Testosteron adalah hormon steroid utama yang bertanggung jawab atas banyak karakteristik pria. Pada pria muda yang sehat, produksi testosteron mencapai sekitar 7 mg per hari, dengan hampir semuanya (lebih dari 95%) dihasilkan oleh testis melalui sel Leydig. Hanya kurang dari 5% yang berasal dari kelenjar adrenal.
Penting untuk dicatat bahwa produksi testosteron tidak "tiba-tiba" menurun. Seiring bertambahnya usia, khususnya mulai sekitar usia 70-80 tahun, produksi testosteron akan menurun secara bertahap dan progresif. Ini bukan proses yang mendadak, tetapi perubahan gradual yang wajar terjadi pada pria dewasa yang menua.
Selain testosteron itu sendiri, testis juga menghasilkan beberapa metabolit penting lainnya, termasuk 5α-dihydrotestosteron (DHT), androstenon, androstenedion, serta hormon prekursor seperti pregnenolon dan progesteron.
Jalur pertama adalah aromatisasi, di mana testosteron diubah menjadi estradiol (hormon estrogen) oleh enzim aromatase. Proses serupa juga terjadi pada androstenedion, yang dikonversi menjadi estron, yang kemudian direduksi menjadi estradiol di berbagai jaringan perifer.
Ini mungkin terasa kontraintuitifâmengapa pria memproduksi estrogen? Faktanya, estrogen memiliki peran penting pada pria. Estrogen bekerja secara sinergis dan antagonis dengan testosteron untuk memicu penutupan epifisis (ujung tulang) selama pubertas, dan estrogen juga krusial untuk kesehatan tulang jangka panjang pada pria.
Jalur kedua adalah reduksi testosteron menjadi DHT oleh enzim 5α-reductase, yang berlokasi di retikulum endoplasma halus dari sel target. Ini adalah tahap krusial karena DHT jauh lebih potens daripada testosteron.
DHT memiliki dua isoform (varian) dari 5α-reductase yang berbeda:
Mengapa perbedaan ini penting? Karena DHT berikatan dengan reseptor androgen lebih lama dan lebih kuat daripada testosteron. Akibatnya, DHT memiliki potensi biologis yang lebih tinggiâartinya, DHT menghasilkan efek yang lebih kuat dari pada konsentrasi testosteron yang sama. Ini sangat relevan untuk perkembangan organ seks eksternal dan prostat.
Untuk menghasilkan respons biologis, testosteron dan DHT harus berikatan dengan reseptor androgen (AR) di dalam sel target. Berikut cara kerjanya:
Dengan kata lain, androgen bekerja sebagai faktor transkripsi yang menyalakan atau mematikan gen spesifik.
Meskipun sebagian besar aksi testosteron melalui jalur genomik di atas, testosteron juga dapat meningkatkan kadar kalsium intraseluler secara cepat melalui efek non-genomik. Efek ini terjadi terlalu cepat untuk dijelaskan oleh perubahan ekspresi gen, menunjukkan bahwa ada jalur signaling lain yang beroperasi di membran sel.
Testosteron memiliki peran fundamental dalam perkembangan pria sejak sebelum lahir. Selama perkembangan janin, sel Leydig mulai memproduksi testosteron, yang menyebabkan:
Jika testosteron tidak diproduksi dengan cukup selama periode kritis ini, diferensiasi pria tidak akan lengkap.
Salah satu kondisi klinis penting adalah kriptorkismus, yaitu kegagalan satu atau kedua testis untuk turun ke skrotum. Kondisi ini dapat dikompensasi dengan injeksi testosteron untuk merangsang penurunan, atau melalui operasi. Penting untuk mengatasinya karena testis yang tidak turun memiliki risiko tinggi untuk infertilitas dan kanker testis.
Pada pubertas, sel Leydig mulai meningkatkan produksi testosteron secara signifikan dan berulang. Lonjakan ini menyebabkan:
Testosteron terus diperlukan sepanjang hidup pria untuk mempertahankan spermatogenesis. Namun, efisiensi spermatogenesis menurun seiring bertambahnya usia, khususnya setelah usia 45-50 tahun, suatu kondisi yang kadang disebut andropause atau Age-related Decrease in Androgens (ADAM).
Testosteron (terutama dalam bentuk DHT di beberapa jaringan) menginduksi pengembangan karakteristik pria yang visibel:
Kastrasi (penghilangan testis) sebelum pubertas akan mencegah perkembangan seluruh karakteristik seks sekunder ini, karena tidak ada produksi testosteron.
Selain spermatogenesis, testosteron mengatur:
Testosteron memiliki efek metabolik yang signifikan:
Jenis kelamin ditentukan pada saat fertilisasi. Ketika sperma yang membawa kromosom Y membuahi ovum (yang selalu membawa kromosom X), hasilnya adalah zigot dengan karyotip 46,XY. Zigot ini akan berkembang menjadi individu pria.
Kunci perkembangan pria adalah gen SRY (Sex-determining Region Y) yang terletak pada kromosom Y. Pada minggu ke-6 perkembangan, gen SRY menginduksi pembentukan testis dari gonad bipotensial.
Sebelum minggu ke-6, gonad yang sedang berkembang disebut "bipotensial" karena memiliki potensi untuk menjadi testis atau ovarium.
Gonad berkembang dari tiga sumber jaringan:
Antara minggu ke-4 dan ke-8, sel germinal (yang akan menjadi sel benih) bermigrasi dari luar metagenesis ke genital ridge, membentuk gonad bipotensial awal.
Ketika gen SRY diaktifkan, itu memicu kaskade regulasi genetik:
Saat testis terbentuk, terjadi reorganisasi struktural:
Di dalam struktur ini muncul dua tipe sel penting:
Tubulus seminiferus bertemu pada rete testis (jaringan kecil saluran), yang kemudian mempersempit menjadi duktuli efferentes yang mengarah ke epididimis.
Setiap testis dilapisi oleh tunika vaginalis (lamina visceralis, merupakan sisa peritoneum) dan di bawahnya tunika albuginea yang lebih tebal. Testis dibagi menjadi lobus oleh septum testis yang berasal dari tunika albuginea.
Mediastinum testis adalah daerah di pusat testis yang berisi:
Rete testis adalah struktur yang mengalirkan sperma yang telah diproduksi ke luar dari tubulus seminiferus menuju epididimis.
Sel Sertoli terletak di dalam epitel tubulus seminiferus dan memiliki beberapa fungsi kritis:
ABP sangat penting karena mengikat testosteron dan memfasilitasi transportasi hormon ini ke dalam tubulus seminiferus. Tanpa ABP, konsentrasi testosteron lokal yang tinggi tidak dapat dipertahankan.
Sel Leydig (juga disebut sel interstisial) adalah produsen utama testosteron. Karakteristik sel-sel ini mencerminkan fungsi mereka:
Penting untuk diingat bahwa produksi testosteron oleh sel Leydig bervariasi sepanjang hidup. Puncak produksi testosteron terjadi sekitar usia 90 hari postnatal (dalam fase postnatal awal), kemudian menurun, sebelum meningkat kembali pada pubertas.
Produksi testosteron diatur oleh sistem endokrin kompleks yang menghubungkan hipotalamus, hipofisis anterior, dan testis. Sistem ini dikenal sebagai aksis HPT (Hypothalamic-Pituitary-Testicular).
Berikut cara kerjanya:
Setiap gonadotropin memiliki target berbeda:
Sistem ini memiliki mekanisme umpan balik yang elegan untuk menjaga homeostasis. Ketika testosteron dan inhibin meningkat, mereka memberikan sinyal umpan balik negatif:
Logika sistem ini: Ketika testosteron cukup tinggi, hipotesis "berkata" kepada hipotalamus dan hipofisis anterior untuk mengurangi GnRH, LH, dan FSH. Sebaliknya, ketika testosteron menurun, umpan balik negatif berkurang, sehingga GnRH, LH, dan FSH meningkat untuk merangsang produksi testosteron lebih lanjut.
Inhibin memiliki peran spesialisasi: inhibin terutama mengontrol FSH dalam merespons status spermatogenesis. Ketika sperma diproduksi terlalu cepat, inhibin meningkat untuk menekan FSH dan memperlambat proses.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi