Penyebab paling umum, terutama pada anak-anak.
Lebih sering terjadi pada bayi baru lahir, lansia, pasien imunokompromais, atau pasien dengan dehidrasi dan higiene mulut buruk.
Virus masuk melalui saluran napas, bereplikasi di epitel saluran napas atas, kemudian menyebar secara viremia ke kelenjar parotis dan organ lain (misalnya testis, ovarium, pankreas, susunan saraf pusat). Virus menginfeksi sel epitel duktus kelenjar parotis, menyebabkan kerusakan sel dan respons inflamasi.
Biasanya terjadi akibat infeksi asenden dari bakteri di rongga mulut melalui duktus Stensen ke kelenjar parotis. Faktor risiko meliputi dehidrasi, obstruksi duktus, higiene oral yang buruk, imunosupresi, dan penurunan produksi saliva. Bakteri kemudian bereplikasi dan menyebabkan inflamasi supuratif.
Diagnosis parotitis seringkali dapat ditegakkan secara klinis, terutama untuk mumps, berdasarkan riwayat kontak, status imunisasi, dan karakteristik pembengkakan kelenjar.
| Kondisi | Karakteristik Khas |
|---|---|
| Mumps Parotitis | Bilateral (70%), onset subakut, prodromal, riwayat kontak, status imunisasi, peningkatan amilase. |
| Parotitis Bakterial | Unilateral, onset akut, nyeri hebat, eritema, pus dari duktus Stensen, demam tinggi, leukositosis. |
| Limfadenitis Servikal | Pembengkakan nodus limfa, tidak melibatkan kelenjar parotis, lokasi biasanya lebih ke inferior/posterior telinga. |
| Sialolithiasis | Nyeri dan pembengkakan intermiten, terutama saat makan, bisa dipalpasi batu di duktus Stensen, USG dapat mengonfirmasi. |
| Kista Brankial | Massa kongenital, biasanya di lateral leher, tidak nyeri kecuali terinfeksi. |
| Tumor Kelenjar Parotis | Massa padat, sering tidak nyeri, progresif, bisa unilateral, perlu biopsi untuk diagnosis pasti. |
| Sialadenosis | Pembesaran kelenjar non-inflamasi, sering bilateral, terkait malnutrisi, alkoholik, atau obat-obatan. |
Tatalaksana bersifat suportif dan simptomatik.
Memerlukan terapi antibiotik.
Merupakan cara paling efektif untuk mencegah parotitis akibat mumps. Diberikan pada usia 12-15 bulan dan dosis booster pada usia 5-7 tahun (atau sesuai jadwal imunisasi nasional).
Membantu mencegah parotitis bakterial, terutama pada pasien rawat inap.
Penting untuk menjaga aliran saliva dan mencegah parotitis bakterial pada pasien dengan risiko.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi