Ototoksisitas obat adalah penurunan fungsi pendengaran, tinnitus (bunyi berdengung di telinga), dan/atau vertigo (pusing berputar) yang diakibatkan oleh paparan obat-obatan tertentu. Sebagian besar kasus ototoksisitas obat menghasilkan tuli sensorineural, yang berarti kerusakan terjadi pada struktur dalam telinga (koklea) atau saraf pendengaran, bukan pada mekanisme penjalaran suara di telinga tengah.
Penting untuk memahami bahwa ototoksisitas obat seringkali tidak dapat dibalikkan, artinya sekali terjadi kerusakan pendengaran, fungsi tersebut biasanya tidak dapat pulih kembali. Inilah mengapa mengenali dan mencegah ototoksisitas merupakan aspek penting dalam praktik klinis.
Kelompok obat yang paling sering menyebabkan ototoksisitas adalah aminoglikosida, sebuah kelas antibiotik yang termasuk:
Di antara obat-obat ini, gentamisin adalah aminoglikosida yang paling sering digunakan di fasilitas kesehatan, terutama untuk penanganan infeksi telinga dan infeksi bakteri gram-negatif lainnya.
Informasi Tambahan tentang Pilihan Aminoglikosida
Tobramisin, amikasin, dan netilmisin tersedia sebagai alternatif untuk mengatasi resistensi bakteri *Pseudomonas aeruginosa* . Netilmisin memiliki beberapa keuntungan unik: bersifat sinergis dengan antibiotik β-laktam dan memiliki potensi yang setara atau lebih kuat daripada aminoglikosida lain. Namun, dalam praktik klinis pada manusia, tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat ototoksisitas antara gentamisin, amikasin, atau netilmisin. Demikian pula, gentamisin, netilmisin, dan tobramisin memiliki tingkat toksisitas ginjal yang serupa.
Aminoglikosida menyebabkan kerusakan pendengaran melalui kerusakan sel-sel rambut koklea, yang merupakan sel-sel sensorik yang bertanggung jawab untuk mengkonversi getaran suara menjadi sinyal listrik yang dapat dipahami otak. Ketika terpapar aminoglikosida, proses hilangnya sel-sel rambut dimulai dari putaran basal koklea (bagian dasar struktur spiral koklea).
Satu karakteristik penting aminoglikosida adalah bahwa hanya 3% dosis oral yang terserap di saluran cerna. Ini berarti aminoglikosida tidak efektif jika diminum melalui mulut untuk infeksi sistemikâantibiotik ini harus diberikan melalui injeksi intramuskuler atau intravena untuk mencapai konsentrasi terapeutik dalam darah. Namun, aplikasi topikal (langsung pada telinga) dapat menyebabkan ototoksisitas yang serius karena paparan langsung pada struktur telinga dalam.
Faktor risiko utama untuk ototoksisitas aminoglikosida adalah penurunan fungsi ginjal. Alasannya adalah bahwa aminoglikosida terutama diekskresi (dikeluarkan dari tubuh) melalui ginjal. Ketika fungsi ginjal menurun, ekskresi aminoglikosida berkurang, menyebabkan akumulasi obat dalam darah dan jaringan tubuh, termasuk koklea. Akumulasi ini meningkatkan potensi keracunan ginjal dan kerusakan telinga.
Oleh karena itu, pasien dengan fungsi ginjal yang diragukan memiliki risiko toksisitas aminoglikosida yang jauh lebih tinggi dan memerlukan monitoring yang lebih ketat.
Penggunaan aminoglikosida bersamaan dengan diuretik penghambat loop (seperti asam ethacrynic dan furosemida) secara signifikan meningkatkan ototoksisitas. Diuretik loop bekerja dengan meningkatkan ekskresi cairan, tetapi efek samping mereka pada telinga sangat berbahaya.
Dalam penelitian pada hewan percobaan, asam ethacrynic terbukti merusak:
Kombinasi aminoglikosida dengan diuretik loop menciptakan efek sinergis yang merusak, sehingga harus dihindari ketika memungkinkan.
Tinnitus biasanya menjadi gejala pertama, seringkali mendahului penurunan pendengaran yang nyata. Pasien melaporkan suara berdengung, mendesis, atau nada tinggi yang mengganggu di telinga.
Setelah tinnitus muncul, penurunan pendengaran dimulai pada frekuensi tinggi terlebih dahulu. Ini mengapa ototoksisitas sulit dideteksi awalâketika seseorang baru memperhatikan gangguan pendengaran, biasanya penurunan fungsi sudah cukup parah di frekuensi tinggi. Pasien mungkin menganggap diri mereka "tidak mendengar baik" dalam percakapan normal terlebih dahulu sebelum menyadari frekuensi tinggi hilang.
Vertigo dapat juga terjadi, terutama jika sistem vestibular (organ keseimbangan) juga terkena.
Setelah terjadi ototoksisitas, opsi manajemen termasuk:
Tidak ada terapi farmakologis yang terbukti dapat memulihkan kerusakan pendengaran yang sudah terjadi.
Pencegahan adalah pendekatan terbaik terhadap ototoksisitas obat. Strategi pencegahan meliputi:
Sayangnya, prognosis ototoksisitas obat biasanya tidak baik. Prognosis dipengaruhi oleh:
Dalam banyak kasus, kerusakan pendengaran yang terjadi akibat ototoksisitas obat bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan. Sekali sel-sel rambut koklea rusak, tidak ada mekanisme penyembuhan alami pada manusia dewasa. Inilah mengapa strategi preventif dan deteksi dini sangat penting dalam praktik klinis.
Ringkasan Poin Kunci:
Ototoksisitas obat adalah efek samping serius dari aminoglikosida dan obat tertentu lainnya. Pengetahuan tentang faktor risiko (terutama gangguan ginjal dan kombinasi dengan diuretik loop), pengenalan gejala awal (tinnitus sebelum penurunan pendengaran), dan strategi pencegahan melalui monitoring pasien adalah komponen esensial untuk mengurangi insidensi kerusakan pendengaran yang disebabkan oleh obat.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi