Paronikia

Paronikia seringkali dianggap remeh, padahal kondisi peradangan di sekitar kuku ini bisa sangat mengganggu dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Mahasiswa kedokteran wajib memahami perbedaan antara paronikia akut dan kronis, serta penatalaksanaannya yang spesifik. Yuk, kita kupas tuntas agar kamu siap menghadapi soal UKMPPD dan praktik klinis!

Definisi

Paronikia adalah kondisi peradangan pada lipatan kuku (nail fold) yang melibatkan kulit di sekitar kuku, baik kuku jari tangan maupun jari kaki. Kondisi ini dapat bersifat akut atau kronis, dengan etiologi dan penatalaksanaan yang berbeda.

Etiologi

Etiologi paronikia bervariasi tergantung jenisnya:

  • Paronikia Akut:
    • Paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes.
    • Juga bisa disebabkan oleh infeksi jamur (misalnya Candida albicans) atau virus (misalnya Herpes simpleks, dikenal sebagai herpetic whitlow).
    • Seringkali dipicu oleh trauma minor pada lipatan kuku yang merusak barier kulit, seperti kebiasaan menggigit kuku, memotong kutikula terlalu dalam, atau mencabut hangnail.
  • Paronikia Kronis:
    • Umumnya merupakan dermatitis iritan atau alergi pada lipatan kuku, seringkali diperparah oleh infeksi sekunder, terutama jamur Candida albicans.
    • Jarang disebabkan oleh bakteri primer.
    • Terjadi akibat paparan iritan atau alergen secara terus-menerus, seperti air, deterjen, bahan kimia, atau paparan lingkungan lembap.

Faktor Risiko

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami paronikia:

  • Trauma minor berulang: Menggigit kuku (onychophagia), mencabut kutikula, mencuci piring tanpa sarung tangan, manikur/pedikur agresif.
  • Paparan air atau kelembapan berlebihan: Pekerja yang sering kontak dengan air (koki, tukang cuci, perawat, bartender).
  • Kondisi medis: Diabetes mellitus, penyakit vaskular perifer, HIV/AIDS, imunodefisiensi.
  • Obat-obatan: Retinoid oral (isotretinoin), obat kemoterapi tertentu (misalnya EGFR inhibitor).
  • Kuku tumbuh ke dalam (ingrown nail): Terutama pada paronikia jari kaki.

Manifestasi Klinis

Gejala paronikia bervariasi antara akut dan kronis:

  • Paronikia Akut:
    • Onset cepat (beberapa jam hingga hari).
    • Nyeri hebat, kemerahan (eritema), bengkak (edema), dan hangat di sekitar lipatan kuku.
    • Seringkali disertai nanah (pus) yang terlihat di bawah kutikula atau di lipatan kuku, membentuk abses kecil.
    • Dapat menyebabkan gangguan fungsi jari.
  • Paronikia Kronis:
    • Onset bertahap (minggu hingga bulan).
    • Kemerahan dan bengkak ringan pada lipatan kuku proksimal, sering tanpa nyeri hebat.
    • Kutikula hilang atau tertarik (retraksi kutikula), menciptakan celah antara kuku dan lipatan kuku, memudahkan masuknya iritan dan mikroorganisme.
    • Perubahan pada lempeng kuku: distorsi, penebalan, perubahan warna (diskolorasi), garis melintang (Beau's lines).
    • Biasanya tidak ada nanah, kecuali ada infeksi sekunder akut.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis paronikia sebagian besar ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

  • Anamnesis: Riwayat trauma, paparan air/iritan, durasi gejala, riwayat kondisi medis.
  • Pemeriksaan Fisik: Inspeksi dan palpasi area sekitar kuku untuk melihat tanda-tanda peradangan (eritema, edema, nyeri, fluktuasi/abses).
  • Pemeriksaan Penunjang (jarang diperlukan, kecuali kasus atipikal atau gagal terapi):
    • Pewarnaan Gram dan kultur pus: Jika ada abses, untuk identifikasi bakteri dan sensitivitas antibiotik.
    • Pemeriksaan KOH (kalium hidroksida): Untuk mengidentifikasi hifa jamur pada paronikia kronis atau dicurigai infeksi jamur.
    • Biopsi: Sangat jarang, untuk menyingkirkan keganasan atau kondisi lain yang menyerupai paronikia.

Tatalaksana

Tatalaksana disesuaikan dengan jenis dan keparahan paronikia.

Paronikia Akut:

  • Tanpa Abses:
    • Kompres hangat: Rendam jari dalam air hangat 3-4 kali sehari selama 15-20 menit untuk mengurangi peradangan dan nyeri.
    • Antibiotik topikal: Mupirocin atau fusidic acid, dioleskan beberapa kali sehari.
    • Antibiotik oral: Jika peradangan luas atau tidak responsif terhadap terapi topikal. Pilihan: Sefaleksin, Kloksasilin (untuk S. aureus), atau Klindamisin (jika alergi penisilin atau dicurigai MRSA).
  • Dengan Abses (Fluktuasi Positif):
    • Insisi dan Drainase (I&D): Prosedur bedah minor untuk mengeluarkan nanah. Dapat dilakukan dengan anestesi lokal.
    • Setelah I&D, pasien mungkin memerlukan antibiotik oral dan kompres hangat.

Paronikia Kronis:

  • Hindari faktor pemicu: Ini adalah langkah terpenting. Edukasi pasien untuk menghindari paparan air, deterjen, dan trauma pada kuku. Gunakan sarung tangan saat bekerja.
  • Antijamur topikal: Jika dicurigai infeksi Candida (misalnya, Nistatin, Klotrimazol, Ketokonazol krim) dioleskan secara teratur.
  • Kortikosteroid topikal: Untuk mengurangi peradangan (misalnya, betamethasone valerate krim) dapat dikombinasikan dengan antijamur.
  • Antijamur oral: Jika kasus parah atau tidak responsif terhadap terapi topikal (misalnya, Itrakonazol atau Flukonazol).
  • Bedah: Jarang, hanya jika ada deformitas kuku parah atau gagal terapi konservatif.

Komplikasi

Tanpa penanganan yang tepat, paronikia dapat menyebabkan:

  • Osteomielitis: Infeksi tulang jari (jarang, tapi serius).
  • Selulitis: Penyebaran infeksi ke jaringan lunak sekitar.
  • Abses subungual: Pembentukan nanah di bawah lempeng kuku.
  • Distrofi kuku permanen: Perubahan bentuk, warna, atau tekstur kuku yang tidak dapat kembali normal.
  • Paronikia rekuren: Terutama jika faktor risiko tidak diatasi.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk pencegahan dan manajemen jangka panjang, terutama pada paronikia kronis.

  • Hindari trauma kuku: Jangan menggigit kuku, mencabut kutikula, atau memotong kuku terlalu pendek.
  • Gunakan sarung tangan: Saat kontak dengan air, deterjen, atau bahan kimia.
  • Jaga kebersihan kuku: Cuci tangan secara teratur, keringkan kuku dengan baik.
  • Hindari manikur/pedikur agresif: Pilih salon yang higienis dan hindari pemotongan kutikula.
  • Kontrol kondisi medis: Terutama diabetes mellitus.
  • Jaga kelembapan kulit tangan: Gunakan pelembap untuk menjaga barier kulit tetap sehat.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds