Malnutrisi Energi Protein Berat (MEP Berat) atau yang awam dikenal sebagai Gizi Buruk adalah kondisi defisiensi nutrisi berat yang mengancam jiwa, ditandai dengan kurangnya asupan energi dan protein dalam jangka waktu lama, yang berdampak pada pertumbuhan dan fungsi organ tubuh.
Kondisi ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama pada anak balita, dan memerlukan penanganan segera dan terstruktur.
| Kriteria | Marasmus | Kwashiorkor | Marasmic-Kwashiorkor |
| BB/TB atau BB/PB | < -3 SD | < -3 SD (seringkali tidak terlalu turun karena edema) | < -3 SD |
| Edema | Tidak ada | Ada (bilateral, pitting, dimulai dari punggung kaki) | Ada |
| Wasting (kurus) | Sangat jelas (terlihat tulang menonjol) | Tidak terlalu jelas karena edema | Jelas |
| Perubahan Warna Rambut/Kulit | Jarang | Sering (rambut kemerahan, mudah dicabut, kulit pecah-pecah) | Sering |
| Tampilan Wajah | "Wajah orang tua" (old man face) | "Moon face" (pipi bengkak) | Campuran |
| Kesadaran/Aktivitas | Biasanya masih sadar, aktif | Apatis, iritabel | Apatis |
Selain klasifikasi klinis, gizi buruk juga dapat didiagnosis berdasarkan antropometri:
Penyebab gizi buruk bersifat multifaktorial, meliputi:
Defisiensi energi dan protein kronis menyebabkan tubuh menggunakan cadangan energi (glikogen, lemak, protein otot) untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Pada marasmus, defisiensi energi dan protein kronis menyebabkan katabolisme protein somatik (otot) dan visceral (organ dalam) yang berat, serta cadangan lemak subkutan yang habis. Adaptasi metabolik terjadi untuk menghemat energi, seperti penurunan laju metabolisme basal.
Pada kwashiorkor, defisiensi protein lebih dominan dibandingkan energi, meskipun seringkali ada defisiensi energi juga. Kekurangan protein menyebabkan penurunan sintesis albumin dan protein plasma lainnya oleh hati, yang mengakibatkan penurunan tekanan onkotik intravaskular dan memicu edema. Terjadi juga gangguan fungsi hati (fatty liver) dan sistem imun.
Baik marasmus maupun kwashiorkor menyebabkan gangguan fungsi imun, sehingga anak sangat rentan terhadap infeksi.
Gejala umum meliputi:
Gejala penyerta yang sering ditemukan:
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Dilakukan untuk mengidentifikasi komplikasi dan penyakit penyerta, bukan untuk diagnosis utama gizi buruk.
Tatalaksana gizi buruk mengikuti 10 langkah standar yang dibagi menjadi 3 fase:
Fase Stabilisasi (Hari 1-2):Tatalaksana Edema: Edema pada kwashiorkor akan berkurang seiring perbaikan kondisi umum dan nutrisi, tidak perlu diuretik rutin kecuali ada tanda gagal jantung.
Gizi buruk dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:
Prognosis gizi buruk tergantung pada derajat keparahan, ada/tidaknya komplikasi, kecepatan dan ketepatan tatalaksana, serta kepatuhan terhadap program rehabilitasi.
Dengan penanganan yang cepat dan tepat sesuai 10 langkah, tingkat kesembuhan bisa tinggi, namun seringkali menyisakan dampak pada tumbuh kembang jangka panjang.
Pencegahan gizi buruk adalah kunci, meliputi:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi