Pemeriksaan fisik telinga, hidung, dan tenggorok merupakan bagian penting dari evaluasi pasien dengan keluhan pada daerah kepala dan leher. Penyakit sistemik sering kali menampakkan gejala atau tanda-tanda pertama di daerah ini, membuat pemeriksaan yang teliti menjadi sangat penting untuk diagnosis yang akurat.
Pemeriksaan ENT memerlukan latihan berulang untuk mengembangkan keterampilan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik. Idealnya, pemeriksaan dilakukan di ruangan yang tenang dengan peralatan lengkap berupa lampu kepala, alat-alat otoskopi, spekulum hidung, kaca laring, dan obat-obatan yang diperlukan.
Ketika pasien datang dengan keluhan telinga, penting untuk menggali informasi secara sistematis. Keluhan utama telinga dapat dibagi menjadi lima kategori: gangguan pendengaran, tinitus, vertigo, otalgia, dan otorhea.
Gangguan Pendengaran
Tanyakan lokasi sisi yang terganggu, kapan mulai (onset), apakah berkembang secara bertahap atau tiba-tiba, berapa lama sudah dialami, serta ada atau tidaknya riwayat trauma telinga, paparan bising (khususnya dalam pekerjaan), penggunaan obat ototoksik (seperti streptomisin atau gentamisin), atau infeksi virus baru-baru ini.
Tinitus
Tinitus adalah persepsi suara yang tidak ada sumber eksternal. Ketika pasien melaporkan tinitus, tanyakan kualitas suara yang didengar (apakah seperti berdenging, mendesis, atau berdenyut), sisi telinga yang terkena, apakah terkait dengan gangguan pendengaran atau vertigo, dan apakah ada hubungan dengan aktivitas tertentu.
Vertigo
Vertigo adalah sensasi berputar yang dapat berhubungan dengan masalah telinga dalam. Penting untuk menanyakan apa yang memicu gejala (perubahan posisi kepala tertentu, gerakan cepat), apakah gejala berkurang saat pasien berbaring diam, serta ada atau tidaknya gejala neurologis tambahan seperti sakit kepala atau gangguan keseimbangan.
Otalgia
Nyeri telinga dapat berasal dari telinga sendiri atau nyeri yang terasa di telinga tetapi berasal dari tempat lain (nyeri terrefleks). Tanyakan sisi yang nyeri, berapa lama gejala berlangsung, dan pertimbangkan kemungkinan sumber lain seperti masalah gigi, gangguan sendi temporomandibular, atau penyakit leher.
Otorhea
Keluar cairan dari telinga memerlukan evaluasi detail. Tanyakan jumlah cairan, warna, bau, dan apakah disertai nyeri atau tidak. Interpretasi klinis dari otorhea mencakup:
Persiapan dan Posisi
Posisikan pasien duduk condong ke depan dengan kepala sedikit terangkat, sehingga wajah dan telinga mudah diakses. Pemeriksa berdiri atau duduk di samping pasien dengan ketinggian mata yang sesuai.
Inspeksi Luar
Mulai dengan memeriksa daun telinga (auricle) dan area di belakang telinga (retro-aurikuler) untuk mencari tanda-tanda peradangan, pembengkakan, atau bekas luka dari operasi sebelumnya.
Visualisasi Liang Telinga dan Membran Timpani
Tarik daun telinga ke atas dan ke belakang menggunakan tangan non-dominan Anda. Gerakan ini memperpanjang dan meluruskan liang telinga (meatus akustikus eksternus), memudahkan visualisasi. Gunakan otoskop dengan spekulum berukuran yang sesuai (biasanya 4 atau 5 mm untuk dewasa). Untuk menjaga stabilitas, tempatkan jari kelingking tangan yang memegang otoskop di pipi pasienâjika pasien bergerak tiba-tiba, tangan Anda akan bergerak bersama, mencegah cedera.
Melalui otoskop, periksa liang telinga untuk kemungkinan infeksi, dan visualisasikan membran timpani (timpanum). Membran timpani yang normal tampak transparan, dengan warna abu-abu mutiara, dan Anda dapat melihat struktur internal seperti maleus (tulang martil) dan umbo.
Penanganan Serumen
Serumen (telinga kering) sering menghambat visualisasi. Metode penghilangan tergantung pada konsistensi:
Pemeriksaan Pendengaran dengan Garpu Tala
Garpu tala (tuning fork) adalah alat sederhana namun penting untuk menilai pendengaran dan jenis ketulian. Dua tes dasar menggunakan garpu tala adalah tes Rinne dan tes Weber.
Tes Rinne membandingkan penghantaran udara (air conduction, AC) dengan penghantaran tulang (bone conduction, BC).
Hasil abnormal:
Tes Weber menentukan sisi mana yang mengalami ketulian dengan membandingkan intensitas bunyi antara dua telinga.
Logika Penting: Pemahaman tes Rinne dan Weber membantu membedakan tuli konduktif dari tuli sensorineural. Inilah mengapa tes ini sangat penting dalam praktik klinis.
Keluhan hidung sangat beragam dan memerlukan penggalian informasi yang sistematis.
Sumbatan Hidung
Tanyakan berapa lama gejala berlangsung, apakah terus-menerus atau bergantian antar sisi, sisi mana yang paling sering tersumbat, ada atau tidaknya riwayat kontak alergen, trauma hidung, penggunaan dekongestan tetes atau semprot dalam jangka panjang (yang dapat menyebabkan rinitis rebound), kebiasaan merokok, atau konsumsi alkohol.
Sekret Hidung (Rhinorrhea)
Karakteristik sekret memberikan petunjuk diagnostik. Tanyakan dari sisi mana, konsistensi (jernih/encer, kental, purulen/nanah, atau berdarah), kapan paling banyak (pagi hari, musim tertentu), dan apakah menetes ke belakang tenggorok (postnasal drip).
Interpretasi klinis:
Bersin
Tanyakan pemicu (alergen spesifik, perubahan cuaca, suhu), waktu (pagi, siang, malam), dan gejala terkait seperti gatal hidung atau sekresi berlebih yang menunjukkan alergi.
Nyeri Wajah atau Kepala
Lokasi nyeri memberikan petunjuk sinus mana yang terlibat: dahi menunjukkan sinus frontal, pangkal hidung menunjukkan sinus ethmoid, pipi menunjukkan sinus maksilaris. Tanyakan apakah nyeri memburuk saat menunduk (fleksi), karena ini adalah ciri khas sinusitisâgravitasi membuat sekret sinus mengalir ke bawah, meningkatkan tekanan.
Epistaksis
Pertanyaan yang perlu diajukan: sisi mana, seberapa sering, apakah mudah terkontrol dengan menekan, riwayat trauma hidung sebelumnya, kelainan koagulasi (gangguan pembekuan darah), hipertensi, atau penggunaan obat antikoagulan atau antiplatelet.
Gangguan Penciuman (Anosmia atau Hyposmia)
Tanyakan durasi gejala, riwayat infeksi hidung atau sinusitis yang baru-baru ini, trauma kepala, atau penggunaan obat-obatan tertentu.
Inspeksi Luar
Periksa bentuk hidung secara keseluruhan untuk mendeteksi deviasi tulang hidung, depresi (yang menunjukkan trauma lama atau penyakit sistemik), atau pembengkakan yang menunjukkan peradangan sinus paranasal.
Palpasi
Palpasi dorsum (punggung) dan akar hidung untuk mendeteksi krepitasi tulang yang menunjukkan fraktur nasal. Palpasi juga dilakukan di atas sinus untuk mendeteksi nyeri tekan yang menunjukkan peradangan sinus.
Rinoskopi Anterior
Gunakan spekulum hidung (nasal speculum) untuk membuka lubang hidung pasien. Masukkan spekulum dengan hati-hati dan buka secara perlahan. Gunakan lampu kepala atau otoskop untuk melihat:
Perhatikan warna mukosa (merah menunjukkan peradangan), pembengkakan (edema), konsistensi dan warna sekret, serta polip atau massa lain.
Penurunan Edema untuk Visualisasi Lebih Baik
Jika mukosa sangat edematous, visualisasi struktur dalam akan sulit. Dalam hal ini, aplikasikan kapas yang dibasahi adrenalin (epinefrin) pada mukosa selama beberapa menit untuk mengurangi edema, lalu lakukan inspeksi ulang.
Rinoskopi Posterior
Rinoskopi posterior memungkinkan melihat nasofaring (bagian belakang hidung). Teknik ini memerlukan praktik:
Struktur yang dapat dilihat:
Uji Aliran Udara
Untuk menilai patency (kepatenan/kelapangan) kedua sisi hidung, tempatkan spatula logam di depan kedua lubang hidung pasien dan minta pasien bernapas. Bandingkan pengembunan pada spatulaâsisi yang paten akan menunjukkan pengembunan yang lebih baik.
Pemeriksaan Sinus Paranasal
Pemeriksaan klinis meliputi inspeksi, palpasi (nyeri tekan), perkusi, rinoskopi anterior dan posterior. Untuk dugaan sinusitis:
Nyeri Tenggorok (Sore Throat)
Tanyakan apakah disertai demam, batuk, suara serak (dysphonia), atau rasa kering. Kebiasaan merokok juga penting karena merupakan faktor risiko untuk kondisi serius.
Odinofagia
Odinofagia adalah nyeri saat menelan. Tanyakan apakah nyeri menjalar ke telinga, karena ini menunjukkan keterlibatan struktur yang lebih dalam atau proses inflamasi yang luas.
Dahak Berlebih
Tanyakan konsistensi dahak (jernih seperti lendir normal, purulen/nanah, atau berdarah) dan apakah dahak "menetes ke bawah" dari nasofaring (postnasal drip) atau "naik ke atas" dari paru (produktif).
Disfagia
Kesulitan menelan memerlukan penggalian yang detail. Tanyakan berapa lama gejala, apakah terjadi dengan makanan cair atau padat (atau keduanya), ada atau tidaknya muntah, dan apakah ada penurunan berat badan (menunjukkan kondisi yang kronis atau serius).
Rasa Tercekik di Leher (Globus Sensation)
Tanyakan durasi, lokasi persisten rasa tercekik, dan apakah berhubungan dengan kelelahan mental atau fisik (yang menunjukkan penyebab psikogenik).
Persiapan dan Teknik
Gunakan lampu kepala untuk penerangan optimal. Posisikan pasien duduk dengan kepala tegak atau sedikit fleksi ke depan agar mudah dilihat.
Inspeksi Struktur Oral
Palpasi
Palpasi diperlukan bila ada suspisi massa atau kista di rongga mulut atau faring. Gunakan sarung tangan dan beri tahu pasien sebelum melakukan palpasi untuk menghindari refleks muntah.
Penilaian Fungsi
Tanyakan apakah ada nyeri saat membuka mulut (yang dapat menunjukkan gangguan sendi temporomandibular atau infeksi di struktur yang lebih dalam).
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi