Pemeriksaan sistem sensorik dan motorik merupakan bagian integral dari pemeriksaan neurologis yang membantu mengidentifikasi lokasi dan jenis gangguan pada saraf perifer atau sistem saraf pusat. Pemeriksaan ini terdiri dari dua komponen utama: evaluasi fungsi sensorik untuk mendeteksi gangguan sensasi, dan evaluasi fungsi motorik untuk menilai kekuatan, tonus, dan kontrol gerakan otot.
Sensasi nyeri adalah salah satu fungsi sensorik paling penting yang perlu diperiksa. Untuk menilai ini:
Pasien diminta menutup matanya. Kemudian pemeriksa menggunakan benda tajam dan benda tumpul untuk menyentuh berbagai area kulit tubuh pasien. Pasien harus dapat membedakan antara sensasi tajam dan tumpul. Catatlah dengan cermat apakah terdapat area dengan hiperalgesia (rasa nyeri yang berlebihan terhadap stimulus ringan) atau analgesia (hilangnya sensasi nyeri sama sekali). Area dengan gangguan sensasi ini penting untuk menentukan pola distribusi defisit.
Penting untuk memahami bahwa penilaian sensasi nyeri mengevaluasi integritas jalur spinotalamikus, yang merupakan jalur transmisi nyeri dari perifer menuju otak.
Sensasi suhu berjalan melalui jalur yang sama dengan nyeri, yaitu jalur spinotalamikus. Untuk pemeriksaan suhu:
Siapkan dua tabung reaksiâsatu berisi air panas dan satu berisi air dingin. Dengan mata pasien tertutup, sentuhkan masing-masing tabung secara bergantian pada area kulit yang tampak normal terlebih dahulu. Pasien harus dapat melaporkan apakah merasa panas atau dingin dengan akurat. Setelah itu, lakukan hal yang sama pada area yang dicurigai mengalami gangguan. Catat dengan detail lokasi dan batas-batas area di mana sensasi suhu terganggu. Perubahan dalam kemampuan membedakan suhu dapat menunjukkan gangguan pada jalur spinotalamikus.
Sensasi raba halus, berbeda dengan nyeri dan suhu, dievaluasi melalui jalur kolumna dorsalis (juga disebut medial lemniscus). Pemeriksaannya sederhana namun memerlukan konsentrasi:
Gunakan ujung cotton bud yang halus untuk menyentuh kulit pasien dengan sentuhan yang ringan dan lembut. Pasien harus menutup matanya. Tanyakan apakah pasien merasakan sentuhan tersebut dan di mana lokasinya. Pasien juga harus dapat menunjukkan perbedaan sensasi jika ada area dengan gangguan. Ini membantu mengidentifikasi pola defisit yang khas untuk lesi kolumna dorsalis.
Propriosepsi adalah kemampuan untuk merasakan posisi tubuh dan ekstremitas dalam ruang, juga melalui jalur kolumna dorsalis. Ini adalah fungsi sensorik yang sangat penting untuk koordinasi dan keseimbangan:
Pegang ibu jari pasien di antara ibu jari dan jari telunjuk Anda. Dengan mata pasien tertutup, gerakkan ibu jari secara perlahanâbaik ke atas maupun ke bawahâdan tanyakan ke arah mana gerakan tersebut. Ulangi prosedur yang sama pada ekstremitas atas lainnya, seperti pada jari-jari lain atau pergelangan tangan. Jika diperlukan pemeriksaan yang lebih sensitif, lakukan two-point discriminationâtes di mana dua titik pada kulit disentuh, dan pasien diminta menentukan apakah mereka merasakan satu atau dua titik sentuhan.
Memahami pola defisit sensorik sangat penting untuk menentukan lokasi lesi:
Jalur Spinotalamikus vs. Kolumna Dorsalis:
Pola Distribusi Defisit:
Pola distribusi membantu mengidentifikasi jenis dan lokasi lesi:
Langkah pertama pemeriksaan motorik adalah observasi pasif. Minta pasien untuk berdiri santai dengan postur normal, dan perhatikan hal-hal berikut:
Observasi ini memberikan informasi awal tentang integritas sistem motorik sebelum melakukan pemeriksaan yang lebih terperinci.
Tonus otot adalah tingkat ketegangan otot pada saat istirahat, yang dipertahankan oleh refleks spinal. Untuk menilai tonus otot:
Pasien berbaring dalam posisi santai dan rileks. Pemeriksa memegang lengan pasien di bagian pergelangan (wrist), dan menempatkan jari tengah dan jari manis pada tendon biseps. Kemudian, pemeriksa secara perlahan melakukan gerakan fleksi dan ekstensi pada sendi siku pasifâartinya, pasien tidak aktif membantu gerakan ini.
Saat melakukan gerakan ini, rasakan resistansi yang diberikan oleh otot. Tonus normal terasa seperti resistansi yang ringan dan konsisten. Jika resistansi terasa meningkat sepanjang gerakan, ini disebut spastisitas (sering terkait dengan lesi upper motor neuron). Jika resistansi normal pada awal gerakan tetapi tiba-tiba menghilang saat gerakan lanjut, ini disebut clasp-knife phenomenon. Jika resistansi berkurang, ini disebut flaksiditas (sering terkait dengan lesi lower motor neuron). Penilaian yang sama dapat dilakukan pada ekstremitas bawah.
Penilaian kekuatan otot menggunakan skala numerik standar yang memungkinkan komunikasi yang jelas dan konsisten tentang tingkat kelemahan. Prosedur umum:
Pasien diminta untuk mengkontraksikan otot target dengan kekuatan maksimal. Pemeriksa memberikan tahanan terhadap gerakan ini dan membandingkan kekuatan pasien dengan kekuatan pemeriksa sendiri. Skala penilaian adalah sebagai berikut:
Skala ini dapat dimodifikasi dengan tambahan "+" atau "-" untuk menunjukkan gradasi yang lebih halus (misalnya, 4+ atau 4-).
Berikut adalah beberapa pemeriksaan otot penting pada ekstremitas atas sebagai contoh:
Musculus Serratus Anterior: Pasien diminta untuk menolak dinding keras dengan kedua tangan dalam posisi push-up. Pemeriksa mengamati sisi tubuh pasienâjika otot serratus anterior lemah, skapula akan "terbang" atau menonjol keluar dari dada.
Musculus Deltoideus: Pasien mengangkat lengan ke samping (abraksi bahu) sampai sejajar dengan bahu. Pemeriksa memberikan tahanan pada lengan pasien dan merasakan kekuatannya.
Musculus Biceps Brachii: Pasien melakukan fleksi siku dengan tangan dalam posisi supinasi (telapak tangan menghadap ke atas). Pemeriksa memberikan tahanan pada lengan bawah pasien untuk menguji kekuatan.
Musculus Triceps Brachii: Pasien melakukan ekstensi siku (meluruskan lengan). Pemeriksa memberikan tahanan pada lengan bawah untuk menguji kekuatan ekstensi.
Berikut adalah beberapa pemeriksaan otot penting pada ekstremitas bawah:
Musculus Gluteus Medius dan Minimus: Pasien berdiri dan pemeriksa mengamati stabilitas pelvisâjika otot-otot ini lemah, pelvis akan miring ketika pasien mengangkat satu kaki (disebut Trendelenburg test).
Musculus Quadriceps: Pasien duduk atau berbaring dengan lutut dalam posisi netral. Pasien diminta mengekstensi lutut (meluruskan kaki) melawan tahanan yang diberikan pemeriksa pada pergelangan kaki.
Musculus Hamstring: Dengan pasien berbaring telungkup, pasien diminta melakukan fleksi lutut (menekuk lutut) sementara pemeriksa memberikan tahanan. Pemeriksa juga dapat menguji dengan tumit pasien menekan paha.
Musculus Gastrocnemius: Pasien diminta untuk melakukan plantar fleksi telapak kaki (menggerakkan kaki ke bawah, seperti menunjuk jari kaki) melawan tahanan pemeriksa.
Interpretasi temuan pemeriksaan motorik memerlukan pemahaman tentang pola distribusi dan tipe gangguan:
Pola Atrofi:
Fasikulasi: Fasikulasiâgerakan spontan pada permukaan otot yang terlihat seperti "gelombang"âmenandakan aktivitas abnormal pada motor neuron. Kondisi ini dapat mengindikasikan penyakit motor neuron seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Namun, penting dicatat bahwa tidak semua fasikulasi bersifat patologis; beberapa orang normal dapat memiliki fasikulasi ringan yang asimtomatik.
Tremor:
Tremor diklasifikasikan berdasarkan kapan ia muncul:
Setiap jenis tremor memiliki penyebab khas dan membantu pelokalan lesi neurologis.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi