Luka Bakar: Klasifikasi dan Resusitasi Cairan

Luka bakar adalah salah satu kegawatdaruratan bedah yang sering ditemui dan memerlukan penanganan cepat serta tepat. Kesalahan dalam penilaian derajat dan luasnya, apalagi penanganan resusitasi cairan, bisa berakibat fatal! Mahasiswa kedokteran wajib hukumnya menguasai materi ini untuk UKMPPD dan praktik klinis. Yuk, pahami detail klasifikasi, cara penilaian, dan strategi resusitasi cairan yang efektif!

Definisi Luka Bakar

Luka bakar adalah jenis cedera pada jaringan tubuh yang disebabkan oleh panas (termal), listrik, bahan kimia, atau radiasi. Kerusakan jaringan dapat bervariasi mulai dari epidermis hingga struktur yang lebih dalam seperti dermis, subkutis, otot, bahkan tulang, tergantung pada intensitas dan durasi paparan agen penyebab.

Klasifikasi Derajat Luka Bakar

Klasifikasi derajat luka bakar sangat krusial untuk menentukan prognosis dan tatalaksana. Berikut adalah perbandingan berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan:

DerajatKedalamanPenampakanNyeriPenyembuhanBekas Luka
Derajat I (Superficial)EpidermisKemerahan (eritema), kering, tidak ada bulaNyeri (+)3-7 hariTidak ada
Derajat II (Partial Thickness)
    IIA (Superficial Partial Thickness)Epidermis & Dermis SuperfisialKemerahan, basah, terdapat bula, dasar bula merah/pinkNyeri hebat (+)7-21 hariMinimal/tidak ada
    IIB (Deep Partial Thickness)Epidermis & Dermis ProfundaPucat/putih, kering, bula pecah, dasar bula putih/kuning, kapiler lambatNyeri berkurang/tidak ada (kerusakan saraf)>21 hari, butuh cangkok kulitSering hipertrofik/keloid
Derajat III (Full Thickness)Epidermis, Dermis, SubkutisPutih seperti lilin, coklat gelap, hitam (eschar), kering, keras, tidak elastisTidak ada (kerusakan saraf total)Tidak sembuh spontan, butuh cangkok kulitJelas, kontraktur
Derajat IVMelibatkan otot, tulang, sendiHitam gosong, kering, kerasTidak adaTidak sembuh spontan, amputasi/cangkokJelas, kerusakan fungsi berat

Penilaian Luas Luka Bakar (Total Body Surface Area - TBSA)

Penilaian luas luka bakar penting untuk menentukan indikasi resusitasi cairan dan rujukan. Metode yang umum digunakan:

  • Rule of Nines (Dewasa): Membagi tubuh dewasa menjadi area yang masing-masing nilainya kelipatan 9%.
    • Kepala & Leher: 9%
    • Lengan (masing-masing): 9%
    • Badan depan: 18%
    • Badan belakang: 18%
    • Tungkai (masing-masing): 18%
    • Genitalia: 1%
  • Lund-Browder Chart (Anak): Lebih akurat untuk anak karena proporsi kepala dan tungkai bervariasi sesuai usia.
  • Rule of Palm (Dewasa & Anak): Luas telapak tangan pasien (termasuk jari) dianggap sekitar 1% TBSA. Berguna untuk luka bakar yang kecil atau tidak beraturan.

Kriteria Luka Bakar Mayor (Indikasi Rujukan ke Pusat Luka Bakar)

Luka bakar diklasifikasikan sebagai mayor jika memenuhi salah satu kriteria berikut, memerlukan penanganan di pusat luka bakar:

  • Luka bakar derajat II > 20% TBSA (dewasa)
  • Luka bakar derajat II > 10% TBSA (anak < 10 tahun atau lansia > 50 tahun)
  • Luka bakar derajat III > 5% TBSA
  • Luka bakar pada wajah, mata, telinga, tangan, kaki, perineum, atau sendi mayor
  • Luka bakar listrik atau kimia
  • Luka bakar dengan trauma inhalasi
  • Luka bakar dengan trauma penyerta signifikan (fraktur, cedera kepala)
  • Luka bakar pada pasien dengan penyakit penyerta berat (DM, penyakit jantung, ginjal)
  • Luka bakar pada pasien yang berisiko tinggi (misal: pelecehan anak)

Tujuan dan Indikasi Resusitasi Cairan pada Luka Bakar

Tujuan utama resusitasi cairan adalah mencegah dan mengatasi syok hipovolemik yang disebabkan oleh perpindahan cairan masif dari intravaskular ke ruang interstitial (edema) akibat peningkatan permeabilitas kapiler pasca-luka bakar.

Indikasi resusitasi cairan:

  • Dewasa: Luka bakar derajat II atau III dengan TBSA ≥ 20%
  • Anak: Luka bakar derajat II atau III dengan TBSA ≥ 10-15%

Prinsip Resusitasi Cairan (Formula Parkland/Baxter)

Formula Parkland adalah standar emas untuk resusitasi cairan pada luka bakar. Penggunaan cairan kristaloid (Ringer Laktat) adalah pilihan utama.

  • Formula: 4 mL x Berat Badan (kg) x %TBSA
  • Pemberian:
    • Setengah dari total cairan diberikan dalam 8 jam pertama sejak kejadian luka bakar.
    • Setengah sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.
  • Contoh: Pasien dewasa, BB 60 kg, luka bakar derajat II-III 30% TBSA.
    • Total cairan = 4 mL x 60 kg x 30 = 7200 mL RL dalam 24 jam.
    • Dalam 8 jam pertama: 7200 mL / 2 = 3600 mL (kecepatan 450 mL/jam).
    • Dalam 16 jam berikutnya: 3600 mL (kecepatan 225 mL/jam).

Target Resusitasi (Monitor Luaran Urin):

  • Dewasa: 0.5 - 1.0 mL/kgBB/jam (sekitar 30-50 mL/jam)
  • Anak: 1.0 - 1.5 mL/kgBB/jam

Parameter Monitoring Lain:

  • Tekanan darah, denyut nadi, status mental
  • CVP (jika tersedia dan diperlukan)
  • Tanda-tanda kelebihan cairan (edema paru)

Tatalaksana Awal Lainnya (Primary Survey)

Setelah memastikan keamanan lingkungan, lakukan primary survey dan stabilisasi:

  • Airway (Jalan Napas): Pastikan jalan napas paten. Waspada cedera inhalasi (sputum jelaga, suara serak, riwayat terbakar di ruang tertutup). Pertimbangkan intubasi dini jika ada risiko obstruksi.
  • Breathing (Pernapasan): Pastikan ventilasi adekuat. Monitor saturasi oksigen. Berikan oksigen tambahan jika perlu.
  • Circulation (Sirkulasi): Pasang dua jalur IV besar (minimal 18G) pada area yang tidak terbakar jika memungkinkan. Ambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Disability (Kesadaran): Nilai tingkat kesadaran (GCS).
  • Exposure (Paparan): Lepaskan pakaian dan perhiasan yang terbakar. Tutup pasien dengan selimut bersih untuk mencegah hipotermia.

Manajemen Nyeri: Berikan analgesik intravena (misalnya morfin) secara titrasi.

Pencegahan Tetanus: Berikan imunisasi tetanus sesuai status imunisasi pasien.

Referensi

Customer Support umeds