Miringotomi dan timpanoplasti adalah dua prosedur bedah penting dalam otologi yang menangani masalah di telinga tengah. Meskipun keduanya melibatkan membran timpani, tujuan dan mekanisme kerjanya berbeda. Miringotomi adalah prosedur darurat akut untuk mengeluarkan nanah, sementara timpanoplasti adalah prosedur rekonstruktif untuk memperbaiki kerusakan kronik pada membran timpani.
Miringotomi adalah prosedur bedah yang melibatkan pembuatan insisi kecil pada membran timpani (selaput gendang telinga) di bagian pars tensa. Tujuan utama adalah memungkinkan drainase sekresi purulen (nanah) dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Indikasi miringotomi terutama adalah ketika terdapat akumulasi nanah yang jelas di telinga tengah yang tidak merespon terapi konservatif yang adekuat. Situasi ini dapat terjadi dalam infeksi akut telinga tengah (otitis media akut) yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik dan anti-inflamasi. Prosedur ini mencegah perforasi spontan yang tidak terkontrol dan menciptakan saluran drainase yang teratur dan terprediksi.
Untuk melakukan miringotomi dengan aman, diperlukan persiapan yang cermat dan peralatan yang tepat.
Kondisi pasien: Miringotomi dapat dilakukan pada pasien yang tenang dan kooperatif. Namun, terutama pada anak-anak, direkomendasikan menggunakan anestesi umum untuk memastikan pasien tetap diam selama prosedur dan mengurangi rasa takut. Pasien dalam posisi berbaring miring dengan telinga yang akan dioperasi menghadap ke atas.
Peralatan yang diperlukan:
Prosedur: Pisau miringotom dimasukkan dengan hati-hati melalui liang telinga luar sambil memvisualisasikan membran timpani melalui mikroskop. Insisi dibuat secara presisi pada pars tensa (bagian membran timpani yang tegang) untuk menghindari area yang mengandung struktur penting. Nanah akan mengalir keluar melalui insisi ini.
Penggunaan mikroskop sangat disarankan karena memberikan pandangan yang jelas dan membantu mengurangi risiko trauma pada struktur telinga.
Meskipun miringotomi adalah prosedur relatif sederhana, terdapat beberapa komplikasi potensial yang perlu diwaspadai:
Perdarahan liang telinga luar: Pembuluh darah di liang telinga luar dapat terluka, menyebabkan perdarahan. Ini biasanya perdarahan minor yang dapat dikontrol dengan irigasi lembut atau tampon.
Dislokasi tulang pendengaran (ossikula): Karena ketiga tulang pendengaran (malleus, inkus, dan stapes) terletak di dekat area operasi, trauma yang tidak hati-hati dapat menyebabkan dislokasi atau kerusakan pada tulang-tulang ini, yang mengakibatkan gangguan pendengaran.
Trauma pada fenestra rotunda: Fenestra rotunda adalah jendela kecil yang menghubungkan telinga tengah dengan koklea (telinga dalam). Jika terluka, dapat menyebabkan kebocoran cairan perilimfe dan kerusakan pendengaran.
Trauma pada nervus fasialis: Saraf wajah melewati telinga tengah dalam salurannya sendiri. Jika terluka, dapat terjadi paralisis wajah.
Trauma pada bulbus jugularis: Vena jugularis internal dikenal juga sebagai bulbus jugularis dalam konteks anatomi telinga tengah. Cedera pada struktur ini dapat menyebabkan perdarahan serius.
Untuk meminimalkan komplikasi, prosedur sebaiknya dilakukan dengan visualisasi yang baik menggunakan mikroskop dan dengan teknik yang sangat hati-hati.
Tujuan timpanoplasti adalah menghentikan infeksi kronis di telinga tengah dengan menutup defek pada membran timpani. Ketika membran timpani memiliki perforasi, bakteri dan cairan dapat terus mengalami pertukaran antara telinga tengah dan liang telinga luar, memperpanjang infeksi.
Penting memahami klasifikasi OMSK untuk mengetahui kapan timpanoplasti dilakukan:
OMSK Tipe Aman (Benigna): Dalam OMSK tipe aman, perforasi terletak di pars tensa tanpa keterlibatan struktur ossikula yang penting. Pada tipe ini, timpanoplasti dapat dilakukan sendiri tanpa prosedur tambahan. Dengan menutup perforasi membran timpani, drainase dapat dihentikan dan infeksi diharapkan berhenti.
OMSK Tipe Bahaya (Maligna): OMSK tipe bahaya melibatkan lesi yang lebih kompleks, sering kali dengan kolesteatoma (pertumbuhan epitel berlapis kulit abnormal di telinga tengah) dan potensi erosi tulang. Pada tipe ini, timpanoplasti biasanya dikombinasikan dengan mastoidektomi (pengangkatan bagian mastoid tulang temporal untuk menghilangkan penyakit dan mencegah komplikasi intrakranial).
Kombinasi kedua prosedur ini diperlukan karena mastoidektomi menghilangkan reservoir penyakit di mastoid, sementara timpanoplasti menutup membran timpani untuk mencegah infeksi berulang.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi