Patogenesis PPOK

Mekanisme patofisiologi PPOK meliputi inflamasi kronis, remodeling saluran napas, dan destruksi parenkim paru.

Ketika paparan terjadi, beberapa jenis sel imun diaktifkan dan mengumpul di paru-paru:

Sel CD8⁺ (limfosit sitotoksik): Sel ini meningkat jumlahnya dan melepaskan mediator inflamasi yang merusak jaringan paru Neutrofil: Sel kekebalan pertama yang merespons, mengeluarkan enzim proteolitik yang merusak protein jaringan Makrofag: Mengeluarkan sitokin (seperti TNF-α dan IL-6) yang memperkuat respons inflamasi

Paparan asap rokok juga menghasilkan stres oksidatif—ketidakseimbangan antara radikal bebas berbahaya dan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Radikal bebas ini termasuk:

Peroksida hidrogen (H_2O_2) 8-isoprostane (penanda stres oksidatif) Peroksinitrit (ONOO^-)

Akibatnya terjadi dua masalah:

Pengurangan luas permukaan: Pertukaran gas O_2 dan CO_2 berkurang signifikan, menyebabkan hipoksemia Loss of elastic recoil: Kehilangan elastisitas paru membuat paru-paru sulit mengeluarkan udara

Hiperinflasi ini memiliki konsekuensi mekanik serius:

Mengurangi kapasitas inspirasi: Diafragma (otot pernapasan utama) sudah dalam posisi panjang dan lemah, sehingga tidak bisa menarik napas dalam Penurunan efisiensi mekanik: Otot pernapasan harus bekerja lebih keras dengan hasil yang lebih sedikit Dyspnea saat aktivitas: Inilah mengapa pasien PPOK merasa sesak napas saat berjalan atau beraktivitas

Paru-paru normal memiliki keseimbangan sempurna antara:

Ventilasi (V): Udara yang sampai ke alveolus Perfusi (Q): Darah yang sampai ke kapiler paru

Kombinasi ketidakseimbangan ini menghasilkan:

Hipoksemia: Kadar O_2 arteri turun Hiperkapnia (pada PPOK berat): Kadar CO_2 arteri naik, terutama karena ventilasi alveolar total berkurang

Inflamasi kronis menyebabkan dua perubahan pada sel-sel yang melapisi jalan napas:

Metaplasia sel goblet: Sel epitel kolumnar yang normal berubah menjadi sel goblet penghasil mukus, menyebabkan bertambahnya kelenjar lendir Aktivasi reseptor EGFR: Reseptor pertumbuhan pada sel epitel aktif, merangsang produksi lendir berlebihan

Hasilnya adalah hipersekresi mukus—produksi lendir berlebihan yang terakumulasi di saluran napas. Ini menyebabkan:

Batuk produktif kronis untuk mengeluarkan mukus Obstruksi tambahan: Mukus menambah penyumbatan jalan napas Infeksi berulang: Mukus stasis adalah medium ideal untuk bakteri

Limfosit, neutrofil, dan makrofag yang teraktivasi di paru-paru mengeluarkan sitokin inflamasi yang masuk ke aliran darah, meningkatkan kadar:

IL-6 (Interleukin-6): Merangsang produksi protein fase akut TNF-α (Tumor Necrosis Factor-alpha): Mediator inflamasi kuat yang menyebabkan katabolisme (pemecahan) jaringan Radikal bebas: Stres oksidatif sistemik CRP (C-Reactive Protein): Protein fase akut yang merupakan penanda inflamasi

Komplikasi Metabolik dan Muskuloskeletal

Kakeksia (kehilangan berat badan dan massa otot): Mediator inflamasi seperti TNF-α menyebabkan katabolisme protein otot. Pasien PPOK sering terlihat sangat kurus. Osteoporosis: Inflamasi sistemik mempercepat resorpsi tulang dan mengurangi pembentukan tulang baru, menyebabkan tulang menjadi rapuh

Komplikasi Psikiatrik

Depresi: Inflamasi sistemik dihubungkan dengan perubahan neurotransmiter dan gangguan mood

Komplikasi Hematologi

Anemia kronik: Inflamasi mengurangi produksi eritropoietin (hormon yang merangsang pembentukan sel darah merah), menghasilkan anemia yang memperburuk hipoksemia

`Paparan asap rokok

↓ Inflamasi kronis + Stres oksidatif ↓ Kerusakan proteinase dan hilangnya antiprotease ↓ Emfisema (kerusakan alveolus) + Fibrosis bronkus kecil (penyempitan) ↓ Air trapping, hiperinflasi, V/Q mismatch, hipersekresi mukus ↓ Hipoksemia + Hiperkapnia + Obstruksi aliran udara ↓ Gejala (dyspnea, batuk produktif) + Komplikasi sistemik`

Referensi

  1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Paru Obstruktif Kronik — KEMKES RI
Customer Support umeds