Pemeriksaan Hidung, Rhinoskopi, dan Penatalaksanaan Epistaksis

Materi pembelajaran Pemeriksaan Hidung, Rhinoskopi, dan Penatalaksanaan Epistaksis untuk mahasiswa kedokteran.

Pendahuluan

Pemeriksaan hidung adalah bagian penting dari pemeriksaan fisik yang memungkinkan kita untuk mendeteksi berbagai kelainan anatomis dan patologis. Pemeriksaan dimulai dengan inspeksi dan palpasi yang sederhana, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih detail menggunakan alat bantu seperti otoskop dan spekulum. Setiap langkah pemeriksaan dirancang untuk mengevaluasi struktur hidung, mukosa, dan rongga sinus secara sistematis.

Inspeksi dan Palpasi Awal

Langkah pertama adalah melakukan inspeksi visual menggunakan penlight. Amati bentuk eksternal hidung, catat adanya deviasi septum, dan nilai warna mukosa hidung. Hal penting yang harus dicari mencakup adanya eksudat, tumor, polip, atau tanda-tanda perdarahan.

Setelah inspeksi visual, lakukan palpasi sinus dengan cara mengetuk ringan pada dahi dan alis. Ketukan pada sinus frontalis (area di atas alis) dan sinus maksilaris (area di atas gusi pada sisi pipi) dapat membantu mendeteksi adanya nyeri tekan, yang mungkin menandakan inflamasi atau infeksi sinus.

Rhinoskopi Anterior dengan Otoskop atau Spekulum

Rhinoskopi anterior adalah pemeriksaan yang lebih detail menggunakan alat bantu optik. Anda dapat menggunakan otoskop atau spekulum nasal untuk melihat ke dalam rongga hidung secara langsung.

Penting untuk memahami teknik yang benar: ketika membuka spekulum, arahkan blade ke arah superior (ke atas), bukan ke inferior (ke bawah). Hal ini penting untuk mengurangi nyeri pasien, karena mukosa hidung bagian bawah lebih sensitif. Dengan posisi blade yang benar, Anda dapat melihat lebih jelas sambil meminimalkan ketidaknyamanan.

Selama rhinoskopi anterior, nilai struktur-struktur berikut:

  • Mukosa hidung: Amati warna, bengkak, dan adanya sekret
  • Polip atau tumor: Catat lokasi dan karakteristiknya
  • Sekret: Apakah ada sekret purulen, serosa, atau hemoragik?
  • Deviasi septum: Apakah septum menyumbat rongga hidung?

Transiluminasi Sinus Frontalis dan Maksilaris

Transiluminasi adalah teknik yang menggunakan cahaya untuk menentukan apakah sinus berisi udara atau cairan. Teknik ini berguna untuk deteksi awal sinusitis.

Sinus Frontalis

Letakkan penlight di atas alis, terutama pada garis tengah antara kedua alis. Jika sinus frontalis normal berisi udara, Anda akan melihat cahaya merah terang di dahi (karena cahaya menembus jaringan yang berisi udara). Jika cahaya tidak muncul atau redup, ini dapat menandakan sinus yang penuh dengan cairan atau massa (seperti pada sinusitis).

Sinus Maksilaris

Untuk memeriksa sinus maksilaris, masukkan penlight ke dalam mulut pasien dan sentuhkan ke palatum (langit-langit mulut) tepat di atas molar. Cahaya akan menembus ke atas melalui sinus maksilaris. Jika sinus berisi udara, Anda akan melihat cahaya berbentuk bulan sabit di bawah mata pasien (pada area infraorbital). Seperti halnya sinus frontalis, ketiadaan cahaya atau cahaya yang redup menandakan kemungkinan sinusitis dengan akumulasi cairan atau adanya massa.

Prinsip penting: Cahaya merah yang terang menandakan sinus berisi udara (normal), sementara ketiadaan atau redup cahaya menandakan kemungkinan penyakit sinus.

Pendahuluan

Epistaksis atau perdarahan hidung adalah masalah umum yang dapat berkisar dari ringan hingga berat. Penatalaksanaan harus dimulai dari langkah-langkah sederhana dan escalation dapat dilakukan jika diperlukan. Pendekatan yang sistematis dan terstruktur sangat penting untuk keberhasilan.

Penekanan Langsung untuk Epistaksis Anterior

Ini adalah langkah pertama dan paling sederhana dalam menangani epistaksis anterior (perdarahan dari bagian depan hidung).

Posisi pasien: Instruksikan pasien untuk duduk tegak dan condong ke depan dengan mulut terbuka. Posisi ini penting karena:

  • Mencegah darah tersedak masuk ke paru-paru
  • Memudahkan aliran darah keluar dari hidung
  • Memungkinkan evaluasi visual

Teknik penekanan: Tekan bagian kartilaginosa anterior hidung (bagian depan yang lunak, bukan tulang keras di atas) dengan jari selama 20 menit tanpa henti. Ini memberikan waktu yang cukup untuk pembekuan darah terjadi.

Jika perdarahan masih berlanjut setelah 20 menit, lanjutkan ke langkah-langkah berikutnya.

Tampon Anterior dengan Lidokain-Epinefrin

Jika penekanan langsung tidak berhasil, tampon anterior dengan obat vasokonstriktor dapat membantu menghentikan perdarahan.

Persiapan: Rendam kasa steril dengan campuran lidokain 2% ditambah epinefrin 1:10.000. Kombinasi ini penting karena:

  • Lidokain memberikan anestesi lokal
  • Epinefrin adalah vasokonstriktor yang menyempitkan pembuluh darah dan mengurangi perdarahan

Teknik pemasangan:

  • Masukkan 1–2 tampon kasa ke dalam hidung dengan hati-hati
  • Biarkan tampon berada di tempat selama 10 menit agar obat dapat bekerja
  • Setelah 10 menit, keluarkan tampon dan evaluasi apakah perdarahan sudah berhenti

Tampon Anterior dengan Kasa Vaselin atau Salep Antibiotik

Jika perdarahan masih berlanjut, pasang tampon anterior yang lebih stabil menggunakan kasa vaselin atau salep antibiotik.

Teknik pemasangan:

  • Gunakan spekulum nasal untuk membuka dan melihat rongga hidung dengan jelas
  • Ambil 2–4 strip kasa (biasanya kasa yang sudah direndam vaselin atau antibiotik)
  • Tempel kasa bertumpuk (berlapis) dari anterior (depan) ke posterior (belakang) melalui lubang hidung
  • Hal penting yang harus dihindari: Pastikan kasa tidak masuk ke orofaring (tenggorokan), karena dapat menyebabkan tersedak atau aspirasi

Tampon ini dapat dibiarkan selama beberapa hari dan harus diganti secara berkala.

Tampon Posterior (Bellocq)

Jika epistaksis anterior tidak berhasil dikendalikan, atau jika perdarahan berasal dari bagian posterior hidung, pasang tampon posterior (Bellocq).

Teknik pemasangan:

  • Pasang kateter karet melalui lubang hidung
  • Ikatkan dua benang dari tampon Bellocq (spons berbentuk khusus) pada ujung kateter
  • Tarik kateter kembali sehingga tampon tertarik ke belakang dan menekan area plexus Woodruff di nasofaring (bagian belakang hidung)
  • Fiksasi kateter di depan hidung dengan baik

Prosedur ini lebih kompleks dan sekarang sering digantikan dengan metode modern seperti balon epistaksis.

Pendahuluan

Benda asing di hidung adalah kasus umum, terutama pada anak-anak. Penatalaksanaan yang tepat memerlukan pemilihan instrumen yang sesuai dengan jenis dan lokasi benda asing. Tujuan adalah mengeluarkan benda dengan aman tanpa menyebabkan cedera pada struktur hidung atau aspirasi.

Instrumen Direct: Hemostat, Forceps, dan Bayonet

Instrumen direct (mekanik) adalah pilihan pertama untuk benda asing tertentu.

Kapan menggunakan instrumen direct:

  • Benda asing besar yang mudah terlihat
  • Benda yang tidak bulat (membuat suction sulit)
  • Benda yang tidak mudah hancur atau berubah bentuk dengan tekanan

Instrumen yang digunakan:

  • Hemostat atau forceps bayonet/alligator: Memiliki ujung yang dapat menjepit dengan baik
  • Avulsi ring: Untuk benda berbentuk cincin

Teknik pemasangan:

  • Retraksi (tarik) daun hidung posterosuperior (ke belakang dan ke atas) menggunakan retractor atau jari
  • Masukkan instrumen dengan hati-hati ke dalam rongga hidung
  • Jepit benda asing dengan instrumen
  • Tarik keluar dengan gerakan yang halus dan terkontrol

Poin penting: Hindari instrumen yang tajam atau yang dapat merusak septa atau mukosa hidung.

Hooked Probes

Hooked probes (probe berbentuk kait) adalah alat yang berguna untuk benda asing yang terlihat tetapi sulit untuk dijepit langsung.

Kapan menggunakan hooked probes:

  • Benda asing tidak bulat tetapi sulit dijepit dengan forceps
  • Benda yang perlu "dilokalisir" dari belakang sebelum dikeluarkan

Teknik penggunaan:

  • Pasang ujung kait probe di belakang benda asing (antara benda dan dinding posterior hidung)
  • Dengan gerakan memutar (rotasi), hook akan mengaitkan benda
  • Tarik perlahan-lahan ke arah depan (anterior) untuk mengeluarkan benda

Metode ini sangat efektif untuk benda-benda kecil atau yang berbentuk tidak teratur.

Kateter Balon (Foley atau Fogarty)

Kateter balon adalah metode yang sangat berguna dan aman, terutama untuk benda asing yang bulat atau licin yang sulit dijepit.

Prinsip kerja: Balon dikembangkan di belakang benda asing, kemudian ditarik ke depan untuk mengeluarkan benda.

Teknik pemasangan:

  • Masukkan kateter melalui lubang hidung, arahkan untuk melewati benda asing (melalui nasofaring)
  • Kembangkan balon dengan jumlah cairan atau udara yang tepat:
  • Anak kecil: 2 mL
  • Anak besar: 3 mL
  • Jangan mengembangkan balon terlalu besar, karena dapat merusak mukosa
  • Setelah balon terembang, tarik kateter perlahan-lahan ke arah anterior untuk mengeluarkan benda
  • Balon akan mendorong benda asing ke depan dan keluar dari hidung

Keuntungan: Metode ini aman, tidak traumatik, dan cocok untuk berbagai jenis benda asing.

Suction (Penyedotan)

Suction adalah metode yang efektif untuk benda asing tertentu, terutama yang bulat atau licin.

Kapan menggunakan suction:

  • Benda asing bulat atau berbentuk bola (seperti manik-manik, batu, butir makanan)
  • Benda yang dapat "menempel" pada mukosa

Teknik penggunaan:

  • Tempelkan ujung kateter suction langsung pada permukaan benda asing
  • Lakukan penyedotan dengan tekanan 100–140 mmHg
  • Pertahankan tekanan sambil menarik kateter ke depan untuk mengeluarkan benda

Fungsi tambahan: Suction juga berguna untuk mengeluarkan sekret atau darah yang menghalangi pandangan benda asing. Membersihkan jalanan penglihatan memudahkan identifikasi dan ekstraksi benda dengan instrumen lain.

Poin penting: Jangan menggunakan tekanan suction yang terlalu tinggi, karena dapat merusak mukosa hidung.

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds