Lagoftalmos dan Ptosis: Gangguan Kelopak Mata

Kelopak mata adalah pelindung vital mata kita, namun berbagai kondisi bisa mengganggu fungsinya, seperti lagoftalmos yang membuat mata tak bisa menutup sempurna atau ptosis yang menyebabkan kelopak mata melorot. Kedua kondisi ini, meski berbeda penyebab dan dampaknya, sama-sama berpotensi mengancam kesehatan mata dan kualitas hidup pasien. Yuk, pahami lebih dalam etiologi, manifestasi klinis, dan tatalaksana untuk setiap kondisi agar siap menghadapi soal UKMPPD!

Pendahuluan

Lagoftalmos dan Ptosis adalah dua kondisi gangguan kelopak mata yang sering ditemukan dalam praktik klinis. Meskipun keduanya berkaitan dengan fungsi kelopak mata, patofisiologi, manifestasi, dan penanganannya sangat berbeda. Pemahaman yang komprehensif tentang kedua kondisi ini sangat penting bagi mahasiswa kedokteran.

Lagoftalmos

Definisi: Lagoftalmos adalah kondisi di mana kelopak mata tidak dapat menutup sempurna, meninggalkan sebagian permukaan bola mata terbuka saat tidur atau berkedip. Hal ini menyebabkan paparan kornea dan konjungtiva terhadap lingkungan, berisiko menyebabkan mata kering dan kerusakan.

Etiologi: Penyebab lagoftalmos dapat bervariasi, meliputi:

  • Paralisis Nervus Fasialis (N. VII): Paling sering, menyebabkan kelemahan M. orbicularis oculi yang bertanggung jawab untuk penutupan kelopak mata (misalnya Bell's Palsy, stroke, trauma, tumor).
  • Exophthalmos: Bola mata yang menonjol keluar (misalnya pada penyakit Graves) dapat menghalangi penutupan kelopak mata yang normal.
  • Trauma atau Pembedahan Kelopak Mata: Kerusakan jaringan atau jaringan parut pasca operasi/trauma yang menyebabkan retraksi kelopak mata.
  • Jaringan Parut Konjungtiva: Kondisi seperti Stevens-Johnson syndrome atau pemfigoid okular sikatrikal.
  • Nocturnal Lagophthalmos: Kelopak mata tidak menutup sempurna saat tidur, seringkali idiopatik.

Manifestasi Klinis: Gejala bervariasi tergantung tingkat keparahan dan durasi paparan:

  • Mata kering, sensasi terbakar, benda asing.
  • Iritasi, kemerahan pada mata.
  • Penglihatan kabur, terutama saat bangun tidur.
  • Pada kasus berat atau kronis: keratitis paparan, ulkus kornea, infeksi, hingga perforasi kornea dan kebutaan.

Tatalaksana: Tujuan utama adalah melindungi permukaan mata dan mencegah komplikasi.

  • Non-Farmakologis:
    • Lubrikasi: Air mata buatan (tetes/gel) secara teratur.
    • Penutupan Kelopak Mata: Taping kelopak mata saat tidur, penggunaan kacamata pelindung atau goggle.
    • Pelembab Udara: Untuk mengurangi penguapan air mata.
  • Farmakologis:
    • Antibiotik topikal jika ada tanda infeksi sekunder.
  • Bedah:
    • Tarsorafi: Penjahitan sebagian kelopak mata untuk mengurangi celah palpebra.
    • Implantasi Berat Emas: Diletakkan di kelopak mata atas untuk membantu penutupan secara gravitasi pada paralisis N. VII.
    • Koreksi exophthalmos atau perbaikan jaringan parut.

Ptosis

Definisi: Ptosis adalah kondisi di mana kelopak mata atas jatuh atau melorot di bawah posisi normalnya, menutupi sebagian atau seluruh pupil. Ini dapat mengganggu lapang pandang dan menyebabkan masalah kosmetik.

Klasifikasi dan Etiologi: Ptosis dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya:

Tipe PtosisDeskripsi dan Contoh Etiologi
1. KongenitalDisebabkan oleh disgenesis atau maldevelopment M. levator palpebrae superioris. Sering unilateral, dapat disertai kelemahan otot ekstraokular (mis. superior rectus palsy).
2. Aponeurotik (Involusional)Paling sering terjadi pada dewasa dan lansia. Disebabkan oleh dehiscence, disinsersi, atau peregangan aponeurosis M. levator palpebrae superioris dari tarsus. Dapat terjadi akibat penuaan, trauma, atau penggunaan lensa kontak jangka panjang.
3. NeurogenikGangguan pada inervasi M. levator palpebrae superioris.
  • Paralisis N. III: Ptosis berat, sering disertai midriasis dan oftalmoplegia.
  • Sindrom Horner: Ptosis ringan, miosis, dan anhidrosis ipsilateral. Disebabkan oleh gangguan pada jalur simpatis.
4. MiogenikGangguan pada otot levator itu sendiri.
  • Myasthenia Gravis: Fluktuatif, memburuk dengan kelelahan, dapat unilateral atau bilateral, sering disertai diplopia.
  • Distrofi Otot: Misalnya chronic progressive external ophthalmoplegia (CPEO).
5. MekanisAdanya massa atau berat berlebih pada kelopak mata yang menariknya ke bawah. Contoh: tumor kelopak mata, kista, edema berat.
6. TraumatikKerusakan langsung pada otot levator atau aponeurosisnya akibat trauma.

Manifestasi Klinis:

  • Penurunan lapang pandang, terutama lapang pandang atas.
  • Posisi kepala kompensasi (chin-up position atau mengangkat alis) untuk melihat.
  • Mata lelah, sakit kepala (akibat kompensasi otot frontal).
  • Ambliopia pada anak-anak jika ptosis menutupi pupil secara signifikan.
  • Asimetri wajah (kosmetik).

Penegakan Diagnosis:

  • Anamnesis: Onset (kongenital/akuired), riwayat trauma, penyakit sistemik (DM, Myasthenia Gravis, tiroid), variasi gejala (membaik/memburuk), penggunaan lensa kontak.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Pengukuran MRD-1 (Margin Reflex Distance-1): Jarak antara refleks cahaya kornea dengan tepi kelopak mata atas (normal 4-5 mm).
    • Fungsi M. levator palpebrae superioris: Gerakan kelopak mata dari pandangan ke bawah ekstrem ke pandangan ke atas ekstrem (normal >10 mm).
    • Pemeriksaan pupil, gerakan bola mata, dan otot frontal.
    • Pemeriksaan Bell's phenomenon (pada paralisis N. VII).
    • Tes Farmakologis: Tensilon test (edrofonium) untuk Myasthenia Gravis.
  • Pemeriksaan Penunjang: MRI/CT scan jika dicurigai lesi intrakranial (mis. tumor, aneurisma) atau kelainan struktural lainnya.

Tatalaksana: Umumnya bersifat bedah, kecuali pada kasus yang dapat ditangani secara medis (mis. Myasthenia Gravis, Sindrom Horner). Pilihan bedah tergantung etiologi dan fungsi levator.

  • Reseksi Otot Levator: Untuk ptosis dengan fungsi levator yang baik hingga sedang.
  • Frontalis Sling (Suspensi Frontalis): Untuk ptosis dengan fungsi levator yang sangat buruk atau tidak ada (otot frontalis digunakan untuk mengangkat kelopak mata).
  • Reseksi M. Müller: Untuk ptosis ringan dengan tes fenilefrin positif.
  • Tatalaksana Kaustatif: Pengobatan penyakit dasar (mis. obat-obatan untuk Myasthenia Gravis, penanganan tumor).

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds