Leukemia: Memahami AML, ALL, CML, CLL

Leukemia, si 'kanker darah' yang sering muncul di soal UKMPPD, punya banyak wajah! Dari yang akut menyerang anak-anak hingga kronis pada lansia, masing-masing punya karakteristik unik. Yuk, pahami perbedaan kunci, cara diagnosis, dan tatalaksananya agar kamu siap menghadapi kasus leukemia di ujian maupun praktik klinis. Jangan sampai tertukar, ya!

Definisi Umum Leukemia

Leukemia adalah kelompok keganasan hematologi yang berasal dari sel-sel punca hematopoietik di sumsum tulang, ditandai oleh proliferasi abnormal dan akumulasi sel-sel darah putih (leukosit) yang belum matang atau matang secara fungsional.

Sel-sel leukemia ini mengganggu produksi sel darah normal, menyebabkan berbagai manifestasi klinis seperti anemia, trombositopenia, dan infeksi.

Klasifikasi Utama Leukemia

Leukemia secara garis besar diklasifikasikan berdasarkan kecepatan progresi (akut vs. kronis) dan jenis sel yang terlibat (mieloid vs. limfoid). Ini menghasilkan empat tipe utama yang penting untuk dipahami:

Tipe LeukemiaSel AsalProgresi PenyakitPopulasi Umum
Leukemia Mieloid Akut (AML)Sel mieloid imatur (blast)CepatDewasa
Leukemia Limfoblastik Akut (ALL)Sel limfoid imatur (limfoblast)CepatAnak-anak
Leukemia Mieloid Kronis (CML)Sel mieloid matang/imaturLambatDewasa, usia paruh baya
Leukemia Limfositik Kronis (CLL)Sel limfoid matangLambatLansia

Leukemia Mieloid Akut (AML)

Definisi & Epidemiologi: AML adalah keganasan klonal dari prekursor mieloid yang ditandai oleh akumulasi mieloblas di sumsum tulang dan darah perifer. Ini adalah leukemia akut paling umum pada orang dewasa.

Patofisiologi: Terjadi blokade diferensiasi sel mieloid pada tahap awal, menyebabkan proliferasi tidak terkontrol dari mieloblas yang imatur dan tidak berfungsi. Klasifikasi FAB (M0-M7) atau WHO (berdasarkan genetik) digunakan untuk subtipe.

Manifestasi Klinis: Gejala muncul cepat akibat kegagalan sumsum tulang:

  • Anemia: Pucat, lemah, mudah lelah.
  • Trombositopenia: Perdarahan (purpura, ekimosis, epistaksis, gusi berdarah).
  • Neutropenia: Infeksi berulang atau parah.
  • Infiltrasi ekstramedular: Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati (kurang umum dibandingkan ALL), chloroma (tumor mieloid), gingival hyperplasia.
  • Gejala konstitusional: Demam, penurunan berat badan, keringat malam.

Penegakan Diagnosis:

  • Darah Lengkap: Anemia, trombositopenia, leukositosis (dapat juga normal/leukopenia), ditemukan mieloblas di apusan darah tepi.
  • Aspirasi & Biopsi Sumsum Tulang: Kriteria diagnosis utama adalah >20% mieloblas dari sel non-eritroid di sumsum tulang.
  • Sitokimia: Pewarnaan MPO (Myeloperoxidase) positif pada mieloblas.
  • Sitogenetika & Molekuler: Penting untuk klasifikasi WHO dan prognosis (mis. t(8;21), inv(16), t(15;17) pada APL/M3).

Tatalaksana:

  • Induksi Remisi: Kemoterapi intensif (mis. '7+3' regimen: Cytarabine + Anthracycline).
  • Konsolidasi: Kemoterapi lanjutan untuk mencegah relaps.
  • Terapi Target: Mis. Asam Retinoat (ATRA) dan Arsenik Trioksida (ATO) untuk AML M3/APL.
  • Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT): Untuk pasien risiko tinggi atau relaps.
  • Terapi suportif: Transfusi, antibiotik, antifungi.

Leukemia Limfoblastik Akut (ALL)

Definisi & Epidemiologi: ALL adalah keganasan klonal dari prekursor limfoid (limfoblas) yang paling sering terjadi pada anak-anak (puncak usia 2-5 tahun).

Patofisiologi: Terjadi proliferasi limfoblas yang tidak terkontrol, mengganggu hematopoiesis normal. ALL diklasifikasikan menjadi B-ALL (paling umum) dan T-ALL.

Manifestasi Klinis: Mirip AML, namun infiltrasi ekstramedular lebih sering:

  • Anemia, trombositopenia, neutropenia: Gejala serupa AML.
  • Limfadenopati, hepatomegali, splenomegali: Lebih sering dan menonjol.
  • Nyeri tulang/sendi: Akibat infiltrasi sumsum tulang.
  • Infiltrasi SSP: Sakit kepala, muntah, kejang, kelumpuhan saraf kranial (terutama pada T-ALL).
  • Massa mediastinum: Terutama pada T-ALL, dapat menyebabkan sindrom vena kava superior.

Penegakan Diagnosis:

  • Darah Lengkap: Anemia, trombositopenia, leukositosis (atau normal/leukopenia), ditemukan limfoblas di apusan darah tepi.
  • Aspirasi & Biopsi Sumsum Tulang: >20% limfoblas dari sel non-eritroid di sumsum tulang.
  • Sitokimia: MPO negatif pada limfoblas.
  • Imunofenotipe (Flow Cytometry): Penting untuk membedakan B-ALL dan T-ALL serta subtipe lainnya.
  • Sitogenetika & Molekuler: Penting untuk prognosis (mis. t(9;22) / kromosom Philadelphia pada ALL dewasa, t(12;21) pada ALL anak).
  • Pungsi Lumbal: Untuk menilai keterlibatan SSP.

Tatalaksana:

  • Induksi Remisi: Kemoterapi multi-agen intensif (mis. Vincristine, Prednisone, Asparaginase, Anthracycline).
  • Konsolidasi & Intensifikasi: Kemoterapi lanjutan.
  • Terapi Profilaksis SSP: Kemoterapi intratekal (Metotreksat) dan/atau radiasi kranial.
  • Terapi Target: Inhibitor tirosin kinase (TKI) untuk ALL Philadelphia-positif.
  • Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT): Untuk pasien risiko tinggi atau relaps.

Leukemia Mieloid Kronis (CML)

Definisi & Epidemiologi: CML adalah gangguan mieloproliferatif klonal yang ditandai oleh produksi berlebihan sel mieloid matang dan imatur di sumsum tulang dan darah perifer. Umumnya terjadi pada dewasa usia paruh baya.

Patofisiologi: Hampir selalu terkait dengan translokasi kromosom t(9;22) yang menghasilkan kromosom Philadelphia (Ph). Kromosom Ph membentuk gen fusi BCR-ABL1, yang mengkodekan protein tirosin kinase aktif berlebihan, menyebabkan proliferasi sel mieloid yang tidak terkontrol.

Fase-fase CML:

  • Fase Kronis: Asimptomatik atau gejala ringan, respons baik terhadap terapi.
  • Fase Akselerasi: Peningkatan blast (10-19%), basofil, splenomegali progresif, trombositopenia/trombositosis persisten, respons terapi menurun.
  • Fase Blast (Krisis Blast): >20% blast di darah perifer atau sumsum tulang, menyerupai leukemia akut.

Manifestasi Klinis: Banyak pasien asimptomatik saat diagnosis.

  • Splenomegali masif: Paling khas, dapat menyebabkan rasa penuh di perut kiri atas, nyeri.
  • Gejala konstitusional: Kelelahan, penurunan berat badan, keringat malam.
  • Gejala hiperviskositas: Priapismus, gangguan penglihatan, pusing (jarang).
  • Perdarahan atau trombosis (akibat disfungsi trombosit).

Penegakan Diagnosis:

  • Darah Lengkap: Leukositosis ekstrem (sering >100.000/µL) dengan pergeseran ke kiri (semua stadium sel mieloid, dari mieloblas hingga neutrofil matang), basofilia, eosinofilia, trombositosis (dapat juga normal/rendah).
  • Aspirasi & Biopsi Sumsum Tulang: Hiperselularitas, peningkatan rasio M:E, peningkatan megakariosit.
  • Sitogenetika & FISH: Deteksi kromosom Philadelphia (Ph).
  • PCR (RT-PCR): Deteksi gen fusi BCR-ABL1 (lebih sensitif dan digunakan untuk memantau respons terapi).

Tatalaksana:

  • Inhibitor Tirosin Kinase (TKI): Terapi lini pertama dan paling efektif (mis. Imatinib, Dasatinib, Nilotinib). Menghentikan aktivitas protein BCR-ABL1.
  • Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT): Satu-satunya terapi kuratif, dipertimbangkan jika TKI gagal atau pada fase akselerasi/blast.

Leukemia Limfositik Kronis (CLL)

Definisi & Epidemiologi: CLL adalah keganasan limfoproliferatif yang ditandai oleh akumulasi progresif limfosit B matang yang fungsionalnya terganggu. Ini adalah leukemia paling umum pada lansia di dunia Barat.

Patofisiologi: Proliferasi klonal limfosit B CD5+, CD19+, CD20+ (lemah), CD23+ yang berumur panjang dan resisten terhadap apoptosis.

Manifestasi Klinis: Banyak pasien asimptomatik saat diagnosis dan ditemukan secara insidental.

  • Limfadenopati: Nyeri tekan, simetris, terutama di leher, aksila, dan inguinal.
  • Splenomegali dan Hepatomegali.
  • Gejala konstitusional: Kelelahan, demam, keringat malam, penurunan berat badan (pada penyakit lanjut).
  • Anemia hemolitik autoimun dan trombositopenia imun (ITP) dapat terjadi.
  • Hipogammaglobulinemia: Peningkatan risiko infeksi.

Penegakan Diagnosis:

  • Darah Lengkap: Limfositosis absolut persisten (>5.000/µL) selama >3 bulan.
  • Apusan Darah Tepi: Limfositosis dengan karakteristik 'smudge cells' (sel rusak).
  • Imunofenotipe (Flow Cytometry): Kunci diagnosis, menunjukkan limfosit B klonal dengan ekspresi CD5, CD19, CD20 (lemah), CD23.
  • Biopsi Sumsum Tulang: Tidak rutin untuk diagnosis, tetapi dapat dilakukan untuk staging.
  • Sitogenetika & FISH: Untuk prognosis (mis. del(17p), del(11q) adalah risiko tinggi).

Klasifikasi Staging (Rai System):

  • Stadium 0 (Risiko Rendah): Limfositosis di darah dan sumsum tulang saja.
  • Stadium I (Risiko Menengah): Limfositosis + Limfadenopati.
  • Stadium II (Risiko Menengah): Limfositosis + Splenomegali/Hepatomegali (dengan atau tanpa limfadenopati).
  • Stadium III (Risiko Tinggi): Limfositosis + Anemia (Hb

Tatalaksana:

  • Watch & Wait: Untuk pasien asimptomatik stadium awal (Rai 0-II) tanpa fitur risiko tinggi.
  • Kemoterapi: Fludarabine, Cyclophosphamide, Rituximab (FCR regimen).
  • Terapi Target: Inhibitor Bruton's Tyrosine Kinase (BTK) seperti Ibrutinib; inhibitor BCL-2 seperti Venetoclax.
  • Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT): Jarang dilakukan, hanya untuk kasus risiko tinggi dan relaps pada pasien muda.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds