Herpes Simplex Virus Infection
- Etiologi
Human simplex virus tipe 1 (HSV-1) dan tipe 2 (HSV-2) - Gejala Klinis
- Infeksi primer biasanya tanpa gejala, pasien yang mengalami gingivostomatitis herpes akut dapat mengalami ulserasi oral pada palatum, gingiva, mukosa bukal, mukosa labial, dan lidah. Ulserasi dimulai sebagai vesikel kecil yang pecah dan menyatu.
- Dalam beberapa jam, timbul vesikel berkelompok yang bertahan hingga 2 – 3 jam sebelum pecah bagian atapnya. Beberapa lesi bergabung menjadi satu membentuk lesi yang lebih besar. Dalam 1 – 2 minggu kemudian lesi sembuh tanpa membentuk jaringan parut, jarang yang mengalami infeksi sekunder.
- Kekambuhan intraoral pada individu sehat terdiri dari ulserasi yang terbatas pada gingiva cekat dan palatum durum. Ini biasanya dimulai sebagai ulserasi multipel, kecil, tidak nyeri yang dapat menyatu dan sembuh dalam 10 hari. Pada pasien immunocompromised, kekambuhan dapat terjadi pada mukosa non-keratin.
- Tatalaksana
Diagnosis HSV-1 biasanya dibuat secara klinis. Infeksi primer dapat diobati dengan kumur asiklovir, sementara kekambuhan diobati dengan krim n-docosanol 10% topikal yang dijual bebas atau asiklovir sistemik, valasiklovir, atau famciclovir
Infeksi primer virus varicella-zoster (VZV)
- Etiologi
Virus varicella zoster
- Gejala klinis
- Vesikel kecil yang pecah dengan cepat sehingga membentuk ulserasi dangkal.
- Lesi paling sering ditemukan di bibir, mukosa bukal, dan langit-langit.
- Zoster terjadi pada pasien yang lebih tua atau imunosupresi.
- Tahap nyeri prodromal biasanya mendahului lesi yang terlihat pada fase akut dalam beberapa hari.
- Manifestasi oral dari fase akut dimulai sebagai vesikel di atasnya makula eritematosa yang mengalami ulserasi dan krusta selama periode 10 hari. Lesi ini berdistribusi unilateral dan mempengaruhi mukosa berkeratin dan non-keratin. Neuralgia postherpetic dapat mengikuti menyebabkan rasa sakit yang luar biasa yang dapat berlangsung satu tahun atau lebih.
- Tatalaksana
Diagnosis VZV biasanya dibuat secara klinis. Perawatan paliatif sesuai untuk varicella, sedangkan terapi antivirus sistemik jika diberikan dalam waktu 48 jam bermanfaat pada pasien dengan zoster
Herpangina
- Etiologi
Herpangina adalah infeksi virus yang bersifat akut dan self-limiting yang disebabkan oleh kelompok virus coxsackie tipe A1-6, A8, A10 dan A22. Virus menular melalui saliva atau feces yang terkontaminasi - Gejala Klinis
- Penyakit ini timbul dengan cepat, bersifat endemik, disertai demam, nyeri tenggorok, sakit kepala, malaise setelah masa inkubasi, diikuti munculnya warna kemerahan yang difus disertai sejumlah vesikel.
- Vesikel tersebut kecil dan banyak, cepat pecah, meninggalkan ulserasi dan sembuh dalam 7 – 10 hari.
- Lesinya mempunyai tempat predileksi di palatum molle dan uvula, pilar tonsil, dinding posterior faring. Insidens penyakit: sering terjadi saat pergantian musim, lebih banyak menyerang penderita muda dan anak-anak. Di dalam mulut timbul sekelompok vesikel di palatum molle, pilar tonsil dan tonsil

- Tatalaksana
Dilakukan secara suportif dan simptomatik: antipiretik (ibuprofen, acetaminophen) dan anestetikum topikal. Penyakit terjadi terutama pada anak-anak, bersifat self-limiting dan menimbulkan imunitas seumur hidup terhadap infeksi virus yang sama.
Hand Foot and Mouth Disease
- Etiologi
Hand-foot-and-mouth disease merupakan penyakit yang bersifat akut, self-limiting, menular, disebabkan oleh virus coxsackie A16 - Gejala Klinis
- Hand-foot-and-mouth disease menimbulkan epidemic yang melibatkan anak-anak dan dewasa muda.
- Masa inkubasi virus pendek, reda dalam 1 – 2 minggu.
- Gejalanya ringan sampai sedang, meliputi demam ringan, malaise, limfadenopati, rasa nyeri dalam mulut. Lesi di kulit tidak selalu ditemukan, timbul vesikel dikelilingi daerah kemerahan di bagian dorsal jari tangan dan jari kaki.
- Lesi makulopapular ini bertahan hingga 5 – 8 hari, ditemukan di kaki, jari kaki, tangan, jari tangan dan rongga mulut, yang muncul secara bersamaan. Manifestasi intra oralnya hampir selalu ada, berupa vesikel kecil (5 – 30 vesikel), lesi mudah pecah, meninggalkan ulserasi dangkal berdiameter 2 – 6 mm, dikelilingi daerah kemerahan.
- Tempat predileksinya di mukosa pipi, mukosa bibir, lidah, palatum

- Tatalaksana
Terapi dilakukan secara simptomatik kafrena durasinya yang pendek, sifatnya self-limiting, jadi tidak ada terapi khusus untuk virus. Rasa nyeri yang terjadki membuat pasien mengalami kesulitan untuk makan, sehingga mengalami dehidrasi dan harus dirawat di rumah sakit. Untuk mengurangi gangguan dalam mulutnya dapat diberikan obat kumur sodium bikarbonat dalam air hangat
Mucous Membrane Phempigoid
- Etiologi
Mucous membrane pemphigoid merupakan penyakit kronis berupa bula yang terbentuk di permukaan mukosa dan setelah pecah meninggalkan erosi/ulserasi yang sakit. Etiologi mucous membrane pemphigoid tidak diketahui dengan pasti, tetapi ada kaitannya dengan faktor imunologi. Pada bentuk pemphigoid ini, antigen yang berperan adalah antigen 180, laminin 5, integrin B4 dan kolagen tipe VII - Gejala Klinis
Bentuk lesi adalah bula yang bersifat rekuren, mudah pecah sehingga terbentuk erosi/ulserasi yang sangat sakit. Sifat lesi yang rekuren menyebabkan terjadinya atrofi dan terbentuknya cicatrix, lesi yang terjadi disebut cicatricial pemphigoid. Lesi ditemukan di regio tertentu, jarang menyebar. Di gingiva ditemukan pengelupasan pada gingiva, sehingga gingiva terlihat berwarna merah, erosif dan sakit. Di mata ditemukan konjungtivitis disertai penyatuan antara kelopak mata dan bola mata, lesinya disebut symblepharon. Kelainan ini membuat mata bertambah kering dan lama-kelamaan menimbulkan kebutaan pada penderitanya.

- Tatalaksana
Pengobatannya dengan pemberian kortikosteroid sistemik atau obat imunosupresan lainnya.
Pemfigus Vulgaris
- Etiologi
Etiologi pemfigus vulgaris tidak diketahui, namun diperkirakan ada kaitannya dengan kondisi autoimun berupa terbentuknya bula di kulit dan mukosa. Target antigen yang utama adalah desmoglein 1 dan 3. Biasanya penyakit ini bersifat fatal bila tidak dirawat. Lesi lebih banyak ditemukan pada laki-laki berusia 40 – 60 tahun. - Gejala Klinis
- Lesi yang ditemukan di kulit berupa bula yang mudah pecah dan membentuk erosi yang bersifat persisten. Lesi muncul pertama kali di kulit. Lebih dari 70% kasus pemfigus vulgaris melibatkan mukosa mulut. Bula yang terbentuk sangat rapuh dan mudah pecah, menyebabkan terjadinya erosi luas, ada kecenderungan bertambah luas di perifer.
- Tempat predileksinya adalah mukosa pipi, mukosa bibir, palatum, lidah, dasar mulut dan gingiva. Bila pada permukaan epitel yang terlibat dilakukan pengerokan dengan spatel lidah yang lembab, maka akan terbentuk bula baru di bekas daerah yang dikerok tersebut. Fenomena ini disebut sebagai tes Nikolsky positif, yang menunjukkan memang ada kelainan pada epitel yang mengakibatkan terbentuknya bula.
- Lesi yang sama juga dapat ditemukan di mukosa konjungtiva, hidung, laring, faring, genital, anus.

- Tatalaksana
Pengobatannya adalah dengan pemberian kortikosteroid sistemik (kombinasi cyclosporine, azathioprine). Dalam dua dekade terakhir ini, prognosisnya membaik.