Nyeri Perut Akut

Nyeri perut akut adalah keluhan umum yang sering membawa pasien ke IGD, namun diagnosisnya bisa jadi tantangan besar, bahkan bagi dokter berpengalaman. Membedakan kondisi medis ringan dari kegawatdaruratan bedah yang mengancam nyawa adalah kunci utama dalam tatalaksana. Yuk, kuasai pendekatan sistematisnya agar siap menghadapi soal UKMPPD dan praktik klinis!

Definisi

Nyeri perut akut adalah nyeri yang timbul mendadak atau dalam waktu singkat (umumnya kurang dari 7 hari), bersifat progresif, dan seringkali memerlukan intervensi medis atau bedah segera.

Kondisi ini merupakan salah satu kegawatdaruratan medis yang paling sering dijumpai dan membutuhkan evaluasi cepat serta akurat untuk menentukan etiologi dan tatalaksana yang tepat.

Pendekatan Klinis

Anamnesis

  • Lokasi nyeri: Apakah terlokalisir atau menyebar? Apakah nyeri berpindah?
  • Onset dan durasi: Kapan nyeri dimulai? Apakah mendadak atau bertahap?
  • Karakter nyeri: Tumpul, tajam, kolik, seperti terbakar, tertusuk, atau diremas?
  • Intensitas nyeri: Skala 1-10.
  • Faktor pemicu/peredam: Posisi tubuh, makanan, aktivitas.
  • Radiasi nyeri: Menyebar ke punggung, bahu, paha, atau skrotum?
  • Keluhan penyerta: Mual, muntah, demam, diare, konstipasi, perubahan pola BAB/BAK, ikterus, riwayat menstruasi/kehamilan (HPHT), keputihan.
  • Riwayat medis: Penyakit dahulu (ulkus, batu empedu, DM), operasi abdomen sebelumnya, obat-obatan yang dikonsumsi.

Pemeriksaan Fisik

Evaluasi status hemodinamik pasien adalah prioritas utama (tanda vital: tekanan darah, nadi, respirasi, suhu).

  • Inspeksi: Distensi, skar operasi, massa, perubahan warna kulit.
  • Auskultasi: Bising usus (meningkat pada obstruksi, menurun/menghilang pada ileus paralitik/peritonitis).
  • Perkusi: Timpani (meteorismus), pekak (asites/massa), nyeri ketok (peritonitis).
  • Palpasi:
    • Identifikasi lokasi nyeri tekan, nyeri lepas, defans muskular (kontraksi involunter otot dinding perut), rigiditas (kekakuan perut seperti papan).
    • Palpasi organ (hepar, lien, ginjal) dan massa abnormal.
  • Pemeriksaan khusus:
    • Rectal Touché (RT): Nyeri tekan rektum, massa, darah pada sarung tangan.
    • Pemeriksaan Ginekologi (VT): Jika relevan, untuk mengevaluasi nyeri adneksa atau serviks.

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

  • Darah lengkap: Leukositosis (inflamasi/infeksi), anemia.
  • Urinalisis: Infeksi saluran kemih, batu saluran kemih.
  • Elektrolit, fungsi ginjal: Dehidrasi, gangguan ginjal.
  • Fungsi hati (SGOT, SGPT, Bilirubin): Gangguan hepar/biliar.
  • Amilase/Lipase: Pankreatitis.
  • Tes kehamilan (β-hCG): Penting pada wanita usia subur untuk menyingkirkan kehamilan ektopik.
  • CRP/Prokalsitonin: Indikator inflamasi/infeksi.

Radiologi

  • Foto Polos Abdomen (3 posisi: supine, erect, LLD): Deteksi udara bebas subdiafragma (perforasi), pola gas usus (obstruksi, ileus), kalsifikasi (batu).
  • USG Abdomen: Pilihan pertama untuk evaluasi organ padat (hepar, lien, ginjal), kandung empedu (kolesistitis, kolelitiasis), apendisitis, massa adneksa, cairan bebas.
  • CT Scan Abdomen: Sangat sensitif dan spesifik untuk banyak kondisi intra-abdomen, terutama jika diagnosis belum jelas.
  • EKG: Jika ada kecurigaan nyeri alih dari jantung (misal: infark miokard).

Etiologi & Diagnosis Banding

Nyeri perut akut dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari yang ringan hingga mengancam nyawa. Penting untuk mengidentifikasi penyebab bedah akut secepat mungkin.

Klasifikasi Umum

  • Penyebab Inflamasi: Apendisitis, kolesistitis, pankreatitis, divertikulitis, PID.
  • Penyebab Obstruktif: Obstruksi usus, ileus, batu ureter, batu empedu.
  • Penyebab Perforasi: Ulkus perforasi, perforasi usus.
  • Penyebab Vaskular: Iskemia mesenterika, aneurisma aorta abdominalis ruptur.
  • Penyebab Ginekologi/Urologi: Kehamilan ektopik, torsio ovarium, infeksi saluran kemih (ISK), pielonefritis.
  • Penyebab Ekstra-abdominal: Infark miokard, pneumonia lobus bawah, ketoasidosis diabetikum (KAD).

Diagnosis Banding Berdasarkan Lokasi Nyeri

Lokasi NyeriDiagnosis Banding Utama
Kuadran Kanan Atas (KKA)
  • Kolesistitis akut
  • Kolelitiasis
  • Hepatitis akut
  • Abses hepar
  • Pneumonia lobus bawah kanan
  • Pielonefritis kanan
Kuadran Kiri Atas (KKA)
  • Pankreatitis akut
  • Gastritis akut
  • Ulkus gaster
  • Ruptur lien
  • Pneumonia lobus bawah kiri
  • Pielonefritis kiri
Kuadran Kanan Bawah (KKB)
  • Apendisitis akut (paling sering)
  • Adenitis mesenterika
  • Kehamilan ektopik ruptur
  • Torsio ovarium/kista ovarium ruptur
  • Penyakit radang panggul (PID)
  • Batu ureter kanan
  • Divertikulitis Meckel
  • Hernia inkarserata
Kuadran Kiri Bawah (KKB)
  • Divertikulitis akut
  • Kehamilan ektopik ruptur
  • Torsio ovarium/kista ovarium ruptur
  • Penyakit radang panggul (PID)
  • Batu ureter kiri
  • Hernia inkarserata
Periumbilikal/Epigastrium
  • Pankreatitis akut
  • Ulkus peptikum
  • Gastritis
  • Obstruksi usus awal
  • Apendisitis awal
  • Aneurisma aorta abdominalis (AAA)
Difus/Generalisata
  • Peritonitis (primer/sekunder)
  • Iskemia mesenterika
  • Obstruksi usus lanjut
  • Ileus paralitik
  • Ketoasidosis diabetikum (KAD)
  • Gastroenteritis

Tanda Bahaya (Red Flags)

Beberapa tanda dan gejala berikut mengindikasikan kemungkinan kondisi serius yang memerlukan intervensi segera:

  • Nyeri hebat mendadak yang tidak tertahankan.
  • Tanda-tanda syok: Hipotensi, takikardia, pucat, akral dingin, penurunan kesadaran.
  • Peritonitis: Defans muskular, nyeri lepas, rigiditas dinding perut.
  • Distensi abdomen progresif dengan muntah bilious/fecal.
  • Hematemesis, melena, atau hematochezia.
  • Penurunan kesadaran atau perubahan status mental.
  • Riwayat operasi abdomen sebelumnya (meningkatkan risiko adhesi dan obstruksi).
  • Usia ekstrem (sangat tua atau sangat muda) dengan nyeri perut akut.
  • Nyeri perut pada wanita hamil yang tidak dapat dijelaskan.

Tatalaksana Awal

Tatalaksana awal nyeri perut akut berfokus pada stabilisasi pasien dan penentuan kebutuhan intervensi bedah.

  • Resusitasi & Stabilisasi:
    • Pastikan Airway, Breathing, Circulation (ABC) adekuat.
    • Pasang IV line (minimal 2 jalur perifer) dan berikan cairan kristaloid (NaCl 0.9% atau Ringer Laktat) sesuai kebutuhan.
    • Monitor ketat tanda vital (TD, nadi, respirasi, suhu, saturasi O2) dan produksi urine.
  • Puasa (NPO): Pasien dengan nyeri perut akut yang dicurigai memerlukan tindakan bedah harus dipuasakan.
  • Pemasangan NGT: Jika ada muntah persisten, distensi abdomen, atau dicurigai obstruksi usus.
  • Pemberian Analgetik: Dapat diberikan setelah evaluasi awal dan konsultasi dengan dokter bedah, terutama jika kondisi bedah akut sudah disingkirkan atau penundaan penanganan nyeri dapat memperburuk kondisi pasien.
  • Antibiotik Empiris: Jika dicurigai adanya infeksi intra-abdomen (misal: apendisitis, divertikulitis, kolesistitis).
  • Konsultasi Bedah Darurat: Segera konsultasikan ke dokter bedah jika terdapat tanda-tanda kegawatdaruratan bedah (misal: peritonitis, obstruksi usus, ruptur organ).
  • Monitoring: Lakukan observasi ketat terhadap progresivitas nyeri, tanda vital, dan hasil pemeriksaan penunjang.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds