
Otitis eksterna merupakan kondisi inflamasi atau infeksi yang menyerang liang telinga luar, meliputi area dari meatus akustikus externus hingga permukaan anterior membran timpani. Kondisi ini dapat bermanifestasi sebagai infeksi fokal seperti furunkel atau infeksi difus yang melibatkan seluruh dinding liang telinga. Faktor predisposisi utama meliputi paparan kelembaban berlebihan, trauma mekanik ringan akibat korek telinga, serta gangguan keseimbangan pH normal liang telinga.
Otitis eksterna merupakan infeksi atau inflamasi pada liang telinga luar yang umumnya dipicu oleh faktor lingkungan dan mikroorganisme patogen. Kondisi ini sering kali bermula dari perubahan mikrobioma kulit liang telinga akibat kelembapan berlebih atau kerusakan integritas epidermis.
Otitis eksterna terjadi akibat gangguan keseimbangan lingkungan liang telinga luar yang memicu peradangan pada epidermis dan dermis. Faktor predisposisi seperti kelembapan tinggi, ekskoriasi mikro, atau akumulasi serumen menurunkan pertahanan alami kulit sehingga patogen oportunistik dapat berkolonisasi.

Otitis eksterna merupakan peradangan pada liang telinga luar yang umumnya ditandai dengan keluhan gatal dan nyeri yang khas. Pasien biasanya melaporkan rasa sakit yang memburuk saat melakukan gerakan rahang seperti mengunyah atau ketika daun telinga dan tragus ditekan. Selain nyeri, sering ditemukan pengeluaran cairan dari liang telinga yang dapat bervariasi dari serosa hingga purulen.
Manifestasi klinis penyakit ini sangat bergantung pada derajat inflamasi dan etiologi penyebabnya. Pemeriksaan fisik akan menunjukkan eritema, edema, dan deskuamasi kulit liang telinga yang disertai hipersekresi kelenjar serumen. Pada kasus kronis, pasien mungkin mengeluhkan penurunan pendengaran sementara akibat obstruksi mekanis liang telinga.
Diagnosis otitis eksterna ditegakkan berdasarkan anamnesis lengkap dan pemeriksaan fisik telinga luar yang khas. Pasien umumnya mengeluhkan nyeri telinga hebat yang memburuk saat mengunyah atau menarik daun telinga, disertai rasa gatal dan pengeluaran sekret. Riwayat paparan air berulang, trauma lokal, atau penggunaan alat bantu dengar menjadi faktor predisposisi penting dalam menegakkan diagnosis klinis ini.
Pemeriksaan otoskopi akan menunjukkan hiperemis, edema, dan deskuamasi pada kulit liang telinga, serta adanya eksudat serosa hingga purulen. Pada kasus yang dicurigai sebagai otitis eksterna maligna, evaluasi lebih lanjut dengan pencitraan radiologi diperlukan untuk menilai keterlibatan jaringan tulang dan saraf kranial.
Penatalaksanaan otitis eksterna berfokus pada pembersihan liang telinga, pemberian terapi topikal, serta penanganan penyebab dasar untuk mencegah kekambuhan. Pada kasus sederhana, debridemen mekanis atau aspirasi debris merupakan langkah awal yang krusial sebelum pemberian obat tetes telinga. Terapi sistemik umumnya hanya diberikan jika infeksi telah menyebar ke jaringan periaurikular atau pada pasien dengan faktor risiko imunokompromais.
Pendekatan terapeutik harus disesuaikan dengan etiologi mikroorganisme dan tingkat keparahan klinis pasien. Monitoring respons pengobatan dilakukan secara berkala untuk memastikan resolusi peradangan dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Otitis eksterna umumnya bersifat lokal dan self-limiting, namun dapat berkembang menjadi komplikasi serius jika diagnosis terlambat atau pasien memiliki faktor risiko seperti diabetes melitus dan imunosupresi. Penyebaran infeksi ke jaringan peritragus dan struktur tulang serta saraf sekitar memerlukan penanganan agresif untuk mencegah morbiditas jangka panjang.
Meskipun jarang, kelainan ini berpotensi memicu gangguan fungsi organ tetangga apabila tidak ditangani sesuai protokol standar.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi