Tremor adalah gerakan involunter yang berirama pada bagian tubuh tertentu. Meskipun kebanyakan tremor disebabkan oleh penyakit neurologis organik (seperti penyakit Parkinson atau tremor esensial), tremor dapat juga bersifat psikogenik, artinya timbul akibat faktor psikologis tanpa adanya kelainan neurologis objektif yang mendasar. Kemampuan membedakan tremor psikogenik dari tremor organik sangat penting untuk manajemen pasien yang tepat dan menghindari pengobatan yang tidak perlu.
Tremor dapat timbul dari dua mekanisme utama dalam sistem saraf:
Osilasi mekanik terjadi ketika sendi-sendi pada anggota badan bergetar secara alami akibat kontraksi otot yang berulang-ulang dengan pola yang teratur.
Osilasi refleks spindle otot timbul dari jalur saraf aferen (masuk) yang dimulai dari reseptor proprioseptif di otot, yaitu spindle otot. Ketika otot mengalami peregangan, spindle otot mengirimkan sinyal ke medulla spinalis, yang kemudian mengirimkan sinyal balik untuk mengencangkan otot tersebut. Siklus peregangan-kontraksi yang berulang ini dapat menciptakan tremor. Inilah mengapa hipertiroidisme, yang meningkatkan sensitivitas sistem saraf, dapat menyebabkan tremor melalui mekanisme ini.
Tremor organik juga dapat berasal dari aktivitas spontan sel-sel tertentu di otak, yang disebut osilator sentral. Sel-sel ini terletak di:
Sel-sel ini secara alami menghasilkan potensi aksi berulang pada frekuensi tertentu, yang menghasilkan tremor karakteristik pada penyakit neurologis spesifik.
Diagnosis tremor psikogenik memerlukan pendekatan sistematis. Para ahli saraf Fahn dan Williams telah mengembangkan kriteria diagnostik Fahn dan Williams yang komprehensif, yang mencakup beberapa aspek:
Tanda-tanda neurologis palsu:
Manifestasi psikologis:
Karakteristik gerak tremor:
Penting untuk diingat bahwa diagnosis tremor psikogenik bukan diagnosis "pengecualian" â kita tidak hanya mendiagnosis tremor psikogenik karena tes biologis negatif, melainkan karena ada bukti positif bahwa tremor memiliki penyebab psikologis.
Tremor psikogenik biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa prodromal atau perburukan bertahap. Berbeda dengan tremor organik yang berkembang perlahan-lahan, tremor psikogenik sering dimulai dalam hitungan hari atau minggu. Selain itu, tremor psikogenik sering mengalami periode remisi spontan â gejala hilang sama sekali untuk waktu tertentu, kemudian timbul kembali. Pola fluktuatif ini tidak tipis pada tremor organik yang biasanya progresif dan persisten.
Pada tremor organik yang sebenarnya, pola tremor memiliki hubungan spesifik dengan posisi dan aktivitas:
Pada tremor psikogenik, pola ini sering tidak konsisten atau tidak logis secara neurologis. Misalnya, pasien dapat menunjukkan kombinasi tremor istirahat dan postural pada saat yang sama, yang merupakan kombinasi aneh dalam praktik neurologis.
Salah satu tanda paling penting dan mudah dideteksi tremor psikogenik adalah pengurangan amplitudo tremor ketika perhatian pasien dialihkan.
Contohnya:
Ini menunjukkan bahwa tremor memerlukan perhatian sadar untuk dipertahankan, yang tidak konsisten dengan tremor organik yang berlangsung otomatis independen dari perhatian.
Dalam praktik klinis, ahli saraf sering menggunakan kriteria "ABC" yang sederhana untuk diagnosis awal tremor psikogenik:
Jika tremor menunjukkan tiga kriteria ini, harus ada kecurigaan kuat tentang komponen psikogenik.
Dimulai dengan observasi sederhana namun penting:
Pada uji ini, pasien diminta membawa jari telunjuk mereka dari lengan terbentang ke hidung mereka berkali-kali.
Pada tremor organik, amplitudo tremor sering meningkat mendekati target (fenomena yang disebut "intention tremor"), karena sistem saraf pusat harus mengoreksi jalan untuk mencapai target. Pola ini membantu membedakan:
Pada tremor psikogenik, amplitudo sering tidak meningkat dengan cara yang konsisten, atau bahkan dapat berkurang.
Pemeriksaan ini mencoba menunjukkan fitur psikogenik:
Ketika pemeriksa menahan atau mempegang tangan yang bergetar dengan kuat, tremor yang sebelumnya di tangan dapat berpindah ke anggota tubuh yang lebih proksimal (misalnya, dari tangan ke lengan atas, atau bahkan ke bahu).
Ini jarang terjadi pada tremor organik, di mana tremor biasanya persisten di lokasi yang sama. Pergerakan tremor ke bagian tubuh lain menunjukkan bahwa pasien secara tidak sadar mengalihkan tremor, yang merupakan petunjuk penting tentang komonen psikogenik.
Untuk menyingkirkan diagnosis lain seperti penyakit Parkinson, pemeriksa harus menilai:
Rigiditas cogwheel â Dilakukan dengan fleksi-ekstensi lengan pasien yang santai. Pada penyakit Parkinson, terdapat resistensi bertahap yang terasa seperti roda bergigi ("cogwheel"). Pada tremor psikogenik, resistensi ini tidak ada atau pasien secara aktif melawan gerakan pasif.
Bradikinesia â Perlambatan gerakan volunter. Pasien diminta melakukan gerakan cepat seperti membuka-tutup kepalan tangan. Pada penyakit Parkinson, gerakan menjadi semakin lambat dan kecil. Pada tremor psikogenik, gerakan normal.
Kehadiran rigiditas cogwheel dan bradikinesia menunjukkan diagnosis organik (Parkinson), sementara ketiadaannya mendukung diagnosis psikogenik.
Accelerometer adalah perangkat kecil yang dapat dipasang pada anggota tubuh untuk mengukur:
Pada tremor organik, frekuensi relatif konstan. Pada tremor psikogenik, frekuensi sering berfluktuasi atau berubah dari waktu ke waktu, mencerminkan kontrol sadar yang tidak sempurna.
Accelerometer juga dapat mengidentifikasi co-activation â kontraksi bersamaan dari otot-otot agonis (yang biasanya bekerja bersama) dan antagonis (yang biasanya saling berlawanan). Pada tremor organik, hanya otot-otot tertentu yang berkontraksi bergantian. Pada tremor psikogenik, sering terdapat co-activation dari otot agonis dan antagonis secara bersamaan, yang menciptakan efisiensi mekanis yang buruk.
EMG merekam aktivitas listrik otot dan dapat menunjukkan pola khas tremor psikogenik:
Tes entrainment menilai kemampuan pasien untuk menyesuaikan frekuensi tremor mereka dengan gerakan eksternal yang ritmis (misalnya, pasien mengikuti jari pemeriksa yang bergerak dengan frekuensi berbeda).
Pada tremor organik, frekuensi tremor relatif stabil dan tidak dapat dengan mudah diubah untuk mengikuti gerakan eksternal â tremor mempertahankan frekuensi intrinsiknya.
Pada tremor psikogenik, frekuensi tremor sering dapat diubah atau disinkronkan dengan frekuensi eksternal, menunjukkan kemampuan pasien untuk mengontrol tremor secara tidak sadar.
Tes Go-No-Go adalah tes kognitif di mana pasien diminta merespons sinyal tertentu (Go) dan tidak merespons sinyal lain (No-Go). Selama tes ini, amplitudo tremor psikogenik sering berkurang, karena perhatian dialihkan ke tugas kognitif.
Teknik imaging otak canggih dapat memberikan wawasan tentang mekanisme tremor psikogenik:
Functional MRI (fMRI) menunjukkan bahwa selama tremor psikogenik, terdapat aktivasi wilayah:
Pola aktivasi ini berbeda dari aktivasi yang terjadi pada tremor organik, yang menunjukkan aktivasi motorik primer.
SPECT (single-photon emission computed tomography) menunjukkan pola perfusi darah yang karakteristik:
Pola ini mendukung diagnosis tremor psikogenik dengan menunjukkan keterlibatan sistem emosional dan penurunan kontrol kognitif.
Psikoterapi adalah pengobatan utama untuk tremor psikogenik. Tujuannya adalah untuk:
Psikoterapi yang efektif telah menunjukkan kemampuan untuk mengurangi tremor secara signifikan bahkan menghilangkannya, karena mengatasi penyebab mendasarnya.
Fisioterapi dekontraksi adalah pendekatan non-farmakologis yang membantu mengurangi gangguan gerak melalui:
Pendekatan ini sering lebih efektif ketika dikombinasikan dengan psikoterapi.
Tidak ada bukti kuat bahwa obat-obatan efektif untuk tremor psikogenik. Obat yang biasa digunakan untuk tremor organik (seperti beta-blocker atau benzodiazepin) umumnya tidak membantu tremor psikogenik.
Namun, obat-obatan dapat dipertimbangkan dalam kasus-kasus tertentu:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi