Malnutrisi Akut Berat (Gizi Buruk) pada Anak

Gizi buruk adalah kondisi serius yang sering muncul di UKMPPD, dan penanganannya butuh pemahaman komprehensif. Jangan sampai salah klasifikasi apalagi tatalaksana awal yang krusial! Yuk, kuasai seluk-beluk Marasmus, Kwashiorkor, dan Marasmus-Kwashiorkor, serta 10 langkah penanganan vitalnya untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah komplikasi jangka panjang. Pelajari selengkapnya di sini!

Definisi

Malnutrisi Akut Berat (MAB) atau Gizi Buruk adalah kondisi kurang gizi yang paling parah, ditandai dengan penurunan berat badan yang drastis atau adanya edema gizi.

Kondisi ini merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di bawah lima tahun (balita) di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Klasifikasi (Berdasarkan Tipe Klinis)

Gizi buruk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe klinis utama:

KarakteristikMarasmusKwashiorkorMarasmic-Kwashiorkor
Penyebab UtamaDefisiensi kalori dan protein kronisDefisiensi protein relatif lebih dominan, sering dengan asupan kalori cukupDefisiensi kalori dan protein kronis dengan edema
EdemaTidak adaAda (bilateral pitting edema, mulai dari punggung kaki)Ada (bilateral pitting edema)
Berat BadanSangat rendah (< -3 SD BB/TB)Rendah, namun bisa tertutupi edemaSangat rendah (< -3 SD BB/TB)
Otot & Lemak SubkutanAtrofi berat, lemak subkutan sangat tipis/hilangAtrofi, namun kurang terlihat karena edema; lemak subkutan bisa adaAtrofi berat
WajahSeperti orang tua (old man's face)Bengkak, membulat (moon face)Kombinasi
RambutNormal atau sedikit kusamTipis, rapuh, mudah dicabut, perubahan warna (flag sign)Perubahan warna, rapuh
KulitKering, keriputLesi kulit (dermatosis), bersisik, pecah-pecah (crazy paving dermatosis)Kombinasi lesi kulit dan keriput
PerilakuRewel, irritable, tapi nafsu makan bisa baikApatis, anoreksia, lesuKombinasi

Etiologi & Faktor Risiko

Gizi buruk bersifat multifaktorial, meliputi:

  • Asupan Makanan Kurang: Kuantitas dan kualitas gizi yang tidak memadai, praktik pemberian makan yang tidak tepat.
  • Penyakit Infeksi: Diare berulang, campak, TBC, HIV, infeksi saluran kemih, yang meningkatkan kebutuhan gizi dan/atau menurunkan absorpsi.
  • Faktor Sosial Ekonomi: Kemiskinan, ketahanan pangan yang buruk, tingkat pendidikan orang tua rendah, akses terbatas ke layanan kesehatan.
  • Pola Asuh: Kurangnya ASI eksklusif, pemberian MPASI yang tidak tepat waktu dan tidak adekuat.
  • Penyakit Bawaan/Kronis: Malabsorpsi, penyakit jantung bawaan, penyakit ginjal kronis, kelainan genetik yang mempengaruhi metabolisme.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis gizi buruk ditegakkan berdasarkan kriteria antropometri dan/atau gambaran klinis sesuai panduan WHO:

  • BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan) < -3 SD (Standar Deviasi) atau < 70% dari median WHO (untuk anak usia 0-5 tahun).
  • Lingkar Lengan Atas (LiLA) < 11,5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan).
  • Adanya edema pada kedua punggung kaki (bilateral pitting edema).

Kriteria LiLA dan edema dapat digunakan sebagai skrining cepat di lapangan.

Manifestasi Klinis

Selain gambaran spesifik per tipe di atas, manifestasi klinis umum gizi buruk meliputi:

  • Gangguan Pertumbuhan: Berat badan dan tinggi badan di bawah standar.
  • Perubahan Kulit dan Rambut: Rambut mudah rontok, kusam, kulit kering, hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.
  • Gangguan Pencernaan: Diare kronis, anoreksia (terutama pada Kwashiorkor), perut buncit (hepatomegali, ascites).
  • Gangguan Imunologi: Rentan terhadap infeksi.
  • Perubahan Perilaku: Apatis, iritabel, letargi.
  • Tanda Defisiensi Mikronutrien: Anemia, xerophthalmia (defisiensi Vitamin A), dll.

Tatalaksana (10 Langkah Utama WHO/Kemenkes)

Tatalaksana gizi buruk mengikuti 10 langkah stabilisasi dan rehabilitasi sesuai panduan WHO/Kemenkes:

  1. Atasi Hipoglikemia: Segera berikan larutan glukosa 10% oral atau IV. Beri makan sering, setiap 2-3 jam.
  2. Atasi Hipotermia: Hangatkan tubuh anak (selimut, kontak kulit ke kulit dengan ibu, inkubator).
  3. Atasi Dehidrasi: Gunakan ReSoMal (Rehydration Solution for Malnutrition) oral atau cairan IV secara hati-hati dan perlahan untuk menghindari kelebihan cairan.
  4. Koreksi Ketidakseimbangan Elektrolit: Tambahkan Kalium, Magnesium, kurangi Natrium.
  5. Atasi Infeksi: Beri antibiotik spektrum luas secara empiris (misal: Ampisilin + Gentamisin/Kloramfenikol) karena tanda infeksi sering tidak jelas.
  6. Koreksi Defisiensi Mikronutrien: Berikan Vitamin A dosis tinggi, Asam Folat, Zinc, Multivitamin. Zat besi ditunda hingga fase rehabilitasi (minggu ke-2).
  7. Mulai Pemberian Makan: Bertahap, sering, porsi kecil, padat gizi (gunakan F-75 pada fase stabilisasi, lalu F-100 pada fase transisi/rehabilitasi).
  8. Capai Tumbuh Kejar (Catch-up Growth): Tingkatkan asupan kalori dan protein secara signifikan untuk mencapai pertumbuhan yang cepat.
  9. Stimulasi Sensorik dan Emosional: Beri kasih sayang, mainan, stimulasi, dan lingkungan yang mendukung perkembangan.
  10. Persiapan Pulang dan Tindak Lanjut: Edukasi orang tua tentang pemberian makan, kebersihan, jadwal kontrol, dan pemberian makanan tambahan (misal: RUTF - Ready-to-Use Therapeutic Food).

Komplikasi

Gizi buruk dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:

  • Hipoglikemia: Kadar gula darah rendah, sangat berbahaya dan sering fatal.
  • Hipotermia: Penurunan suhu tubuh, terutama pada anak dengan Marasmus.
  • Dehidrasi: Terutama pada diare.
  • Infeksi Berat (Sepsis): Karena imunitas yang menurun.
  • Gangguan Elektrolit: Hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia.
  • Gagal Jantung: Akibat kelebihan cairan atau anemia berat.
  • Gangguan Perkembangan: Fisik, motorik, kognitif, dan emosional jangka panjang.
  • Hepatomegali: Terutama pada Kwashiorkor.

Pencegahan

Pencegahan gizi buruk sangat penting dan melibatkan berbagai intervensi:

  • Pemberian ASI Eksklusif: Selama 6 bulan pertama kehidupan.
  • Pemberian MPASI yang Adekuat: Tepat waktu (mulai usia 6 bulan), tepat jumlah, tepat jenis, dan aman.
  • Imunisasi Lengkap: Melindungi anak dari penyakit infeksi.
  • Sanitasi dan Higiene yang Baik: Mencegah infeksi saluran pencernaan.
  • Pemantauan Pertumbuhan Rutin: Melalui posyandu atau fasilitas kesehatan untuk deteksi dini.
  • Edukasi Gizi pada Keluarga: Meningkatkan pengetahuan dan praktik gizi yang benar.
  • Akses Air Bersih dan Makanan Bergizi: Mendukung ketahanan pangan keluarga.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds