Parotitis Akut

Pembengkakan pipi yang bikin gemes, tapi jangan salah sangka! Parotitis, terutama gondongan (mumps), sering banget muncul di soal UKMPPD. Kondisi ini bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri, dan membedakannya adalah kunci tatalaksana yang tepat. Yuk, bedah tuntas etiologi, manifestasi, dan tatalaksananya agar kamu nggak bingung lagi membedakan viral dan bakterial serta siap hadapi soal ujian!

Definisi

Parotitis akut adalah peradangan akut pada kelenjar parotis, salah satu kelenjar ludah mayor, yang ditandai dengan pembengkakan dan nyeri pada area preaurikular dan submandibular.

Kondisi ini paling sering disebabkan oleh infeksi virus (terutama Mumps virus) atau bakteri.

Etiologi

  • Virus:

    Penyebab paling umum, terutama pada anak-anak.

    • Mumps virus (Gondongan): Merupakan penyebab terbanyak parotitis epidemik.
    • Virus lain: Parainfluenza, Influenza A, Epstein-Barr virus (EBV), Cytomegalovirus (CMV), HIV, Coxsackievirus, Enterovirus.
  • Bakteri:

    Lebih sering terjadi pada bayi baru lahir, lansia, pasien imunokompromais, atau pasien dengan dehidrasi dan higiene mulut buruk.

    • Bakteri tersering: Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes.
    • Bakteri lain: Haemophilus influenzae, Escherichia coli, bakteri anaerob.
  • Non-infeksi:
    • Obstruksi duktus (sialolithiasis).
    • Penyakit autoimun (misalnya, Sindrom Sjögren).
    • Reaksi obat (misalnya, fenilbutazon, tiourasil, iodida, fenotiazin).
    • Tumor (jinak atau ganas).
    • Sarkoidosis, malnutrisi.

Patofisiologi

  • Parotitis Viral (Mumps):

    Virus masuk melalui saluran napas, bereplikasi di epitel saluran napas atas, kemudian menyebar secara viremia ke kelenjar parotis dan organ lain (misalnya testis, ovarium, pankreas, susunan saraf pusat). Virus menginfeksi sel epitel duktus kelenjar parotis, menyebabkan kerusakan sel dan respons inflamasi.

  • Parotitis Bakterial Akut (Supuratif):

    Biasanya terjadi akibat infeksi asenden dari bakteri di rongga mulut melalui duktus Stensen ke kelenjar parotis. Faktor risiko meliputi dehidrasi, obstruksi duktus, higiene oral yang buruk, imunosupresi, dan penurunan produksi saliva. Bakteri kemudian bereplikasi dan menyebabkan inflamasi supuratif.

Manifestasi Klinis

  • Parotitis Viral (Mumps):
    • Masa inkubasi 14-25 hari.
    • Prodromal (1-2 hari): Demam ringan, malaise, nyeri kepala, anoreksia.
    • Pembengkakan kelenjar parotis: Biasanya bilateral (70%), namun bisa unilateral. Nyeri dan tegang saat disentuh. Puncak pembengkakan 1-3 hari, mereda dalam 7-10 hari.
    • Nyeri saat mengunyah atau menelan, terutama makanan asam.
    • Mulut kering.
    • Orifisium duktus Stensen biasanya tidak meradang.
  • Parotitis Bakterial Akut:
    • Onset lebih akut dan fulminan.
    • Pembengkakan kelenjar parotis: Biasanya unilateral, nyeri hebat, kemerahan, hangat, dan fluktuatif jika sudah terbentuk abses.
    • Demam tinggi, menggigil, malaise.
    • Nyeri saat palpasi dan pergerakan rahang.
    • Duktus Stensen sering tampak merah dan bisa mengeluarkan pus saat kelenjar dipijat (pemeriksaan sangat penting!).
    • Leukositosis dengan pergeseran ke kiri.

Penegakan Diagnosis

  • Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik:

    Diagnosis parotitis seringkali dapat ditegakkan secara klinis, terutama untuk mumps, berdasarkan riwayat kontak, status imunisasi, dan karakteristik pembengkakan kelenjar.

  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Parotitis Viral (Mumps):
      • Peningkatan amilase serum: Sering ditemukan, namun tidak spesifik (juga bisa meningkat pada pankreatitis).
      • Serologi (IgM dan IgG anti-mumps): IgM positif menunjukkan infeksi akut.
      • RT-PCR: Dapat mendeteksi RNA virus dari saliva, urin, atau cairan serebrospinal.
    • Parotitis Bakterial:
      • Darah lengkap: Leukositosis dengan dominasi neutrofil.
      • Kultur dan pewarnaan Gram pus: Jika didapatkan sekret purulen dari duktus Stensen atau aspirasi abses, sangat membantu identifikasi bakteri dan sensitivitas antibiotik.
      • USG kelenjar parotis: Dapat membantu membedakan penyebab (misalnya, abses, sialolithiasis, massa) dan memandu aspirasi.

Diagnosis Banding

KondisiKarakteristik Khas
Mumps ParotitisBilateral (70%), onset subakut, prodromal, riwayat kontak, status imunisasi, peningkatan amilase.
Parotitis BakterialUnilateral, onset akut, nyeri hebat, eritema, pus dari duktus Stensen, demam tinggi, leukositosis.
Limfadenitis ServikalPembengkakan nodus limfa, tidak melibatkan kelenjar parotis, lokasi biasanya lebih ke inferior/posterior telinga.
SialolithiasisNyeri dan pembengkakan intermiten, terutama saat makan, bisa dipalpasi batu di duktus Stensen, USG dapat mengonfirmasi.
Kista BrankialMassa kongenital, biasanya di lateral leher, tidak nyeri kecuali terinfeksi.
Tumor Kelenjar ParotisMassa padat, sering tidak nyeri, progresif, bisa unilateral, perlu biopsi untuk diagnosis pasti.
SialadenosisPembesaran kelenjar non-inflamasi, sering bilateral, terkait malnutrisi, alkoholik, atau obat-obatan.

Tatalaksana

  • Parotitis Viral (Mumps):

    Tatalaksana bersifat suportif dan simptomatik.

    • Analgesik-antipiretik: Parasetamol atau ibuprofen untuk demam dan nyeri.
    • Hidrasi adekuat: Penting untuk mencegah dehidrasi.
    • Kompres hangat atau dingin: Dapat membantu meredakan nyeri dan pembengkakan.
    • Istirahat: Dianjurkan selama fase akut.
    • Diet lunak: Untuk mengurangi nyeri saat mengunyah.
  • Parotitis Bakterial Akut:

    Memerlukan terapi antibiotik.

    • Antibiotik:
      • Empiris: Dimulai dengan antibiotik spektrum luas yang mencakup S. aureus dan bakteri anaerob (misalnya, Clindamycin atau kombinasi Amoxicillin-Clavulanate, atau Cefazolin + Metronidazole).
      • Definitif: Disesuaikan berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas.
    • Hidrasi: Intravena jika pasien dehidrasi berat.
    • Analgesik-antipiretik.
    • Stimulasi saliva: Permen karet tanpa gula atau permen asam untuk membantu membersihkan duktus.
    • Drainase abses: Jika terbentuk abses, insisi dan drainase bedah diperlukan.

Komplikasi

  • Komplikasi Mumps:
    • Orkitis: Peradangan testis, paling umum pada laki-laki pascapubertas, bisa menyebabkan infertilitas.
    • Ooforitis: Peradangan ovarium pada perempuan pascapubertas.
    • Pankreatitis: Nyeri perut atas, mual, muntah, peningkatan amilase/lipase.
    • Meningoensefalitis: Nyeri kepala, demam, kaku kuduk, perubahan status mental.
    • Ketulian: Sensorineural unilateral permanen, jarang.
    • Artritis, miokarditis, tiroiditis, nefritis.
  • Komplikasi Parotitis Bakterial:
    • Abses kelenjar parotis.
    • Selulitis fasial atau leher.
    • Osteomielitis mandibula.
    • Sepsis.
    • Obstruksi jalan napas (jarang, jika pembengkakan sangat masif).

Pencegahan

  • Vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella):

    Merupakan cara paling efektif untuk mencegah parotitis akibat mumps. Diberikan pada usia 12-15 bulan dan dosis booster pada usia 5-7 tahun (atau sesuai jadwal imunisasi nasional).

  • Higiene oral yang baik:

    Membantu mencegah parotitis bakterial, terutama pada pasien rawat inap.

  • Hidrasi adekuat:

    Penting untuk menjaga aliran saliva dan mencegah parotitis bakterial pada pasien dengan risiko.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds