Konjungtivitis Gonore (Konjungtivitis GO)

Hai calon dokter! Pernah dengar tentang konjungtivitis yang bisa bikin buta dalam hitungan hari, terutama pada bayi baru lahir? Ya, itu dia Konjungtivitis Gonore! Kondisi hiperakut yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae ini bukan cuma bikin mata merah berair, tapi juga ancaman serius bagi penglihatan. Yuk, pahami patogenesis, diagnosis, dan tatalaksana cepatnya agar kamu siap menghadapi kasus ini di UKMPPD dan praktik nanti!

Definisi

Konjungtivitis Gonore (Konjungtivitis GO) adalah bentuk konjungtivitis bakteri akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Kondisi ini dikenal karena onsetnya yang cepat dan potensi komplikasi serius, terutama kerusakan kornea yang dapat menyebabkan kebutaan permanen jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Etiologi dan Transmisi

Penyebab utama adalah bakteri Neisseria gonorrhoeae, suatu bakteri gram-negatif diplokokus.

  • Pada Neonatus (Oftalmia Neonatorum Gonore): Penularan terjadi secara vertikal dari ibu yang terinfeksi gonore pada saluran genitalnya saat proses persalinan pervaginam.
  • Pada Dewasa: Umumnya ditularkan melalui kontak langsung dengan sekret genital yang terinfeksi, seringkali akibat penularan dari tangan ke mata setelah kontak seksual yang tidak aman.

Manifestasi Klinis

Gejala konjungtivitis gonore bervariasi antara neonatus dan dewasa, namun keduanya ditandai oleh onset yang hiperakut dan berat.

  • Pada Neonatus (Oftalmia Neonatorum Gonore):
    • Onset biasanya 1-5 hari setelah lahir.
    • Mata merah, bengkak hebat (edema palpebra), dan kemosis konjungtiva.
    • Sekret mata sangat banyak, kental, dan purulen (nanah), seringkali berwarna kuning kehijauan.
    • Dapat unilateral atau bilateral.
    • Risiko tinggi terjadi ulkus kornea dan perforasi jika tidak diobati.
  • Pada Dewasa:
    • Onset hiperakut, seringkali unilateral, namun bisa juga bilateral.
    • Sekret purulen yang sangat profus dan kental.
    • Edema palpebra dan kemosis konjungtiva yang berat.
    • Sering disertai limfadenopati preaurikular.
    • Nyeri, fotofobia, dan penurunan visus.
    • Komplikasi kornea seperti ulkus kornea, perforasi, dan endoftalmitis dapat terjadi dengan cepat.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis:

  • Pada neonatus: Riwayat ibu dengan infeksi menular seksual (IMS) atau gonore.
  • Pada dewasa: Riwayat kontak seksual yang tidak aman atau riwayat IMS.

Pemeriksaan Fisik:

  • Inspeksi mata menunjukkan tanda-tanda klinis hiperakut seperti edema palpebra berat, kemosis, dan sekret purulen.
  • Pemeriksaan kornea untuk mencari adanya ulkus atau infiltrat.

Pemeriksaan Penunjang (WAJIB):

  • Pewarnaan Gram dari apusan sekret konjungtiva: Menunjukkan diplokokus Gram-negatif intraseluler. Ini adalah metode diagnosis cepat yang sangat membantu.
  • Kultur pada media Thayer-Martin: Merupakan standar baku emas untuk konfirmasi diagnosis dan uji sensitivitas antibiotik.
  • Tes amplifikasi asam nukleat (NAAT) atau PCR: Dapat digunakan untuk deteksi DNA N. gonorrhoeae.
  • Pada dewasa, disarankan skrining untuk IMS lain (misalnya klamidia, sifilis, HIV).

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan konjungtivitis gonore dari penyebab konjungtivitis lain yang juga dapat menyebabkan gejala berat.

KriteriaKonjungtivitis GonoreKonjungtivitis KlamidiaKonjungtivitis Bakteri Non-GOKonjungtivitis Kimiawi (Neonatus)
EtiologiNeisseria gonorrhoeaeChlamydia trachomatisS. aureus, S. pneumoniae, H. influenzae, dll.Iritasi dari profilaksis mata (mis. AgNO3)
Onset (Neonatus)1-5 hari5-14 hariBervariasi, biasanya >5 hariBeberapa jam setelah lahir
SekretSangat purulen, profusMukopurulen, sedangPurulen, sedangNon-purulen, berair
Beratnya PenyakitHiperakut, sangat berat, risiko kornea tinggiAkut-subakut, sedang, dapat menyebabkan pannusAkut, sedang-beratRingan, self-limiting
Gram StainDiplokokus Gram-negatif intraselulerTidak spesifikBakteri lainTidak ada bakteri

Tatalaksana

Tatalaksana harus segera diberikan untuk mencegah komplikasi serius, terutama kerusakan kornea.

Prinsip Umum:

  • Irigasi mata dengan salin normal secara teratur (setiap jam) untuk membersihkan sekret.
  • Antibiotik sistemik adalah wajib karena risiko komplikasi okular dan infeksi sistemik.
  • Obat tetes mata topikal dapat diberikan sebagai terapi tambahan.

Regimen Spesifik:

  • Pada Neonatus (Oftalmia Neonatorum Gonore):
    • Ceftriaxone 25-50 mg/kg BB IV atau IM dosis tunggal (maksimal 125 mg).
    • Alternatif (jika alergi Ceftriaxone): Cefotaxime 100 mg/kg IV atau IM dosis tunggal.
    • Tambahan: Salep mata Eritromisin 0,5% atau tetes mata Bacitracin setiap jam selama 24 jam.
  • Pada Dewasa:
    • Ceftriaxone 1 gram IM dosis tunggal.
    • Karena koinfeksi dengan Chlamydia trachomatis sering terjadi, direkomendasikan juga pemberian terapi untuk klamidia: Azithromycin 1 gram PO dosis tunggal ATAU Doxycycline 100 mg PO 2x sehari selama 7 hari.
    • Tambahan: Salep mata Eritromisin 0,5% atau tetes mata Bacitracin setiap jam.
    • Pasien harus dirujuk ke spesialis mata dan spesialis kulit & kelamin (atau urologi/ginekologi) untuk penanganan infeksi sistemik dan skrining pasangan.

Komplikasi

Tanpa penanganan yang cepat dan adekuat, konjungtivitis gonore dapat menyebabkan komplikasi serius:

  • Ulkus kornea dan perforasi kornea.
  • Pembentukan sikatrik kornea.
  • Endoftalmitis (infeksi intraokular).
  • Kebutaan permanen.
  • Pada neonatus, infeksi sistemik (sepsis, meningitis, artritis).

Edukasi dan Pencegahan

Edukasi dan pencegahan adalah kunci untuk mengurangi insidensi konjungtivitis gonore.

  • Skrining kehamilan: Ibu hamil harus diskrining untuk gonore dan IMS lainnya. Jika positif, segera diobati.
  • Profilaksis Oftalmia Neonatorum: Pemberian salep mata Eritromisin 0,5% pada semua bayi baru lahir dalam waktu satu jam setelah lahir (meskipun tidak efektif 100% terhadap gonore, namun sangat efektif untuk klamidia dan bakteri lain).
  • Edukasi kesehatan seksual: Mendorong praktik seks aman dan penggunaan kondom pada populasi dewasa.
  • Penelusuran kontak: Pasien dewasa yang terdiagnosis harus menginformasikan pasangan seksualnya untuk skrining dan pengobatan.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds