Pemeriksaan saraf kranial dan refleks merupakan komponen fundamental dari pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan ini membantu Anda mengidentifikasi letak dan jenis lesi neurologisâapakah gangguan terjadi di tingkat saraf perifer, spinal, atau sentral. Kemampuan melakukan dan menginterpretasi pemeriksaan ini dengan benar sangat penting untuk diagnosis klinis yang akurat.
Otot temporal dan masseter menggerakkan rahang dan dipersarafi oleh nervus trigeminal (saraf kranial V). Untuk memeriksa otot-otot ini, mintalah pasien menggigit gigi dengan kuat sambil Anda meraba kontraksi otot di kedua sisi wajah.
Temuan penting:
Jika pasien mengalami kelemahan mengunyah pada satu sisi, ini merupakan petunjuk bahwa ada masalah pada saraf trigeminal di sisi tersebut.
Pemeriksaan kesimetrisan wajah dilakukan dengan pengamatan langsung dan meminta pasien melakukan gerakan spesifik. Perhatikan beberapa tanda:
Ini adalah konsep sangat penting karena sering membingungkan. Perbedaannya fundamental:
Lesi Perifer Nervus VII (misalnya Bell's palsy):
Lesi Sentral (misalnya stroke di motor cortex):
Contoh: Pasien dengan stroke di sisi kanan akan mengalami kelemahan wajah bagian bawah di sisi kiri, tetapi masih dapat menutup mata kiri dengan normal.
Penilaian sensasi wajah dilakukan dengan menguji sensasi sentuhan, nyeri, dan suhu pada tiga distribusi trigeminal: V1 (divisi oftalmik), V2 (divisi maksila), dan V3 (divisi mandibula).
Temuan penting:
Untuk memeriksa palatum, mintalah pasien membuka mulut lebar dan katakan "ahhhh" sambil Anda mengamati gerakan palatum dan posisi uvula.
Temuan normal:
Temuan patologis:
Ingat: Uvula ditarik ke sisi yang NORMAL, bukan ke sisi yang sakit. Ini karena otot levator veli palatini yang normal mengangkat sisi yang normal.
Memeriksa saraf hipoglosal dilakukan dengan meminta pasien menjulurkan lidah dan mengamati:
Pola paralisis paralisis nervus XII:
Interpretasi lesi:
Ini mudah diingat dengan konsep: kelemahan motor atas memberi tanda kontralateral, tetapi pada nervus XII yang keluar dari medulla, pola bisa berbeda tergantung tingkat lesi.
Saraf aksesorius mempersarafi dua otot:
Pemeriksaan:
Temuan patologis:
Nistagmus adalah gerakan mata yang ritmik dan tidak terkontrol secara sukarela. Ini dapat mengindikasikan gangguan vestibular atau kelainan sentral.
Saat mengevaluasi nistagmus, perhatikan:
Nistagmus adalah topik yang kompleks dengan signifikansi klinis yang tinggi, tetapi detail evaluasi nistagmus biasanya merupakan bagian dari pemeriksaan yang lebih spesifik pada kelainan vestibular atau brainstem.
Refleks fisiologis (juga disebut refleks tendon dalam atau deep tendon reflexes) diuji dengan mengetuk tendon menggunakan palu refleks. Refleks ini melibatkan busur reflek medula spinalisâstimulus menyebabkan kontraksi otot yang cepat tanpa melibatkan kontrol volunter dari otak.
Saat melakukan pemeriksaan refleks:
Skala Penilaian Refleks Fisiologis:
Posisi Duduk:
Posisi Berbaring:
Posisi Duduk:
Posisi Berbaring:
Refleks ini sering digunakan sebagai marker untuk inverted radial reflexâketika melakukan ketukan pada prosesus radial, jika tidak ada respons fleksi lengan bawah tetapi malah terjadi fleksi jari, ini menunjukkan lesi medulla spinalis (umumnya di segmen C5-C6) dengan paralisis otot brachioradialis.
Posisi Duduk:
Posisi Berbaring:
Refleks patela adalah salah satu refleks yang paling sering diperiksa karena mudah ditampilkan dan responsnya jelas.
Posisi Duduk:
Posisi Berbaring:
Refleks Achilles sering hilang lebih dulu pada neuropati perifer karena melibatkan segmen sakral yang letaknya jauh dari otak.
Refleks abdominal sedikit berbedaâbukan mengetuk tendon, tetapi menggoreskan dengan palu refleks.
Catatan penting: Refleks abdominal sering tidak ada pada orang gemuk, wanita setelah kehamilan berulang kali, atau pada kasus-kasus spesifik. Kehadiran refleks abdominal menunjukkan integritas jalur T8-T12. Hilangnya reflek abdominal unilateral atau bilateral dapat menunjukkan lesi upper motor neuron.
Refleks kremaster adalah refleks visceral yang sering digunakan untuk membantu lokalisasi lesi medulla spinalis. Jika hilang, ini menunjukkan kemungkinan lesi di L1-L2.
Refleks anal adalah indikator penting untuk integritas nervus pudendus dan medulla spinalis segmen sakral. Hilangnya refleks anal dapat menunjukkan lesi cauda equina atau konus medullaris.
Hiporefleksia menandakan gangguan pada busur reflek itu sendiriâbaik pada saraf sensorik, monosinaps di medulla spinalis, atau saraf motorik. Ini mengindikasikan lesi lower motor neuron (LMN).
Penyebab hiporefleksia:
Arefleksia adalah kehilangan refleks total dan dapat disebabkan oleh:
Catatan klinis: Arefleksia akut setelah cedera spinal akan berkembang menjadi hiperefleksia seiring waktu karena hilangnya inhibisi descendu dari otak.
Hiperefleksia (refleks yang meningkat atau cepat) menandakan lesi pada jalur motorik descendu dari otak yang menghambat refleks, sehingga busur reflek menjadi berlebihan responsif. Ini mengindikasikan lesi upper motor neuron (UMN).
Penyebab hiperefleksia:
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi