Miliaria dan Hidradenitis Suppurativa

Kulit gatal dan muncul bentol-bentol kecil saat cuaca panas, atau justru benjolan nyeri berulang yang meninggalkan bekas luka di ketiak? Eits, jangan sampai keliru membedakan antara Miliaria dan Hidradenitis Suppurativa, ya! Keduanya sama-sama melibatkan kelenjar keringat, tapi dengan patofisiologi dan tatalaksana yang sangat berbeda. Yuk, pahami lebih dalam agar kamu siap menghadapi soal UKMPPD!

Miliaria: Definisi dan Etiologi

Miliaria, atau dikenal juga sebagai biang keringat, adalah kondisi kulit yang umum terjadi akibat obstruksi duktus kelenjar keringat ekrin. Obstruksi ini menyebabkan retensi keringat di dalam kulit dan memicu respons inflamasi.

Etiologi utamanya adalah kondisi lingkungan yang panas dan lembap, yang meningkatkan produksi keringat. Faktor risiko lain meliputi:

  • Pakaian yang ketat atau tidak menyerap keringat.
  • Demam tinggi atau aktivitas fisik berat.
  • Penggunaan krim atau salep oklusif.
  • Imaturitas duktus keringat pada bayi.

Miliaria: Klasifikasi dan Manifestasi Klinis

Miliaria diklasifikasikan berdasarkan kedalaman obstruksi duktus keringat, yang juga menentukan manifestasi klinisnya:

Jenis MiliariaKedalaman ObstruksiManifestasi Klinis
Miliaria CrystallinaStratum korneumVesikel bening, superfisial, berukuran 1-2 mm, tanpa inflamasi. Umumnya asimtomatik.
Miliaria RubraEpidermis (stratum spinosum)Papul eritematosa, pruritus (gatal), sensasi menyengat (prickly heat). Vesikel kecil dapat terlihat.
Miliaria ProfundaDermis (persimpangan dermo-epidermal)Papul non-pruritus, sewarna kulit, atau sedikit eritematosa. Dapat menyebabkan anhidrosis (tidak berkeringat) di area yang terkena.
Miliaria PustulosaMirip Miliaria Rubra, namun dengan pustulPapul eritematosa dengan pustul steril. Dapat terjadi akibat superinfeksi bakteri.

Miliaria: Tatalaksana

Tatalaksana miliaria berfokus pada pendinginan kulit dan mengurangi oklusi:

  • Non-farmakologis: Menghindari lingkungan panas dan lembap, menggunakan pakaian longgar dan menyerap keringat, menjaga kulit tetap kering, mandi air dingin.
  • Farmakologis:
    • Untuk mengurangi gatal: Losion kalamin, antihistamin oral.
    • Untuk mengurangi inflamasi: Kortikosteroid topikal potensi rendah (misalnya, hidrokortison 1%) untuk miliaria rubra yang gatal.
    • Antiseptik topikal (misalnya, klorheksidin) jika ada risiko infeksi sekunder.

Hidradenitis Suppurativa: Definisi dan Etiologi

Hidradenitis Suppurativa (HS), atau dikenal juga sebagai akne inversa, adalah penyakit inflamasi kronis yang rekuren dan melemahkan, terutama menyerang folikel pilosebasea di area yang kaya kelenjar apokrin.

Etiologi HS bersifat multifaktorial, meliputi:

  • Genetik: Terdapat predisposisi genetik pada sekitar 30-40% pasien.
  • Gaya Hidup: Merokok (faktor risiko terkuat) dan obesitas.
  • Hormonal: Sering memburuk sebelum menstruasi atau selama kehamilan.
  • Mekanis: Gesekan kulit, tekanan, atau oklusi.
  • Imunologis: Disregulasi sistem imun berperan dalam patogenesis inflamasi kronis.

Hidradenitis Suppurativa: Patofisiologi

Patofisiologi HS dimulai dengan oklusi folikel pilosebasea, bukan kelenjar keringat apokrin itu sendiri. Prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Terjadi hiperkeratosis folikular yang menyebabkan oklusi muara folikel rambut.
  2. Oklusi ini menyebabkan dilatasi folikel dan ruptur dinding folikel.
  3. Ruptur folikel melepaskan keratin dan bakteri ke dalam dermis, memicu respons inflamasi yang kuat.
  4. Inflamasi kronis dan destruksi jaringan menyebabkan pembentukan nodul, abses, sinus tract (jalur fistula), dan jaringan parut yang khas.
  5. Kelenjar apokrin dan ekrin dapat terlibat sekunder akibat inflamasi di sekitarnya.

Hidradenitis Suppurativa: Manifestasi Klinis dan Klasifikasi

HS ditandai dengan lesi inflamasi yang nyeri dan berulang di area predileksi yang mengandung kelenjar apokrin, seperti:

  • Aksila (ketiak)
  • Inguinal (selangkangan)
  • Perianal dan perineum
  • Inframammary (di bawah payudara)
  • Gluteal

Lesi yang khas meliputi:

  • Nodul inflamasi: Benjolan nyeri di bawah kulit.
  • Abses: Kumpulan nanah yang nyeri.
  • Sinus tract: Saluran di bawah kulit yang mengeluarkan nanah atau cairan berbau.
  • Jaringan parut: Bekas luka hipertrofik atau atrofik yang khas.
  • Komedo terbuka: Sering terlihat multipel dan berpasangan (double-barreled comedones).

Klasifikasi berdasarkan Hurley Staging System digunakan untuk menilai tingkat keparahan:

StadiumDeskripsi
Hurley Stage IAbses soliter atau multipel, terisolasi, tanpa pembentukan sinus tract atau jaringan parut.
Hurley Stage IIAbses rekuren dengan pembentukan sinus tract dan jaringan parut, lesi terpisah satu sama lain.
Hurley Stage IIIPembentukan sinus tract dan abses yang luas, saling berhubungan di seluruh area, dengan jaringan parut yang difus.

Hidradenitis Suppurativa: Penegakan Diagnosis dan Tatalaksana

Diagnosis HS ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, tidak ada pemeriksaan laboratorium spesifik. Kriteria diagnosis meliputi:

  • Lesi khas (nodul, abses, sinus tract, jaringan parut).
  • Distribusi lesi yang khas (area apokrin).
  • Riwayat rekuren.

Tatalaksana HS bersifat multimodal dan disesuaikan dengan stadium:

  • Non-farmakologis: Edukasi pasien, penurunan berat badan, berhenti merokok, menjaga kebersihan area, menghindari pakaian ketat, kompres hangat.
  • Farmakologis:
    • Topikal: Kloramfenikol, klindamisin 1% (untuk lesi ringan, Hurley I).
    • Oral: Antibiotik (tetrasiklin, doksisiklin, klindamisin + rifampisin untuk kasus sedang-berat), retinoid oral (isotretinoin), antiandrogen (spironolakton), kortikosteroid sistemik (jangka pendek untuk eksaserbasi akut).
    • Biologik: Adalimumab (anti-TNF-α) adalah terapi lini pertama untuk HS sedang hingga berat yang refrakter terhadap terapi lain.
  • Prosedural/Bedah:
    • Insisi dan drainase (untuk abses akut, namun risiko rekurensi tinggi).
    • Deroofing (membuka atap sinus tract).
    • Eksisi luas lesi dan sinus tract, seringkali diikuti dengan penutupan luka primer atau cangkok kulit.
    • Laser CO2 ablasi.

Referensi

Customer Support umeds