Faktor genetik berperan penting dalam perkembangan meningioma. Monosomi kromosom 22âhilangnya satu salinan lengkap kromosom 22âadalah kelainan kromosom yang paling sering ditemukan pada meningioma. Pada kromosom 22 ini terletak gen neurofibromatosis 2 (NF2) pada posisi 22q12.
Gen NF2 berfungsi sebagai gen penekan tumor. Ketika gen ini mengalami delesi (penghapusan) atau inaktivasi (menjadi tidak berfungsi), mekanisme pengendalian pertumbuhan sel rusak dan tumor dapat berkembang. Pada sekitar 40% dari meningioma sporadik (yang terjadi tanpa riwayat keluarga), gen NF2 tidak aktif.
Penting untuk diketahui bahwa kelainan kromosom lebih sering ditemukan pada meningioma dengan derajat keganasan lebih tinggi. Meningioma atipikal dan anaplastik (lebih ganas) menunjukkan abnormalitas kromosom yang lebih kompleks dibandingkan meningioma benign. Beberapa delesi kromosom tertentu memiliki signifikansi prognostik:
Meskipun meningioma dapat muncul pada beberapa anggota keluarga yang sama, penelitian hingga saat ini belum menemukan hubungan yang kuat dan jelas antara riwayat keluarga dengan peningkatan risiko meningioma. Ini berbeda dengan kondisi genetik herediter lainnya di mana faktor keluarga sangat dominan. Oleh karena itu, riwayat keluarga meningioma saja tidak dianggap sebagai faktor risiko utama yang signifikan.
Salah satu pengamatan klinis yang paling menarik tentang meningioma adalah predominansi pada perempuan. Insiden meningioma pada perempuan lebih tinggi dengan rasio antara 1,4â2,6 : 1 dibandingkan pada laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa hormon seks mungkin berperan dalam perkembangan tumor.
Pemeriksaan jaringan meningioma menunjukkan bahwa:
Pengamatan klinis penting adalah bahwa beberapa pasien perempuan melaporkan pertumbuhan tumor yang lebih cepat selama kehamilan, yang dipercaya berkaitan dengan peningkatan kadar progesteron. Ini menunjukkan bahwa reseptor progesteron memiliki peran fungsional dalam pertumbuhan meningioma.
Faktor hormon juga relevan untuk pengobatan. Penggunaan kontrasepsi depo-progestin (kontrasepsi injeksi yang mengandung progestin dengan dosis tinggi) dapat meningkatkan risiko meningioma melalui aktivasi reseptor progesteron, androgen, dan estrogen. Ini penting untuk dipertimbangkan dalam konseling pasien muda.
Dari sudut pandang prognostik dan terapi: meningioma dengan reseptor progesteron positif pada meningioma benign (WHO grade I) berhubungan dengan prognosis yang lebih baik. Selain itu, pada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi atau meningioma rekuren yang tidak dapat direseksi lagi, terapi hormonal dapat dipertimbangkan jika reseptor progesteron positif.
Paparan radiasi terionisasi adalah faktor risiko lingkungan yang terbukti untuk meningioma. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa paparan dental X-ray lebih dari enam kali antara usia 15â40 tahun meningkatkan risiko meningioma secara signifikan. Periode kritis ini (usia 15â40 tahun) mungkin merupakan waktu ketika jaringan otak paling sensitif terhadap efek karsinogenik radiasi.
Ini memiliki implikasi praktis: pasien yang menerima paparan radiasi berulang pada usia muda harus dimonitor lebih ketat untuk gejala meningioma, terutama jika mereka memiliki faktor risiko lain.
Catatan tambahan: sekitar 70% meningioma mengekspresikan reseptor somatostatin. Temuan ini dapat dimanfaatkan dalam imaging radiologi khusus untuk mendeteksi rekursi lokal menggunakan ligand yang mengikat reseptor somatostatin. Ini merupakan detail yang menarik secara teknis tetapi mungkin hanya berguna untuk konteks tertentu dalam praktek klinis.
Riwayat cedera kepala adalah faktor risiko lain yang telah diidentifikasi. Penelitian menunjukkan bahwa riwayat cedera kepala pada usia 10â19 tahun meningkatkan risiko meningioma. Namun, penting untuk dicatat bahwa risiko ini tergantung pada frekuensi cedera, bukan tingkat keparahannya. Artinya, cedera kepala ringan yang berulang-ulang memiliki risiko yang sama dengan cedera kepala berat yang jarang terjadi.
Mekanisme biologis yang mendasari hubungan ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi mungkin melibatkan respons inflamasi kronis atau perubahan dalam homeostasis jaringan meninges setelah trauma.
Lokasi meningioma sangat mempengaruhi presentasi klinis dan pendekatan terapi. Lokasi intrakranial paling umum meliputi:
Lokasi-lokasi ini menyumbang lebih dari 70% dari semua meningioma intrakranial. Lokasi lain yang jarang meliputi saraf optik, sudut cerebellopontine, medula spinalis, orbita, cavum nasi, kelenjar parotis, mediastinum, dan bahkan paru-paru.
Lokasi tumor menentukan gejala klinis yang dialami pasienâinilah mengapa pemahaman tentang neuroanatomi sangat penting dalam meningioma.
Meningioma dapat tumbuh dengan dua pola utama:
Pola en masse: ini adalah pola pertumbuhan klasik di mana tumor membentuk massa globular yang jelas dan terbatas. Tumor berbentuk bulat atau oval dengan batas yang relatif jelas.
Pola en plaque: dalam pola ini, tumor tumbuh memanjang seperti karpet di sepanjang dura mater. Pertumbuhan ini sering disertai dengan abnormalitas tulang (hiperostosis) dan penempelan dura yang luas. Pola en plaque biasanya lebih sulit untuk direseksi secara total.
Perbedaan pola pertumbuhan ini memiliki implikasi untuk teknik pembedahan dan risiko rekurensi.
Klasifikasi WHO adalah yang paling penting secara klinis karena menentukan derajat keganasan tumor dan memandu pengobatan. Meningioma diklasifikasikan menjadi tiga grade:
WHO Grade I (Jinak): Mewakili 80â90% dari semua meningioma. Subtipe yang paling umum adalah meningioma meningothelial yang menyumbang 63% dari grade I. Tumor ini tumbuh lambat dan memiliki prognosis yang baik jika direseksi secara total.
WHO Grade II (Atipikal): Mewakili 20â25% dari semua meningioma, meskipun prevalensi yang tepat bervariasi tergantung pada populasi yang diteliti. Subtipe yang paling umum adalah transisional yang menyumbang 19%. Grade II memiliki potensi pertumbuhan lebih cepat dan tingkat rekurensi lebih tinggi dibandingkan grade I.
WHO Grade III (Malignan): Merupakan bentuk paling agresif, menyumbang hanya 1â6% dari semua meningioma. Subtipe yang paling umum adalah fibrosa (13%) dan psammomatosa (2%). Grade III memiliki potensi metastasis dan prognosis terburuk.
Selain tiga tipe utama ini, terdapat berbagai subtipe lain yang tidak secara formal masuk dalam klasifikasi WHO tetapi dapat dijumpai, termasuk angiomatous, microcystic, lymphoplasmacytic, metaplastic, secretory, clear cell, chordoid, rhabdoid, dan papillary.
Sebagian besar meningioma menyebabkan gejala karena efek desak massa dan peningkatan tekanan intrakranial. Gejala umum meliputi:
Gejala-gejala ini tidak spesifik untuk meningioma tetapi mencerminkan efek tekanan tumor pada struktur intrakranial.
Lokasi tumor menentukan gejala spesifik yang dialami pasien. Pemahaman tentang korelasi lokasi-gejala ini penting untuk mengarahkan diagnosis:
Meningioma Parasagital: Tumor di lokasi ini dapat menekan korteks motorik, menyebabkan epilepsi fokal (kejang yang dimulai dari area tertentu) dan hemiparesis (kelemahan separuh tubuh).
Meningioma Lobus Anterior (Frontal): Gejala mencakup peningkatan tekanan intrakranial, perubahan perilaku yang disebut pseudopsikiatri (perubahan kepribadian yang terlihat seperti penyakit psikiatri), gangguan memori, penurunan kecerdasan, dan perubahan kepribadian.
Meningioma Falks Posterior: Dapat menyebabkan gangguan lapang pandang (defek visual field).
Meningioma Konveksitas di Depan Sutura Koronal: Terutama menyebabkan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala, mual, papiledema.
Meningioma Sphenoid Ridge (bagian dalam): Memberikan kompresi pada nervus optikus, menyebabkan gangguan penglihatan unilateral (penglihatan kabur atau kehilangan penglihatan pada satu mata).
Meningioma Sphenoid Ridge (bagian luar): Menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, papiledema, dan hiperostosis (penebalan tulang).
Meningioma Olfactory Groove: Pasien dapat mengeluh anosmia unilateral (kehilangan penciuman satu sisi) yang secara bertahap menjadi bilateral (kedua sisi). Gejala lain termasuk peningkatan tekanan intrakranial dan penurunan visus.
Meningioma Ventrikuler (dalam ventrikel): Sering terjadi hambatan aliran cairan serebrospinal, menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang berkembang bertahun-tahun dengan gejala yang tersembunyi (insidious).
Meningioma Fossa Posterior (Sudut Cerebellopontine): Gejala menyerupai neuroma akustik, mencakup gangguan nervus akustikus (tinnitus, gangguan pendengaran), gangguan nervus trigeminus (pain), dan gangguan nervus facialis (kelemahan wajah).
Meningioma Sella Tursika: Dapat menyebabkan panhipopituitarisme (kegagalan seluruh fungsi kelenjar hipofisis).
Meningioma Spinal: Ketika meningioma berada di medula spinalis, dapat menyebabkan sindrom Brown-Séquard (kelumpuhan dan kehilangan sensasi pada satu sisi tubuh di bawah level lesi).
Pola gejala spesifik ini membantu dalam lokalisasi tumor dan diagnosis diferensial.
Meskipun jarang digunakan sebagai pemeriksaan awal, X-ray dapat menunjukkan perubahan tulang yang karakteristik:
CT-Scan Tanpa Kontras: Meningioma biasanya muncul sebagai lesi isodense hingga sedikit hyperdense (densitas sama atau sedikit lebih padat daripada otak normal). Kalsifikasi psammomatosa (jenis kalsifikasi khusus yang terlihat seperti pasir) sering terlihat jelas.
CT-Scan dengan Kontras: Pemeriksaan ini lebih informatif dan menunjukkan:
Tanda "dural tail" ini adalah gambaran yang sangat karakteristik untuk meningioma, meskipun tidak spesifik.
MRI adalah modalitas paling informatif untuk meningioma dan memberikan detail anatomi terbaik.
Pada T1-weighted: Meningioma biasanya muncul sebagai lesi isointense (intensitas sinyal sama dengan otak normal), meskipun beberapa dapat hypointense (lebih gelap).
Pada T2-weighted: Gambaran lebih bervariasi, lesi dapat isointense atau hyperintense (lebih terang) tergantung pada tipe seluler dan vaskularisasi tumor. Tumor dengan banyak pembuluh darah (vaskular) cenderung hyperintense.
Dengan Kontras Gadolinium: Meningioma menunjukkan enhancement (peningkatan sinyal) yang homogen dan jelas. Tanda "dural tail" terlihat sebagai nodul meningoepithelial reaktif yang menempel pada massa tumor. Ini adalah mekanisme "pelepasan" tumor yang menarik secara patofisiologiâarea dura di sekitar tumor merespons dengan proliferasi reaktif.
MRI memberikan informasi terbaik tentang hubungan tumor dengan struktur intrakranial penting dan sangat membantu untuk perencanaan bedah.
Angiografi (baik konvensional maupun CT angiography) memberikan informasi vaskular yang detail:
Informasi vaskular ini berguna untuk perencanaan bedah dan untuk embolisasi preoperatif jika diperlukan.
Pada beberapa kasus, embolisasi endovaskular preoperatif dapat dilakukan untuk mengurangi vaskularisasi tumor dan membuat operasi lebih aman dengan perdarahan yang berkurang.
Meskipun pencitraan penting untuk diagnosis awal, pemeriksaan histopatologi adalah yang utama dan definitif untuk diagnosis meningioma. Jaringan tumor diambil selama operasi dan diperiksa di bawah mikroskop oleh ahli patologi.
Pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap protein tertentu untuk membantu diagnosis dan prognostikasi:
Penggabungan temuan histopatologi dengan imunohistokimia memberikan grading WHO yang akurat dan memandu pilihan pengobatan.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi