Konstipasi dan Obstruksi Intestinal

Sembelit dan obstruksi usus sering dianggap sepele, padahal bisa mengancam jiwa! Sebagai calon dokter, Anda wajib paham bedanya konstipasi fungsional dengan kegawatdaruratan obstruksi. Jangan sampai salah diagnosis dan tatalaksana, karena dampaknya fatal. Yuk, kuasai konsep esensial ini untuk UKMPPD dan praktik klinis Anda!

Definisi

Konstipasi (Sembelit) adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan buang air besar (BAB) dengan frekuensi yang jarang (kurang dari 3 kali seminggu), feses yang keras, atau sensasi evakuasi yang tidak tuntas.

Obstruksi Intestinal (Obstruksi Usus) adalah kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai dengan gangguan total atau parsial pada pasase isi usus. Hal ini dapat menyebabkan penumpukan cairan, gas, dan feses di proksimal lokasi obstruksi.

Etiologi

  • Konstipasi:
    • Primer (Fungsional/Idiopatik): Gangguan motilitas kolon (transit lambat) atau disfungsi dasar panggul (disinergi defekasi).
    • Sekunder:
      • Diet: Kurang serat, kurang cairan.
      • Gaya Hidup: Kurang aktivitas fisik, menunda BAB.
      • Obat-obatan: Opioid, antidepresan, antikolinergik, diuretik, suplemen zat besi/kalsium.
      • Penyakit: Hipotiroidisme, diabetes melitus, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, sindrom iritasi usus besar (IBS) tipe konstipasi.
      • Struktural: Striktur, tumor (jarang sebagai penyebab utama konstipasi kronis kecuali ada red flags).
  • Obstruksi Intestinal:
    • Mekanis (Fisik):
      • Usus Halus: Adhesi pasca-operasi (paling sering), hernia inkarserata, tumor (primer/metastasis), penyakit Crohn, intususepsi, volvulus.
      • Usus Besar: Karsinoma kolorektal (paling sering), divertikulitis dengan striktur, volvulus (sigmoid/sekum), impaksi feses (terutama pada lansia).
    • Fungsional (Non-Mekanis): Disebut juga Ileus Paralitik, yaitu gangguan motilitas usus tanpa adanya sumbatan fisik. Penyebabnya antara lain:
      • Pasca-operasi abdomen.
      • Gangguan elektrolit (hipokalemia, hipomagnesemia).
      • Sepsis, peritonitis.
      • Obat-obatan (opioid, antikolinergik).
      • Penyakit sistemik (uremia, hipotiroidisme).

Patofisiologi

  • Konstipasi:
    • Transit Lambat: Waktu transit feses di kolon memanjang, menyebabkan reabsorpsi air berlebihan dan feses menjadi keras.
    • Disfungsi Dasar Panggul: Gangguan koordinasi otot dasar panggul saat defekasi, menyebabkan kesulitan mengeluarkan feses.
    • Kurang Serat/Cairan: Mengurangi volume dan konsistensi feses, mempersulit pergerakan.
  • Obstruksi Intestinal:
    • Proksimal Obstruksi: Akumulasi gas (udara tertelan, produksi bakteri) dan cairan (sekresi pencernaan) menyebabkan distensi usus.
    • Distensi: Meningkatkan tekanan intraluminal, mengganggu aliran darah ke dinding usus (iskemia), dan merangsang refleks muntah.
    • Muntah: Kehilangan cairan dan elektrolit (terutama K+ dan Cl-), menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.
    • Stangulasi: Jika suplai darah ke segmen usus terganggu (misalnya pada hernia inkarserata, volvulus), dapat terjadi iskemia, nekrosis, dan perforasi usus, yang merupakan kegawatdaruratan.

Manifestasi Klinis

  • Konstipasi:
    • Frekuensi BAB kurang dari 3 kali seminggu.
    • Feses keras, berbentuk seperti kotoran kambing, atau besar dan sulit keluar.
    • Mengejan berlebihan saat BAB.
    • Sensasi evakuasi tidak tuntas.
    • Rasa tidak nyaman di perut, kembung.
    • Kadang nyeri perut bagian bawah.
  • Obstruksi Intestinal:
    • Nyeri Kolik: Nyeri perut kram yang intermiten, sering terlokalisasi. Pada obstruksi usus halus, nyeri lebih sentral; pada usus besar, lebih perifer.
    • Distensi Abdomen: Perut membesar karena akumulasi gas dan cairan. Lebih jelas pada obstruksi usus besar.
    • Mual dan Muntah: Muntah bilious (hijau) atau fekaloid (seperti feses) pada obstruksi distal.
    • Tidak Flatus atau BAB: Tanda kunci obstruksi total.
    • Demam, Takikardia, Hipotensi: Tanda strangulasi atau perforasi.
    • Pemeriksaan Fisik:
      • Inspeksi: Distensi, bekas luka operasi.
      • Auskultasi: Bowel sound hiperaktif dan bernada tinggi (metallic sound) pada obstruksi awal, kemudian hipoaktif/menghilang pada obstruksi lanjut atau ileus.
      • Palpasi: Nyeri tekan, defans muskular (peritonitis).
      • Perkusi: Timpani.
      • Rectal Touché: Ampula rekti kosong (pada obstruksi total), feses keras (impaksi), massa.

Pemeriksaan Penunjang

  • Konstipasi:
    • Umumnya tidak memerlukan pemeriksaan penunjang khusus kecuali ada red flags (penurunan berat badan, anemia, perdarahan rektum, riwayat keluarga kanker kolorektal, onset baru pada usia >50 tahun).
    • Jika ada red flags: Kolonoskopi untuk menyingkirkan lesi struktural.
    • Manometri anorektal, tes transit kolon (untuk konstipasi fungsional yang refrakter).
  • Obstruksi Intestinal:
    • Laboratorium:
      • Darah Lengkap: Leukositosis (strangulasi, perforasi).
      • Elektrolit: Hipokalemia, hiponatremia, alkalosis metabolik (muntah).
      • Fungsi Ginjal: Peningkatan BUN/kreatinin (dehidrasi).
      • Laktat: Meningkat (iskemia usus).
    • Radiologi:
      • Foto Polos Abdomen (3 posisi: supine, erect, LLD):
        • Obstruksi Usus Halus: Dilatasi loop usus halus (>3 cm), air-fluid level (tangga), step-ladder pattern, valvulae conniventes (gambaran herring bone).
        • Obstruksi Usus Besar: Dilatasi kolon (>6 cm), haustra yang masih terlihat, air-fluid level (lebih sedikit), coffee bean sign (volvulus sigmoid), omega loop sign (volvulus sekum).
        • Pneumoperitoneum: Udara bebas di bawah diafragma (perforasi).
      • CT Scan Abdomen dengan Kontras (Gold Standard): Mengidentifikasi lokasi, penyebab, tingkat keparahan obstruksi, serta tanda-tanda strangulasi atau perforasi.

Diagnosis Banding

KriteriaObstruksi MekanisIleus ParalitikKonstipasi Fungsional
PenyebabSumbatan fisik (adhesi, hernia, tumor)Gangguan motilitas ususDisfungsi motilitas/defekasi tanpa sumbatan
NyeriKolik, intermiten, progresifDifus, persisten, tidak kolikRingan, kembung, tidak kolik
MuntahSering, bilious/fekaloidSering, bilious/non-biliousJarang
DistensiJelas, progresifJelas, difusRingan-sedang, kembung
Bowel SoundHiperaktif, metallic sound (awal); hipoaktif (lanjut)Hipoaktif atau absenNormal atau hipoaktif
Flatus/BABTidak ada (obstruksi total)Tidak adaJarang BAB, feses keras
Foto Polos AbdomenDilatasi usus, air-fluid level, step-ladderDilatasi usus difus (usus halus & besar), gas di rektumFeses banyak di kolon

Tatalaksana

  • Konstipasi:
    • Non-Farmakologis:
      • Diet: Tingkatkan asupan serat (25-30g/hari) dari buah, sayur, sereal gandum.
      • Cairan: Minum air yang cukup (2-3 liter/hari).
      • Aktivitas Fisik: Olahraga teratur.
      • Bowel Training: Biasakan BAB pada waktu yang sama setiap hari, jangan menunda.
    • Farmakologis (Laksatif):
      • Bulk-forming: Psyllium, metilselulosa (menambah volume feses).
      • Osmotik: Polietilen glikol (PEG), laktulosa, magnesium hidroksida (menarik air ke lumen usus).
      • Stimulan: Bisacodyl, senna (merangsang kontraksi usus).
      • Pelunak Feses: Docusate sodium (melembutkan konsistensi feses).
      • Lainnya: Lubiprostone, linaclotide (untuk konstipasi kronis idiopatik).
  • Obstruksi Intestinal:
    • Resusitasi dan Stabilisasi:
      • NPO (Nil Per Os): Pasien dipuasakan.
      • IVFD (Intravenous Fluid Drip): Koreksi dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (NaCl 0.9%, Ringer Laktat).
      • NGT (Nasogastric Tube) Dekompresi: Untuk mengurangi distensi, mual, dan muntah.
      • Kateter Urin: Monitor output urin.
      • Analgesik: Untuk nyeri.
      • Antibiotik Spektrum Luas: Jika dicurigai strangulasi atau perforasi.
    • Tatalaksana Spesifik:
      • Konservatif: Observasi ketat, terutama pada obstruksi parsial atau ileus paralitik.
      • Bedah: Indikasi utama untuk obstruksi mekanis, strangulasi, perforasi, atau obstruksi komplit yang tidak membaik dengan terapi konservatif. Jenis operasi tergantung penyebab (adhesiolisis, reseksi usus, kolostomi).

Komplikasi

  • Konstipasi:
    • Hemoroid, fisura ani.
    • Impaksi feses.
    • Prolaps rektum.
    • Inkontinensia feses (overflow incontinence).
  • Obstruksi Intestinal:
    • Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.
    • Iskemia usus, nekrosis.
    • Perforasi usus, peritonitis.
    • Sepsis, syok.
    • Kematian.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds