Miliaria, atau dikenal juga sebagai biang keringat, adalah kondisi kulit yang umum terjadi akibat obstruksi duktus kelenjar keringat ekrin. Obstruksi ini menyebabkan retensi keringat di dalam kulit dan memicu respons inflamasi.
Etiologi utamanya adalah kondisi lingkungan yang panas dan lembap, yang meningkatkan produksi keringat. Faktor risiko lain meliputi:
Miliaria diklasifikasikan berdasarkan kedalaman obstruksi duktus keringat, yang juga menentukan manifestasi klinisnya:
| Jenis Miliaria | Kedalaman Obstruksi | Manifestasi Klinis |
|---|---|---|
| Miliaria Crystallina | Stratum korneum | Vesikel bening, superfisial, berukuran 1-2 mm, tanpa inflamasi. Umumnya asimtomatik. |
| Miliaria Rubra | Epidermis (stratum spinosum) | Papul eritematosa, pruritus (gatal), sensasi menyengat (prickly heat). Vesikel kecil dapat terlihat. |
| Miliaria Profunda | Dermis (persimpangan dermo-epidermal) | Papul non-pruritus, sewarna kulit, atau sedikit eritematosa. Dapat menyebabkan anhidrosis (tidak berkeringat) di area yang terkena. |
| Miliaria Pustulosa | Mirip Miliaria Rubra, namun dengan pustul | Papul eritematosa dengan pustul steril. Dapat terjadi akibat superinfeksi bakteri. |
Tatalaksana miliaria berfokus pada pendinginan kulit dan mengurangi oklusi:
Hidradenitis Suppurativa (HS), atau dikenal juga sebagai akne inversa, adalah penyakit inflamasi kronis yang rekuren dan melemahkan, terutama menyerang folikel pilosebasea di area yang kaya kelenjar apokrin.
Etiologi HS bersifat multifaktorial, meliputi:
Patofisiologi HS dimulai dengan oklusi folikel pilosebasea, bukan kelenjar keringat apokrin itu sendiri. Prosesnya adalah sebagai berikut:
HS ditandai dengan lesi inflamasi yang nyeri dan berulang di area predileksi yang mengandung kelenjar apokrin, seperti:
Lesi yang khas meliputi:
Klasifikasi berdasarkan Hurley Staging System digunakan untuk menilai tingkat keparahan:
| Stadium | Deskripsi |
|---|---|
| Hurley Stage I | Abses soliter atau multipel, terisolasi, tanpa pembentukan sinus tract atau jaringan parut. |
| Hurley Stage II | Abses rekuren dengan pembentukan sinus tract dan jaringan parut, lesi terpisah satu sama lain. |
| Hurley Stage III | Pembentukan sinus tract dan abses yang luas, saling berhubungan di seluruh area, dengan jaringan parut yang difus. |
Diagnosis HS ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, tidak ada pemeriksaan laboratorium spesifik. Kriteria diagnosis meliputi:
Tatalaksana HS bersifat multimodal dan disesuaikan dengan stadium:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi