BODE Index adalah alat penilaian multidimensional yang sangat penting untuk memprediksi prognosis dan mortalitas pada PPOK. Arti dari akronim BODE adalah:
B (BMI): Indeks Massa Tubuh
O (Obstruksi): Nilai FEV₁ (forced expiratory volume in 1 second) yang mencerminkan derajat obstruksi aliran udara
D (Dyspnea): Tingkat sesak napas menggunakan skala mMRC (modified Medical Research Council)
E (Exercise): Kapasitas latihan yang diukur dari jarak tempuh dalam tes berjalan 6 menit (6-minute walk distance)
Spirometri harus dilakukan minimal satu kali setahun pada semua pasien PPOK untuk:
Mendeteksi penurunan fungsi paru yang cepat (yang mungkin menunjukkan eksaserbasi berulang atau penurunan yang lebih cepat dari biasanya)
Memantau respons terhadap terapi inhalasi
Mengevaluasi perubahan gejala atau perburukan klinis yang tidak terduga
\text{AGD diindikasikan ketika:}
Saturasi oksigen (SpO₂) saat istirahat < 92%
Ada tanda-tanda gagal napas akut atau kronik yang tidak terkontrol
Evaluasi pre-operatif untuk bedah besar
Tanda Klinis Kor Pulmonale:
Peningkatan tekanan vena jugularis (JVP): Ditandai dengan distensi vena jugularis yang terlihat di leher
Edema perifer: Pembengkakan bilateral di ekstremitas bawah karena retensi cairan akibat disfungsi ventrikel kanan
Hepatomegali (pembesaran hati palpabel)
Asites (penumpukan cairan di perut) pada kasus lanjut
Diagnosis kor pulmonale dapat dikonfirmasi dengan berbagai modalitas:
Radiografi toraks: Mungkin menunjukkan pembesaran arteri pulmonal atau penampilan jantung yang abnormal
EKG: Dapat menunjukkan tanda-tanda hipertrofi atau strain ventrikel kanan (misalnya, deviasi aksis ke kanan, gelombang P tinggi di lead II)
Ekokardiografi: Memvisualisasikan ukuran dan fungsi ventrikel kanan secara langsung, termasuk estimasi PAP
MRI: Memberikan evaluasi detail anatomy dan fungsi ventrikel kanan tetapi jarang digunakan sebagai first-line
Ventilasi non-invasif menggunakan tekanan positif (seperti BiPAP atau CPAP) untuk mendukung ventilasi tanpa memerlukan intubasi. Pada PPOK dengan gagal napas, NIV terutama bermanfaat untuk:
Mengurangi retensi CO₂: Meningkatkan eliminasi karbon dioksida pada pasien dengan hiperkapnia
Mengurangi sesak napas (dyspnea): Membuat pernapasan lebih efisien dan mengurangi beban kerja pernapasan
Pasien dengan hiperkapnia siang hari: Terutama mereka yang juga memiliki hiperkapnia malam hari (overlap syndrome)
Target dan Kriteria
Target PaO₂ selama penerbangan: ≥ 50 mmHg (setara 6,7 kPa) untuk memastai oksigenasi adekuat
Kriteria untuk tidak memberikan oksigen tambahan: Jika PaO₂ pada permukaan laut (pre-flight) > 70 mmHg (9,3 kPa), oksigen tambahan biasanya tidak diperlukan
Komponen Evaluasi:
Penilaian klinis: Riwayat penyakit paru, gejala sesak napas saat ini, infeksi paru berulang
Fungsi paru (Spirometri):
FEV₁ untuk menilai derajat obstruksi
Tes bronkodilator responsiveness
DLCO (Diffusing Capacity of Lung for Carbon Monoxide) untuk menilai transfer gas
Analisis Gas Darah Arteri: Terutama pada PPOK sedang-berat untuk menilai baseline oksigenasi dan ventilasi
Risiko komplikasi pulmonal pasca-bedah meningkat seiring dengan:
Derajat PPOK: Pasien dengan PPOK berat (FEV₁ < 35% prediksi) memiliki risiko jauh lebih tinggi
Lokasi operasi: Operasi dekat diafragma (bedah toraks, bedah abdominal atas) memiliki risiko tertinggi karena mekanisme pernapasan terganggu pasca-operasi
Jenis anestesi signifikan mempengaruhi risiko:
Anestesi epidural atau spinal: Risiko lebih rendah karena mempertahankan refleks jalan napas alami dan tidak memerlukan intubasi
Anestesi umum: Risiko lebih tinggi karena diperlukan intubasi endotrakeal, suppression refleks jalan napas, dan ventilasi mekanik intraoperatif
Perawatan paliatif harus dipertimbangkan pada pasien dengan PPOK yang memenuhi kriteria berikut:
Ketergantungan oksigen: Memerlukan terapi oksigen berkelanjutan untuk SpO₂ adekuat
FEV₁ < 30% prediksi: Menunjukkan PPOK sangat berat dengan obstruksi signifikan
Usia ≥ 70 tahun: Prognosis yang terbatas dalam konteks usia lanjut
Rawat inap ≥ 1 kali dalam tahun lalu: Indikator perjalanan penyakit yang tidak stabil
Penurunan berat badan yang tidak terduga: Menunjukkan cachexia dan penurunan status sistemik
Komorbiditas berat: Seperti gagal jantung, kanker, penyakit ginjal kronis yang membatasi harapan hidup
Perawatan paliatif pada PPOK terminal berfokus pada:
Meningkatkan kualitas hidup: Mengurangi gejala yang mengganggu (sesak napas, nyeri, kecemasan) untuk memaksimalkan kenyamanan
Mengurangi penderitaan: Manajemen simptomatik yang agresif termasuk oksigen, opioid untuk dyspnea, anxiolytic untuk kecemasan
Dukungan emosional dan spiritual: Membantu pasien dan keluarga beradaptasi dengan penyakit terminal, penerimaan, dan persiapan end-of-life melalui diskusi goals-of-care yang jujur