Konjungtivitis Viral

Mata merah dan berair seringkali membuat pasien panik, namun sebagai calon dokter, Anda harus mampu membedakan penyebabnya. Konjungtivitis viral adalah salah satu penyebab tersering yang sangat menular dan sering muncul di soal UKMPPD! Yuk, pahami karakteristik khasnya, mulai dari etiologi, manifestasi klinis, hingga tatalaksana yang tepat agar Anda siap menghadapi kasus ini di ujian maupun praktik nanti.

Definisi

Konjungtivitis viral adalah peradangan pada konjungtiva yang disebabkan oleh infeksi virus.

Ini merupakan jenis konjungtivitis akut yang paling sering terjadi dan sangat menular, seringkali berkaitan dengan infeksi saluran napas atas.

Etiologi & Transmisi

Mayoritas kasus konjungtivitis viral disebabkan oleh Adenovirus, terutama serotipe 3, 4, 7, dan 8 yang menyebabkan pharyngoconjunctival fever atau epidemic keratoconjunctivitis.

Selain Adenovirus, virus lain yang dapat menyebabkan konjungtivitis meliputi:

  • Herpes Simplex Virus (HSV)
  • Varicella-Zoster Virus (VZV)
  • Enterovirus
  • Coxsackievirus
  • Molluscum Contagiosum Virus

Transmisi umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan sekret mata yang terinfeksi, baik melalui tangan, handuk, atau benda yang terkontaminasi (fomites). Penularan juga dapat terjadi melalui droplet pernapasan.

Manifestasi Klinis

Gejala konjungtivitis viral seringkali bersifat bilateral, meskipun awalnya dapat unilateral.

Tanda dan gejala khas meliputi:

  • Mata merah (hiperemia konjungtiva)
  • Mata berair (sekret serous atau seromukous)
  • Sensasi benda asing atau gritty sensation
  • Gatal ringan hingga sedang
  • Fotofobia ringan
  • Pembengkakan kelopak mata (edema palpebra)
  • Folikel pada konjungtiva tarsal inferior (tanda khas viral)
  • Limfadenopati preaurikular atau submandibular yang nyeri tekan (tanda khas viral)
  • Dapat disertai gejala infeksi saluran napas atas (ISPA) seperti demam, nyeri tenggorokan, dan pilek.
  • Pada kasus Adenovirus berat, dapat ditemukan pseudomembran atau membran sejati.
  • Keratitis punctata superfisial atau infiltrat subepitel kornea (subepithelial infiltrates) dapat terjadi, menyebabkan penurunan visus dan fotofobia lebih berat.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis sebagian besar ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Anamnesis penting untuk mencari riwayat kontak dengan individu yang sakit atau riwayat ISPA.

Pemeriksaan slit lamp dapat mengidentifikasi folikel, pseudomembran, dan keratitis.

Pemeriksaan penunjang (jarang dilakukan rutin, lebih untuk kasus atipikal atau penelitian):

  • PCR (Polymerase Chain Reaction): untuk identifikasi virus secara cepat dan spesifik.
  • Kultur virus: lama dan kurang praktis.
  • Rapid antigen test: tersedia untuk Adenovirus, namun sensitivitas dan spesifisitas bervariasi.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan konjungtivitis viral dari jenis konjungtivitis lainnya.

KarakteristikKonjungtivitis ViralKonjungtivitis BakterialKonjungtivitis Alergi
EtiologiAdenovirus (tersering), HSV, VZVS. aureus, S. pneumoniae, H. influenzaeAlergen (polen, debu, dll.)
SekretSerous, berairMukopurulen, purulen, kentalSerous, berair, bening
GatalRingan-sedangMinimalHebat
Mata MerahDifus, folikelDifus, papilDifus, papil (terutama tarsal superior)
Limfadenopati PreaurikularSering (+)Jarang (+)(-)
Tanda Khas LainFolikel, pseudomembran, ISPAMata lengket saat bangun, krustaKemosis, cobblestone papillae, riwayat atopi

Tatalaksana

Konjungtivitis viral umumnya self-limiting (sembuh sendiri) dalam 1-3 minggu.

Tatalaksana bersifat suportif untuk meredakan gejala dan mencegah penyebaran.

Non-Farmakologis:

  • Kompres dingin: untuk mengurangi pembengkakan dan rasa tidak nyaman.
  • Hindari menyentuh mata dan gosok mata.
  • Cuci tangan bersih secara teratur (penting untuk mencegah penularan).
  • Gunakan handuk dan bantal terpisah.
  • Hindari berbagi barang pribadi.
  • Istirahat yang cukup.

Farmakologis:

  • Air mata buatan (artificial tears): untuk melumasi mata dan mengurangi iritasi.
  • Vasokonstriktor topikal: untuk mengurangi kemerahan (penggunaan jangka pendek).
  • Antihistamin topikal: jika ada komponen gatal yang signifikan.
  • Steroid topikal dosis rendah (misalnya fluorometholone 0.1%): hanya diindikasikan pada kasus dengan infiltrat subepitel kornea yang menyebabkan penurunan visus signifikan atau fotofobia berat, dan HARUS di bawah pengawasan dokter mata karena risiko komplikasi (misalnya reaktivasi HSV, peningkatan TIO).
  • Antivirus topikal (misalnya ganciclovir 0.15% gel atau acyclovir 3% salep): hanya untuk konjungtivitis yang disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV), bukan untuk Adenovirus.
  • Pada kasus pseudomembran, dapat dilakukan pengangkatan pseudomembran (peeling) oleh dokter mata.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat krusial untuk mencegah penyebaran infeksi.

Poin-poin penting edukasi:

  • Penyakit ini sangat menular, hindari kontak dekat.
  • Cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air.
  • Jangan berbagi handuk, bantal, atau kosmetik mata.
  • Hindari masuk sekolah atau bekerja sampai gejala mereda (biasanya 1-2 minggu setelah onset).
  • Segera kembali ke dokter jika gejala memburuk atau tidak membaik.
  • Jelaskan bahwa antibiotik tidak efektif untuk infeksi virus.

Pencegahan terutama berfokus pada kebersihan personal dan lingkungan, terutama saat wabah.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds