Malnutrisi Energi Protein Berat (Gizi Buruk) pada Anak

Gizi buruk bukan sekadar kurang makan, tapi kondisi kompleks yang mengancam nyawa anak dan sering muncul di UKMPPD! Memahami perbedaan marasmus, kwashiorkor, serta tatalaksana 10 langkah WHO adalah kunci. Jangan sampai salah diagnosis atau penanganan awal yang bisa berakibat fatal. Yuk, kuasai seluk-beluk gizi buruk agar Anda siap menyelamatkan masa depan generasi penerus!

Definisi

Malnutrisi Energi Protein Berat (MEP Berat) atau yang awam dikenal sebagai Gizi Buruk adalah kondisi defisiensi nutrisi berat yang mengancam jiwa, ditandai dengan kurangnya asupan energi dan protein dalam jangka waktu lama, yang berdampak pada pertumbuhan dan fungsi organ tubuh.

Kondisi ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama pada anak balita, dan memerlukan penanganan segera dan terstruktur.

Klasifikasi (WHO/Kemenkes)

KriteriaMarasmusKwashiorkorMarasmic-Kwashiorkor
BB/TB atau BB/PB< -3 SD< -3 SD (seringkali tidak terlalu turun karena edema)< -3 SD
EdemaTidak adaAda (bilateral, pitting, dimulai dari punggung kaki)Ada
Wasting (kurus)Sangat jelas (terlihat tulang menonjol)Tidak terlalu jelas karena edemaJelas
Perubahan Warna Rambut/KulitJarangSering (rambut kemerahan, mudah dicabut, kulit pecah-pecah)Sering
Tampilan Wajah"Wajah orang tua" (old man face)"Moon face" (pipi bengkak)Campuran
Kesadaran/AktivitasBiasanya masih sadar, aktifApatis, iritabelApatis

Selain klasifikasi klinis, gizi buruk juga dapat didiagnosis berdasarkan antropometri:

  • BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan) atau BB/PB (Berat Badan menurut Panjang Badan) < -3 SD (Standar Deviasi) WHO.
  • LILA (Lingkar Lengan Atas) < 11.5 cm pada anak usia 6-59 bulan.
  • Adanya edema bilateral pada kedua punggung kaki (independen dari BB/TB atau LILA).

Etiologi & Faktor Risiko

Penyebab gizi buruk bersifat multifaktorial, meliputi:

  • Asupan makanan tidak cukup: Kuantitas dan kualitas makanan yang kurang, pola makan yang tidak seimbang, pemberian MPASI yang terlambat atau tidak adekuat.
  • Penyakit infeksi: Diare berulang, ISPA, TBC, HIV, campak. Infeksi meningkatkan kebutuhan nutrisi dan mengurangi nafsu makan serta penyerapan nutrisi.
  • Kemiskinan: Keterbatasan akses terhadap makanan bergizi dan pelayanan kesehatan.
  • Pendidikan orang tua rendah: Kurangnya pengetahuan tentang gizi dan praktik pemberian makan yang benar.
  • Sanitasi buruk & akses air bersih terbatas: Meningkatkan risiko infeksi.
  • Ukuran keluarga besar & jarak kelahiran pendek: Sumber daya terbatas.
  • Penyakit bawaan/kronis: Kelainan jantung bawaan, penyakit ginjal, malabsorpsi.

Patofisiologi

Defisiensi energi dan protein kronis menyebabkan tubuh menggunakan cadangan energi (glikogen, lemak, protein otot) untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

Pada marasmus, defisiensi energi dan protein kronis menyebabkan katabolisme protein somatik (otot) dan visceral (organ dalam) yang berat, serta cadangan lemak subkutan yang habis. Adaptasi metabolik terjadi untuk menghemat energi, seperti penurunan laju metabolisme basal.

Pada kwashiorkor, defisiensi protein lebih dominan dibandingkan energi, meskipun seringkali ada defisiensi energi juga. Kekurangan protein menyebabkan penurunan sintesis albumin dan protein plasma lainnya oleh hati, yang mengakibatkan penurunan tekanan onkotik intravaskular dan memicu edema. Terjadi juga gangguan fungsi hati (fatty liver) dan sistem imun.

Baik marasmus maupun kwashiorkor menyebabkan gangguan fungsi imun, sehingga anak sangat rentan terhadap infeksi.

Manifestasi Klinis

Gejala umum meliputi:

  • Marasmus: Sangat kurus (wasting berat), kulit kering dan berkerut, wajah "orang tua", tulang menonjol, otot atrofi, perut cekung, anak tampak waspada namun seringkali rewel, nafsu makan bisa masih baik.
  • Kwashiorkor: Edema bilateral (terutama pada punggung kaki, bisa menyebar ke wajah, tangan, perut), rambut tipis, jarang, mudah dicabut, kemerahan/pirang (tanda bendera), perubahan kulit (dermatosis pellagroid, deskuamasi, hiperpigmentasi/hipopigmentasi), hepatomegali, apatis, iritabel, nafsu makan buruk, sering disertai diare.
  • Marasmic-Kwashiorkor: Kombinasi ciri marasmus (wasting berat) dan kwashiorkor (edema).

Gejala penyerta yang sering ditemukan:

  • Anemia
  • Defisiensi mikronutrien (Vit A, Zinc, Fe)
  • Infeksi (diare, ISPA, TBC)
  • Hipotermia
  • Hipoglikemia
  • Dehidrasi

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

  1. Anamnesis: Riwayat asupan makan, riwayat penyakit infeksi berulang, riwayat tumbuh kembang, riwayat sosial ekonomi keluarga.
  2. Pemeriksaan Fisik:
    • Pemeriksaan antropometri (BB/TB atau BB/PB < -3 SD, LILA < 11.5 cm untuk anak 6-59 bulan).
    • Pencarian tanda edema bilateral pada punggung kaki.
    • Pencarian tanda klinis marasmus, kwashiorkor, atau marasmic-kwashiorkor.
    • Evaluasi tanda-tanda komplikasi (hipotermia, hipoglikemia, dehidrasi, infeksi).

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan untuk mengidentifikasi komplikasi dan penyakit penyerta, bukan untuk diagnosis utama gizi buruk.

  • Darah Lengkap: Anemia, infeksi.
  • Gula Darah: Hipoglikemia.
  • Elektrolit: Gangguan elektrolit (hipokalemia, hiponatremia).
  • Albumin Serum: Menurun pada kwashiorkor.
  • Urinalisis & Kultur Urin: Infeksi saluran kemih.
  • Pemeriksaan Tinja: Diare, parasit.
  • Rontgen Toraks: Pneumonia, TBC.
  • Pemeriksaan HIV: Pada daerah endemis atau indikasi.

Tatalaksana (10 Langkah WHO/Kemenkes)

Tatalaksana gizi buruk mengikuti 10 langkah standar yang dibagi menjadi 3 fase:

Fase Stabilisasi (Hari 1-2):
  1. Atasi/Cegah Hipoglikemia: Beri 50 ml larutan glukosa 10% atau gula 10% per oral/NGT. Beri makan setiap 2-3 jam.
  2. Atasi/Cegah Hipotermia: Selimuti, hangatkan, beri makan, rawat gabung dengan ibu.
  3. Atasi/Cegah Dehidrasi: Oralit ReSoMal (Rehydration Solution for Malnutrition) atau cairan infus (Dextrose 5% + NaCl 0.9% dengan KCl 20mEq/L). Hati-hati dengan kelebihan cairan.
  4. Koreksi Gangguan Elektrolit: Tambahkan KCl dan suplemen mineral mix pada setiap pemberian F-75 atau F-100.
  5. Atasi Infeksi: Antibiotik spektrum luas (misal: Ampisilin + Gentamisin atau Amoksisilin + Gentamisin) pada semua kasus gizi buruk.
Fase Transisi (Hari 3-7):
  1. Mulai Pemberian Makanan: Secara bertahap tingkatkan volume dan konsentrasi Formula 75 (F-75) ke Formula 100 (F-100).
  2. Mulai Stimulasi Dini: Bermain, berinteraksi, lingkungan yang mendukung.
Fase Rehabilitasi (Minggu 2-6):
  1. Kejar Tumbuh (Catch-up Growth): Berikan makanan tinggi energi dan protein (F-100 atau makanan lokal padat gizi). Tingkatkan jumlah makan.
  2. Berikan Mikronutrien: Suplementasi Vitamin A, Zinc, Asam Folat, multivitamin, Fe (diberikan setelah anak membaik/fase rehabilitasi untuk menghindari toksisitas pada fase akut).
  3. Persiapan Pulang & Tindak Lanjut: Edukasi gizi pada orang tua, jadwal kontrol, imunisasi.

Tatalaksana Edema: Edema pada kwashiorkor akan berkurang seiring perbaikan kondisi umum dan nutrisi, tidak perlu diuretik rutin kecuali ada tanda gagal jantung.

Komplikasi

Gizi buruk dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:

  • Infeksi berulang dan berat (sepsis).
  • Gagal jantung (kardiomiopati).
  • Gagal ginjal akut.
  • Gangguan hati (fatty liver).
  • Hipoglikemia dan hipotermia yang mengancam jiwa.
  • Gangguan tumbuh kembang jangka panjang (fisik dan kognitif).
  • Kematian.

Prognosis

Prognosis gizi buruk tergantung pada derajat keparahan, ada/tidaknya komplikasi, kecepatan dan ketepatan tatalaksana, serta kepatuhan terhadap program rehabilitasi.

Dengan penanganan yang cepat dan tepat sesuai 10 langkah, tingkat kesembuhan bisa tinggi, namun seringkali menyisakan dampak pada tumbuh kembang jangka panjang.

Edukasi & Pencegahan

Pencegahan gizi buruk adalah kunci, meliputi:

  • Pemberian ASI eksklusif 6 bulan, dilanjutkan ASI dengan MPASI adekuat hingga 2 tahun.
  • Pemberian MPASI yang tepat waktu, adekuat, aman, dan diberikan secara responsif.
  • Imunisasi lengkap.
  • Peningkatan higiene dan sanitasi lingkungan.
  • Pemberian suplemen mikronutrien (Vit A, Fe, Zinc) sesuai program pemerintah.
  • Edukasi gizi pada keluarga dan masyarakat.
  • Deteksi dini dan penanganan segera terhadap penyakit infeksi.
  • Pemantauan tumbuh kembang rutin di Posyandu atau fasilitas kesehatan.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds