Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) adalah penyakit autoimun kronis, inflamasi, multisistem yang ditandai oleh produksi autoantibodi terhadap komponen inti sel, menyebabkan kerusakan jaringan dan organ.
Penyakit ini memiliki spektrum manifestasi klinis yang sangat luas dan dapat mengenai hampir semua organ tubuh.
Etiologi SLE bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, hormonal, dan lingkungan.
Secara patogenesis, terjadi aktivasi sel B dan T yang tidak teratur, produksi autoantibodi (terutama ANA), pembentukan kompleks imun, dan deposisi kompleks imun di berbagai jaringan, memicu respons inflamasi dan kerusakan organ.
Manifestasi klinis sangat bervariasi. Berikut adalah beberapa yang umum:
Diagnosis SLE didasarkan pada kriteria klasifikasi yang dikeluarkan oleh American College of Rheumatology (ACR) atau European League Against Rheumatism (EULAR).
Kriteria ACR/EULAR (2019) menggunakan sistem skor, di mana pasien harus memiliki ANA positif sebagai kriteria masuk, lalu akumulasi skor dari domain klinis dan imunologis. Skor ≥10 mengklasifikasikan pasien sebagai SLE.
Pemeriksaan laboratorium penting:
Tatalaksana bersifat individual, tergantung organ yang terlibat dan keparahan penyakit.
Spondyloartropati (SpA) adalah kelompok penyakit reumatik inflamasi kronis yang berbagi karakteristik genetik (sering terkait HLA-B27), klinis, dan radiologis.
Ciri khasnya meliputi inflamasi sendi aksial (tulang belakang, sendi sakroiliaka), entesitis (inflamasi tempat tendon/ligamen menempel pada tulang), dan seringkali manifestasi ekstra-artikular.
Klasifikasi utama:
Etiologi belum sepenuhnya dipahami, namun faktor genetik memegang peran kuat, terutama keberadaan alel HLA-B27 yang ditemukan pada 80-90% pasien AS.
Patogenesis melibatkan interaksi antara predisposisi genetik, faktor lingkungan (misalnya infeksi pada ReA), dan disregulasi imun yang menyebabkan inflamasi kronis pada entesis dan sendi.
Sitokin pro-inflamasi seperti TNF-alpha dan IL-17 memainkan peran sentral.
Manifestasi dapat dibagi menjadi aksial dan perifer, serta ekstra-artikular.
Diagnosis didasarkan pada kombinasi gambaran klinis, pencitraan, dan temuan laboratorium.
Kriteria klasifikasi ASAS (Assessment of SpondyloArthritis International Society) sering digunakan untuk SpA aksial dan perifer.
Pemeriksaan penunjang:
Tujuan tatalaksana adalah mengurangi nyeri, kekakuan, inflamasi, mencegah kerusakan struktural, dan mempertahankan fungsi.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi