Metodologi dan Klasifikasi Stroke

Metodologi penyusunan pedoman dan klasifikasi stroke berdasarkan patofisiologi.

Peringkat A adalah tingkat bukti tertinggi dan paling dipercaya. Bukti pada tingkat ini berasal dari:

Lebih dari satu uji klinis acak (RCT) berkualitas tinggi, atau Meta-analisis berkualitas tinggi dari beberapa penelitian

Peringkat B menunjukkan bukti berkualitas menengah. Bukti pada tingkat ini berasal dari:

Satu atau lebih uji klinis acak berkualitas sedang, atau Meta-analisis berkualitas sedang

Peringkat C adalah tingkat bukti terendah dan harus digunakan dengan hati-hati. Bukti pada tingkat ini berasal dari:

Satu uji klinis acak dengan keterbatasan metodologis, atau Opini ahli dan pengalaman klinis

Terapi dengan Kelas I adalah yang harus dilakukan. Rekomendasi ini diberikan ketika:

Bukti sangat kuat menunjukkan manfaat, atau Manfaat secara jelas melebihi risiko

Terapi dengan Kelas II boleh dan umumnya direkomendasikan, tetapi dokter memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam keputusan. Rekomendasi ini diberikan ketika:

Bukti menunjukkan manfaat, tetapi manfaatnya lebih sedang Manfaat masih jelas lebih besar daripada risiko, namun ada beberapa ketidakpastian

Terapi dengan Kelas III memiliki manfaat yang tidak jelas atau minimal. Rekomendasi ini diberikan ketika:

Bukti terbatas atau kontradiktif, atau Manfaat dan risiko kurang lebih seimbang

Terapi dengan Kelas IV sebaiknya tidak dilakukan. Rekomendasi ini diberikan ketika:

Bukti menunjukkan tidak ada manfaat atau bahkan berbahaya, atau Risiko jelas melebihi manfaat

Untuk pemahaman lengkap, perlu diingat bahwa peringkat bukti dan kelas rekomendasi bekerja bersama tetapi adalah dimensi yang berbeda:

Peringkat Bukti menjawab: "Berapa banyak dan seberapa baik penelitian yang telah dilakukan?" Kelas Rekomendasi menjawab: "Bagaimana dokter harus bertindak berdasarkan bukti ini?"

Referensi

  1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stroke — KEMKES RI
Customer Support umeds