekat pasien dengan oftalmoskop di tangan yang sejenis dengan mata yang diperiksa (tangan kanan untuk mata kanan pasien). Pemeriksa melihat melalui oftalmoskop sambil secara perlahan mendekatkan instrumen ke mata pasien hingga gambaran fundus terlihat jelas.

Struktur yang diamati:

  • Diskus optikus: Tempat saraf optik memasuki mata
  • Pembuluh darah retina: Arteri dan vena yang terlihat di permukaan retina
  • Cup-disc ratio: Perbandingan antara lekukan (cup) dan diskus
  • Warna dan tekstur fundus: Warna keseluruhan bagian belakang mata

Temuan normal:

  • Diskus optikus berwarna kuning-orange dengan batas yang tegas
  • Pembuluh darah terlihat halus dengan percabangan yang teratur
  • Cup-disc ratio biasanya kurang dari 0,5
  • Fundus berwarna merah cerah (di area sentral) hingga coklat kemerahan

Temuan abnormal yang penting:

  • Papiledema: Pembengkakan diskus optikus yang ditandai dengan diskus berwarna pink/hiperemis dan batas menjadi kabur. Ini menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial
  • Cup besar: Cup-disc ratio lebih besar, sering terlihat pada glaukoma
  • Atrofik optic disc: Diskus opikus berwarna pucat/putih, menunjukkan kerusakan saraf optik
  • Perdarahan retina: Bercak merah di retina yang dapat menunjukkan diabetes, hipertensi, atau trombosis
  • Eksudat: Deposit putih di retina yang sering disebut cotton-wool spots

Saraf VII: Fasialis (Otot Wajah)

Teknik pemeriksaan: Minta pasien untuk melakukan serangkaian gerakan wajah sambil Anda mengamati kesimetrisan:

  • Angkat alis: Pasien mengangkat kedua alis setinggi mungkin
  • Tutup mata: Pasien menutup kedua mata dengan kuat
  • Mengembang pipi: Pasien menghembuskan udara dari kedua pipi
  • Tersenyum: Pasien tersenyum atau menunjukkan gigi
  • Gerakkan bibir: Pasien menggerakkan bibir atas dan bawah

Interpretasi: Amati apakah ada asimetri antara sisi kanan dan kiri wajah. Kelumpuhan saraf wajah akan menyebabkan:

  • Rendahnya sudut mulut pada sisi yang terkena
  • Ketidakmampuan menutup mata pada sisi yang terkena
  • Hilangnya lipatan dahi pada sisi yang terkena

Saraf XI: Aksesorius (Otot Sternocleidomastoideus dan Trapezius)

Teknik pemeriksaan untuk otot Sternocleidomastoideus:

Pemeriksa berdiri di belakang pasien. Letakkan tangan Anda di salah satu sisi kepala pasien (misalnya sisi kanan) dan minta pasien untuk menolak kepala ke arah tangan Anda (menggerakkan kepala ke arah yang berlawanan). Rasakan kekuatan otot sternocleidomastoideus pada sisi itu. Ulangi pada sisi yang lain.

Normalnya, pasien harus mampu menahan tolakan dengan kuat. Kelemahan akan menunjukkan kelainan saraf XI.

Teknik pemeriksaan untuk otot Trapezius:

Minta pasien mengangkat kedua bahu ke arah telinga (shrugging). Pemeriksa dapat memberikan tahanan manual dengan menekan bahu pasien ke bawah. Bandingkan kekuatan antara kedua sisi.

Saraf XII: Hipoglosus (Lidah)

Teknik pemeriksaan:

Minta pasien membuka mulut lebar. Amati bentuk lidah dan posisinya saat istirahat, catat apakah ada deviasi (miring ke satu sisi). Minta pasien untuk:

  • Menjulurkan lidah: Perhatikan apakah lidah menyimpang dari garis tengah
  • Menekan pipi: Pasien menekan lidah ke dalam pipi sambil pemeriksa memberikan tahanan dari luar pipi. Ini menilai kekuatan otot lidah
  • Gerakan sisi ke sisi: Pasien menggerakkan lidah ke kanan dan ke kiri

Hal penting untuk diperhatikan:

  • Deviasi lidah: Jika saraf XII rusak, lidah akan menyimpang ke sisi yang rusak
  • Atrofi: Lidah yang mengecil atau kurus dapat menunjukkan kerusakan saraf yang kronis
  • Fasikulasi: Gerakan berkedut-kedut pada permukaan lidah yang menunjukkan degenerasi motorik

Temuan Abnormal pada Pemeriksaan Olfaktorius

Kehilangan penciuman (anosmia) dapat disebabkan oleh berbagai kondisi:

  • Penyakit hidung: Sinusitis, polip hidung, atau obstruksi hidung yang mengurangi aliran udara
  • Trauma: Cedera kepala atau fraktur basis kranii dapat merusak saraf olfaktorius
  • Merokok: Merokok jangka panjang dapat merusakan epitel olfaktorius
  • Penuaan: Kemampuan penciuman secara alami menurun dengan bertambahnya usia
  • Paparan zat kimia: Kokain atau bahan kimia lain dapat merusak jaringan olfaktorius
  • Infeksi: Beberapa infeksi virus dapat menyebabkan anosmia

Temuan Abnormal pada Pemeriksaan Pupil

Perubahan pupil dapat mengindikasikan berbagai kondisi patologis:

  • Anisokoria: Perbedaan ukuran pupil yang signifikan dapat menandakan sindrom Horner (pupil lebih kecil pada sisi yang terkena), glaukoma akut, atau kerusakan saraf II atau III
  • Pupil fixed dan dilated: Pupil tidak bereaksi cahaya dan membesar dapat menunjukkan kerusakan akut saraf III atau peningkatan tekanan intrakranial
  • Pupil pinpoint: Pupil sangat kecil dapat dilihat pada keracunan opioid atau kerusakan pons di otak

Pemeriksaan sistem saraf yang sistematis dan terstruktur memungkinkan identifikasi dini berbagai kondisi patologis. Penting untuk melakukan semua pemeriksaan dengan hati-hati dan membandingkan temuan antara sisi kanan dan kiri untuk mendeteksi asimetri yang signifikan secara klinis.

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds